Berawal dari kegelisahan melihat limbah kayu berserakan tak berguna, Sigit Satria Raharja, alumnus Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), berhasil menyulapnya menjadi bisnis furnitur custom bernama Goedang Kayu.
Bermula dari proyek pribadi saat kuliah, usaha ini kini menjelma menjadi produsen furnitur bernilai tinggi dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.
Berbasis di Yogyakarta, Goedang Kayu fokus memproduksi berbagai furnitur custom seperti meja, lemari, kitchen set, serta interior rumah dan kantor, dengan sistem pemesanan pre-order.
Menurut Sigit, keunggulan utama usahanya terletak pada fleksibilitas desain yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, berbeda dari produk pabrikan yang memiliki ukuran standar.
“Seringkali konsumen kesulitan menemukan furnitur dengan ukuran yang sesuai di pasaran. Di sinilah Goedang Kayu hadir, memberikan solusi desain yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan estetika masing-masing pelanggan,” ungkap Sigit seperti dilansir di laman resmi UMY, pada Kamis (3/7/2025).
Saat ini, Goedang Kayu telah mempekerjakan empat tenaga kerja dan melayani berbagai segmen pasar, mulai dari rumah tangga, kantor swasta, hingga kafe dan restoran.
Dari sisi material, mereka menawarkan beragam pilihan mulai dari kayu jati hingga finishing HPL. Harga yang ditawarkan pun kompetitif, sebanding dengan kualitas pengerjaan dan daya tahan produk.
Transformasi Goedang Kayu dari produsen kerajinan tangan untuk hadiah wisuda menjadi penyedia furnitur dimulai pada masa pandemi Covid-19.
Saat itu, permintaan terhadap produk souvenir menurun drastis akibat pembatalan berbagai acara seremonial. Momen ini menjadi titik balik bagi Sigit untuk mengalihkan fokus ke furnitur. Sebuah keputusan yang terbukti tepat.
“Tantangan terberat waktu itu saat pandemi. Tidak ada wisuda, tidak ada pesanan. Kami harus cepat beradaptasi. Akhirnya kami beralih ke furnitur, dan ternyata itu membuka peluang baru,” kenangnya.
Kesuksesan Goedang Kayu tak lepas dari dukungan kampus. Saat masih berstatus mahasiswa, Sigit mendapatkan pembiayaan hingga Rp 22 juta dari program kewirausahaan kampus dan Kementerian, termasuk dari Student Entrepreneurship and Business Incubator (SEBI) UMY. Dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan dan bahan produksi.
Pada puncaknya, Goedang Kayu pernah mencatat omzet hingga Rp100 juta dalam satu bulan, terutama saat permintaan meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran.
Meski saat ini masih fokus melayani area Yogyakarta karena keterbatasan logistik dan ukuran produk, Sigit tidak menutup kemungkinan untuk berekspansi ke wilayah lain.
Dia juga berencana membangun ruang display agar calon konsumen dapat melihat langsung kualitas produk sebelum melakukan pemesanan.
Kepada mahasiswa dan alumni yang ingin membangun usaha, Sigit berpesan agar memanfaatkan masa kuliah sebagai momen eksplorasi potensi dan pengembangan ide bisnis.
Menurutnya, UMY memberikan banyak dukungan bagi mahasiswa yang ingin berinovasi dan berkarya.
“Setelah lulus, kita harus benar-benar mengandalkan diri sendiri. Maka manfaatkan waktu selama kuliah sebaik mungkin. Peluangnya banyak, dan dukungan dari kampus luar biasa,” pungkasnya. (*/wh)
