Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan tetap menghargai budaya yang berkembang di masyarakat. Jadi tidak ada istilah Muhammadiyah anti budaya. Karena itu, Muhammadiyah akan terus menghormati budaya setempat sepanjang tidak melanggar ketentuan agama.
“Lihat saja, dalam acara pembukaan AMM ini juga dimeriahkan oleh tarian dan musik yang ditampilan oleh para murid SD Muhammadiyah 1 Tulungagung,” kata Dr. Sholihul Huda, M/Fil.I, Direktur AMM PWM Jatim, dalam sambutannya pada pembukaan AMM Zona Dakwah Jaya Baya, yang digelar di Tulungagung, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, AMM ini dilaksanakan bermula dari masyarakat yang kesulitan mencari mubaligh Muhammadiyah. Padahal, SDM di Muhammadiyah sangat besar. Karena itu, AMM digelar dengan tujuan untuk memcetak mubaligh-mubaligh Muhammadiyah yang memiliki kemampuan dalam berdakwah, juga mubaligh yang moderat dan berkemajuan.
Ia menambahkan, AMM digelar secara bertahap yang akan menyasar 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Setiap daerah ditargetkan mengirimkan 10 peserta untuk dididik dan dibina. Dengan demikian, pada putaran pertama kita bisa mencetak 380 mubaligh yang siap diterjunkan ke masyarakat dimana mereka tinggal. Kita gelar terus sehingga kita bisa mencetak 1.000 mubaligh yang moderat dan berkemajuan pada akhir 2026,” jelasnya.
Menurutnya, Muhammadiyah sudah sangat eksis di bidang pendidikan, kesehatan, wakaf dan lain-lain. Pihaknya juga berharap Muhammadiyah juga menyiapkan SDM sebagai mubaligh yang unggul.
Sementara itu, Ketua Majelis Taligh PWM Jatim, KH Abdul Basith,Lc., MPd.I, mengatakan bahwa banyak mubaligh Muhammadiyah yang telah dikirim ke daerah-daerah terpencil. Dari para mubaligh ini, banyak cerita yang mengharukan.
“Pernah ada mubaligh Muhammadiyah yang telah habis masa orientasi di satu daerah dan akan pulang ke daerahnya, ditangisi oleh masyarakat setempat. Mereka menangis karena merasa tidak ada lagi tempat belajar agama jika ditinggalkan oleh mubaligh yang telah membawa masyarakat setempat ke arah peruahan yang baik,” cerita Abdul Basith.
Ia menambahkan, kita bisa saja membangun masjid yang baik, tetapi jika SDM di daerah sekitar masjid tersebut tidak memahami apa itu Islam, maka masjid itupun akan rusak karena tidak pernah dipakai. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Basith secara resmi membuka acara AMM tahap III, ditandai dengan penyerahan perlengkapan dan materi pada peserta, yang dalam hal ini diwakili oleh Dwi Cahyo, peserta dari Tulungagung. (nun)
