Inilah pesan untuk para istri di akhir Ramadan.
Sering merasa sedih, karena di sepuluh malam terakhir Ramadan, waktunya habis di dapur untuk urusan sahur, buka puasa, atau mencicil kue lebaran.
Kadang hati berbisik: “Ya Allah, kapan aku bisa iktikaf lama seperti yang lain? Kapan aku bisa khatam Al-Qur’an, kalau cucian piring nggak habis-habis?”
Bunda, ingatlah satu hal ini dalam rumah tangga Islam:
Lelahmu adalah ibadahmu. Setiap butir nasi yang disiapkan untuk suami dan anak-anak agar mereka kuat berpuasa, itu terhitung sedekah. Setiap peluh saat menyiapkan hidangan sahur di jam paling lelap, itu adalah penggugur dosa.
Rumah adalah mihrabmu. Jika tidak bisa ke masjid karena mengurus anak kecil atau melayani suami. Jadikan setiap sudut rumahmu tempat berzikir. Sambil memasak bisa bersalawat, sambil melipat baju bisa beristighfar.
Kerja sama adalah berkah.
Untuk para ayah, di hari-hari terakhir Ramadan, sempat membantu istri mencuci piring. Sedikit bantuan ayah mencuci piring atau menjaga anak agar istri bisa tilawah 15 menit saja, pahalanya dahsyat di sisi Allah.
Jangan sampai kita sibuk mengejar “penampilan” Lebaran, tapi lupa mengejar “rida” Pemilik Ramadan. Dengan begitu kita bisa lupa mengeluh, perbanyak syukur. Semoga lelahnya menjadi lillah, dan di rumah pun berbuah dapat lailatul qadar.
Barakallahu fiikum.
