Dulu, ia tidur beralas kardus dan nyaris tersesat dalam pencarian pesugihan demi keluar dari kemiskinan. Kini, ia menebar rasa dan keberkahan lewat dua restoran laris di Madinah, dengan omzet mencapai Rp 1,3 miliar per bulan.
Dari dapur sempit warteg di kampung halamannya hingga panggung kuliner Tanah Suci, inilah kisah lelaki yang tak pernah menyerah pada takdir—dan justru menjadikannya tangga menuju surga.
Namanya Mohammad Sarwono Thoyyibi Al Akhir, lebih dikenal sebagai Abah Umar. Seorang perantau asal Cilacap, kini berusia 51 tahun, yang berhasil mengibarkan panji kuliner Indonesia di jantung Madinah.
Afifun Nidlom, redaktur pelaksana Majelistabligh.id, sempat berkunjung ke dua restoran miliknya. Satu berlokasi tak jauh dari Masjid Nabawi, satu lagi berdiri di kaki Jabal Uhud.
Begitu memasuki Medina Asian Restaurant, aroma khas masakan Indonesia langsung menyeruak. Di balik dapur terbuka, tampak seorang pria paruh baya mengenakan batik cokelat dan topi koki putih tinggi. Tangannya cekatan memotong, mencicipi, dan memberi instruksi kepada para pegawai tentang hidangan yang akan disajikan kepada tamu. Mulai dari bakso, pisang tanduk crispy, hingga rendang.
Di restoran berkonsep indoor itu, dinding-dindingnya dipenuhi foto Abah Umar bersama pejabat dan publik figur ternama. Dari Raffi Ahmad, Nagita Slavina, hingga Panglima TNI Agus Subiyanto. Meski sudah mapan dengan belasan cabang restoran di Arab Saudi, Abah Umar tetap cekatan turun langsung ke dapur, membuktikan bahwa passion memasaknya tak pernah luntur.
Restoran itu punya dua ruang utama. Satu ruangan dipenuhi meja-meja kecil yang bisa digunakan untuk makan bersama empat orang. Di ruangan lain, terdapat meja panjang dan kursi-kursi yang bisa menampung rombongan besar, sering dipakai untuk makan bersama atau acara khusus.
“Dulu saya tidur di kolong jembatan,” ucap Abah Umar, sambil tersenyum lebar saat mengenang masa lalunya. Pria dengan alis tebal dan jenggot yang mulai memutih itu mengaku belasan tahun hidupnya dihabiskan sebagai perantau tanpa arah.
Perjalanan panjangnya di dunia kuliner dimulai jauh sebelum merantau ke Arab Saudi. Umar kali pertama mengenal dunia kuliner saat era booming warteg di Jakarta pada 1989-an. Kala itu, Umar remaja yang hidup serba kekurangan bekerja membantu di warteg-warteg sederhana, tidur di kolong warung dengan penghasilan tak lebih dari Rp 30 ribu sebulan uang sekarang.
Meski awalnya hanya membantu-bantu, dia mulai mengamati cara memasak, menyajikan makanan, dan melayani pelanggan. Dari sana, perlahan tumbuh minatnya untuk belajar lebih dalam. Namun, dunia warteg belum berpihak kepadanya. Pendapatannya yang kecil, membuatnya hidup dalam kekurangan. Padahal, dia punya mimpi seperti kebanyakan orang di Jakarta. Sukses, dan kaya.
Pria kelahiran 18 Agustus 1974 mengaku pernah mengais rezeki dari belas kasih orang, tidur beralaskan kardus, makan seadanya, bahkan sempat tergoda mencari ilmu pesugihan di Banten pada 1997-an. Itu semua dilakukan demi ingin kaya. “Saking miskinnya, sampai dikira orang gila,” ingatnya.
Tapi upaya mencari jalan singkat itu gagal. Setelah menunggu beberapa waktu di Banten, orang pintar yang disebut bisa memerikan pesugihan meninggal dunia. Berhari-hari dia terlunta-lunta di Banten. “Mungkin Allah masih sayang sama saya. Masih kasih kesempatan,” ujarnya pelan.
Suatu hari, dia lantas bertemu dengan seorang guru agama yang mengajaknya nyantri. Gurunya bilang ke Umar muda bahwa dia tidak akan pernah kaya lewat pesugihan. Kalau mau berhasil, harus mengubah diri jadi lebih baik dulu. Supaya siap diberi tanggung jawab materi oleh Allah SWT. Belajar agama itu menjadi pondasi penting bagi perjalanan hidupnya kelak.
Abah Umar ingat betul, salah satu yang diubah dari hidupnya adalah mencari aktivitas yang lebih bermanfaat. Termasuk, nongkrong-nongkrong yang tidak menghasilkan ilmu. “Kalau keluar rumah bukan untuk manfaat, tinggalin saja,” ucapnya sambil tersenyum.
Ketekunan belajar agama dan tetap berkecimpung di kuliner itu akhirnya membuahkan hasil. Ekonominya mulai membaik ketika dia bekerja di restoran Jakarta. Kemampuannya dalam memasak juga makin meningkat. Hingga pada 2011, dia ikut masterchef Indonesia season 1 meski tidak dilanjutkan hingga selesai.

Tidak berhenti di situ, Abah Umar juga berani untuk merantau ke luar negeri. Pengalaman merantau membawanya hingga ke Singapura, Abu Dhabi, dan masuk ke Arab Saudi pada 2014. Dia pernah di Makkah, dan kini Madinah. Kini, Abah Umar punya enam restoran di Makkah, Riyadh, dan Madinah.
Khusus untuk Medina Asian Restaurant, ada dua. Cabang dekat Masjid Nabawi, belum genap satu tahun. Menunya berat: rendang, ayam pop, bakso, hingga signature dish andalannya, pisang tanduk crispy. Pisang tanduknya khusus diimpor dari India, sementara bumbu-bumbu khas Indonesia dia upayakan langsung dari Tanah Air, entah dikirim khusus atau dititip lewat teman yang berangkat haji atau umrah.
Cabang lain yang lebih dulu dibangunnya, terletak di bukit Uhud yang bersejarah itu. Tepatnya, di seberang Masjid Syuhada Uhud. Di sana, selain masakan berat, tersedia menu untuk menemani nongkrong seperti martabak manis atau kue terang bulan. Dan yang mengejutkan, Abah Umar juga jago membuat kue ulang tahun hingga dessert.
Siapa sangka seorang Umar yang dulu pernah tidur di kolong warung dan makan dari pemberian orang, kini mengelola bisnis kuliner dengan omset luar biasa. Menurut pengakuannya, restorannya di Madinah kini bisa menghasilkan sekitar SAR 300 ribu per bulan. Kalau dikonversi, itu setara dengan Rp 1,3 miliar. Angka yang mungkin dulu tak pernah ia bayangkan saat pertama belajar memasak di warteg.
Kesuksesan ini tak membuat Abah Umar jumawa. Justru, dia semakin giat berbagi. “Saya dulu nggak punya apa-apa. Jadi saya tahu rasanya,” katanya, matanya berkaca-kaca.
Restorannya sering jadi tempat makan gratis bagi orang Indonesia yang sedang kesulitan di Madinah. Bagi Umar, kekayaan sejati bukan sekadar soal omset besar, tapi tentang seberapa banyak manfaat yang bisa ia salurkan kepada sesama. Selain di Madinah, dia juga punya bisnis Pisang Goreng Tanduk Crispy di Bintaro yang kini berkembang hingga 26 outlet.
Dengan kesuksesannya kini, Abah Umar mengaku tak lagi pernah meminta kekayaan dalam doanya. Beralih ke keberkahan atas apa yang dicapainya.
Bagi Abah Umar, sukses bukanlah garis akhir. Setelah puluhan tahun berjuang dari nol, dari tidur di kolong jembatan hingga memiliki banyak restoran di Arab Saudi, dia justru semakin terdorong memikirkan kontribusi yang lebih luas.
Salah satu impian terbesarnya saat ini adalah menjadi bagian dari penyedia katering haji untuk jamaah Indonesia. “Masalah terbesar jamaah itu di makanan,” katanya tegas.
Dia telah mengamati sendiri seluk-beluk dapur katering haji, mencatat kekurangan-kekurangannya, dan memimpikan bisa terlibat agar jamaah tanah air mendapat makanan yang lebih layak, lebih nikmat, dan lebih manusiawi.
“Saya ingin bikin dapur sendiri, mudah-mudahan terlaksana,” ujarnya dengan semangat, matanya berbinar.
Saat ditanya apa mimpinya, Abah Umar tidak menyebut membuka 100 cabang restoran atau punya jaringan internasional. Dia punya dua keingan. Pertama, memboyong keluarganya ke Madinah. Kedua, ingin meninggal di Madinah, dekat Rasulullah.
“Saya ingin wafat di sini,” ucapnya lirih. Air matanya menetes. Bagi dia, Madinah kini bukan sekadar tempat berbisnis, tapi rumah untuk pulang. Tempat dia ingin menutup hidup yang panjang, penuh luka, penuh sabar, penuh syukur. (afifun nidlom)
