Dari Kampus ke Lakemba Night Market: Ramadan di Australia ala Dosen UMM

www.majelistabligh.id -

Ramadan selalu menghadirkan pengalaman unik bagi siapa saja yang menjalaninya, terutama bagi mereka yang berada jauh dari Tanah Air. Begitu pula yang dirasakan oleh Rosalin Ismayoeng Gusdian, MA, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral di University of New South Wales (UNSW), Australia.

Meski berpuasa di negeri orang, Rosalin atau yang akrab disapa Ocha, tetap menjalani aktivitas akademiknya dengan penuh semangat. Tahun ini menjadi Ramadan keduanya di Australia, dan ia merasakan betul bagaimana menjalani ibadah puasa sembari menuntaskan penelitian dalam bidang pendidikan.

“Ibadah puasa adalah bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT. Jika kita menengok sejarah, banyak peristiwa besar terjadi saat Rasulullah saw dan para sahabat berpuasa. Hal ini menjadi motivasi saya untuk tetap produktif di bulan suci ini,” ungkap Ocha.

Saat Ramadan tiba, Ocha merasakan perubahan ritme keseharian. Dengan waktu puasa sekitar 14,5 jam, ia harus menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah dan penelitian yang padat. Menariknya, Ramadan di Australia bertepatan dengan peralihan musim dari musim panas (summer) ke musim gugur (autumn), yang membuat durasi puasa semakin pendek seiring berjalannya bulan. Suhu pun perlahan menurun mendekati musim dingin.

Tak hanya tentang waktu dan cuaca, suasana Ramadan di Australia juga memiliki daya tarik tersendiri. Salah satu yang paling dinanti adalah Lakemba Night Market, pasar takjil terbesar di Australia yang terletak di pinggiran kota Sydney. Setiap sore menjelang berbuka, pasar ini dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai latar belakang.

“Rasanya seperti di kampung halaman sendiri. Di Lakemba Night Market, kita bisa menemukan aneka takjil dan makanan khas dari berbagai negara, terutama Timur Tengah dan Asia. Ini menjadi tempat favorit umat Muslim dari berbagai komunitas, sekaligus menarik minat warga lokal Australia,” cerita Ocha dengan antusias.

Dari Kampus ke Lakemba Night Market: Ramadan di Australia ala Dosen UMM
Rosalin Ismayoeng Gusdian di kampus University of New South Wales. foto: ist

Di pasar ini, aneka sajian khas Ramadan seperti kebab, baklava, samosa, dan berbagai makanan khas Asia Tenggara bisa dengan mudah ditemukan. Tidak jarang, ia juga bertemu dengan sesama warga Indonesia yang merantau di Australia, baik yang sedang kuliah maupun yang sudah menetap di sana. Interaksi ini menjadi pengobat rindu akan suasana Ramadan di Tanah Air.

Selain menemukan pengalaman baru yang menarik, Ocha juga menghadapi tantangan berpuasa di lingkungan yang mayoritas non-Muslim. Tidak seperti di Indonesia, di mana hampir semua orang berpuasa, di Australia aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Kelas, diskusi akademik, hingga tugas penelitian tetap berlangsung tanpa ada penyesuaian jadwal.

“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyesuaikan energi saat berpuasa dengan tuntutan akademik yang cukup tinggi. Di kampus, saya sering berada dalam situasi di mana teman-teman dan kolega makan siang di sekitar saya, dan saya harus tetap fokus dengan penelitian saya. Namun, ini menjadi pelajaran tentang keteguhan dan komitmen dalam menjalankan ibadah,” jelasnya.

Selain itu, tidak adanya suara azan yang bergema seperti di Indonesia membuat suasana Ramadan terasa lebih sunyi. Ocha harus mengandalkan aplikasi pengingat waktu salat dan berbuka untuk memastikan ia tidak melewatkan ibadah di tengah kesibukannya.

Meski banyak kemudahan dalam menemukan makanan halal, Ocha tetap merindukan nuansa Ramadan di Indonesia. Tradisi seperti ngabuburit, berburu takjil khas daerah, hingga suasana sahur yang meriah dengan iringan patrol membuatnya merasa nostalgia.

Dari Kampus ke Lakemba Night Market: Ramadan di Australia ala Dosen UMM
foto: ist

“Ada banyak restoran Indonesia di Sydney yang menawarkan rasa otentik. Tapi tetap saja, tidak ada yang bisa menggantikan nikmatnya berbuka dengan ikan pindang dan sayur bening bayam di rumah,” katanya sambil tersenyum.

Dia juga mengenang momen sahur di kampung halaman, di mana warga berkeliling membangunkan orang untuk sahur dengan alat musik sederhana. “Di sini suasananya jauh lebih sepi. Tidak ada suara bedug atau anak-anak yang berteriak ‘sahur… sahur!’. Saya benar-benar merindukan momen itu,” tambahnya.

Namun, di balik semua itu, Ocha tetap bersyukur bisa merasakan Ramadan di lingkungan yang berbeda. Ia merasa Ramadan di Australia justru memberinya pengalaman spiritual yang lebih mendalam. Dengan minimnya suasana khas Ramadan seperti di Indonesia, ia belajar untuk lebih fokus pada esensi ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Di tengah rasa rindu, Ocha bersyukur bisa menjalani Ramadan dengan pengalaman akademik dan sosial yang luar biasa di Australia. Baginya, Ramadan bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi juga momen untuk terus belajar dan memperluas wawasan, baik dalam bidang pendidikan maupun kehidupan.

“Meskipun jauh dari tanah air, saya merasa dekat dengan komunitas Muslim di sini. Ramadan di Australia mengajarkan saya tentang keberagaman, kebersamaan, dan tentunya keteguhan dalam menjalani ibadah,” tutupnya.

Bulan suci ini memang selalu menghadirkan kisah istimewa bagi setiap insan, tak terkecuali bagi mereka yang menapaki jalan ilmu di negeri orang. (*/wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search