Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berhasil mengubah wajah kelompok pemulung di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi pelaku usaha pengelolaan sampah yang terorganisir dan berkelanjutan.
Kelompok dampingan yang diberi nama Mardiko kini menjadi sorotan banyak pihak karena sukses melakukan transformasi sosial dan ekonomi secara signifikan.
Perubahan besar ini mengundang perhatian sejumlah organisasi, termasuk Sekretariat Badan Kerjasama Organisasi Wanita DIY.
Pada Senin (14 /4/2025), organisasi tersebut melakukan kunjungan langsung ke lokasi aktivitas kelompok Mardiko di wilayah Piyungan, Bantul.
Dalam kunjungan tersebut, mereka tidak hanya berdialog dan menyaksikan proses pengelolaan sampah yang dilakukan kelompok, tetapi juga menyerahkan bantuan bagi para anggota Mardiko sebagai bentuk dukungan nyata.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian luas dari berbagai pihak terhadap program transformasi yang sedang mereka jalankan. I
“Perubahan yang dilakukan terhadap kelompok Mardiko tidak hanya bersifat teknis tetapi juga filosofis. Nama Mardiko yang sebelumnya merupakan akronim dari Makaryo Adhi Ngayogyokarto, kini diperbarui menjadi Makaryo Adhi Katon, yang bermakna lebih inklusif dan terbuka,” jelas Yamin.
Perjalanan kelompok Mardiko sendiri cukup panjang. Sebelum Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan ditutup oleh pemerintah, kelompok ini beranggotakan sekitar 500 orang.
Mereka berasal tidak hanya dari wilayah DIY, tetapi juga dari berbagai daerah lain di luar Yogyakarta. Namun, setelah penutupan TPST tersebut, jumlah anggota menyusut menjadi sekitar 150 orang. Meskipun demikian, semangat mereka tidak surut.
Yamin menegaskan, pendekatan pemberdayaan yang dilakukan oleh MPM bersifat inklusif, terbuka untuk semua gender. Saat ini, anggota Mardiko terdiri dari laki-laki maupun perempuan.
Mereka bersama-sama menjalani pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas, dari sekadar pemulung menjadi pengelola sampah yang memiliki keterampilan dan wawasan kewirausahaan.
“Transformasi yang kami dorong bukan hanya perubahan aktivitas, tetapi juga perubahan mentalitas. Dari pemulung menjadi pelaku usaha pengolahan sampah, dari individu yang bergantung pada sistem, kini mereka sudah memiliki koperasi berbadan hukum dan berwirausaha secara kolektif,” ungkap Yamin.
Kini, kelompok Mardiko tidak lagi sekadar mengumpulkan sampah, tetapi juga mengolahnya secara sistematis di rumah produksi yang mereka bangun sendiri. Sampah rumah tangga dan institusi yang mereka terima setiap harinya—berkisar antara empat hingga lima ton—diproses menjadi produk yang memiliki nilai jual dan manfaat lingkungan.
Sampah organik mereka manfaatkan untuk budidaya maggot. Maggot tersebut kemudian dijadikan pakan bagi ayam petelur yang juga diternakkan oleh kelompok.
Sementara itu, sampah non-organik dipilah dan dijual kembali. Bahkan, residu pembakaran yang biasanya tidak termanfaatkan, ke depan akan dijadikan bahan untuk membuat conblock, campuran aspal jalan, atau material estetika untuk halaman rumah.
Rumah produksi yang dimiliki Mardiko tidak hanya berfungsi secara ekonomi. Yamin menyebut bahwa tempat ini juga menjadi sarana edukasi, pengembangan sosial, serta laboratorium lapangan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA).
Di tempat tersebut, mahasiswa dan akademisi dapat belajar langsung mengenai pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, dan penerapan ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Ketua kelompok Mardiko, Maryono, menambahkan bahwa mereka telah mengembangkan merek TelorMoe untuk produk telur ayam petelur hasil ternak mereka. “Ayam-ayam tersebut diberi pakan maggot, yang menjadikan telur mereka lebih sehat dan alami,” katanya.
Dia juga menekankan bahwa seluruh sampah yang masuk ke rumah produksi akan diproses hingga tidak menyisakan limbah yang tidak termanfaatkan.
Produk organik dari sampah dibagi menjadi tiga jenis: pertama, untuk pembuatan kompos; kedua, sebagai pakan maggot; dan ketiga, untuk produksi eco-enzim yang dapat digunakan sebagai cairan pembersih alami atau pupuk cair.
“Inovasi terbaru dari MPM adalah pengembangan peternakan ayam petelur yang dinilai sangat potensial untuk mendongkrak ekonomi kelompok secara berkelanjutan,” terang Maryono.
Kunjungan dari Sekretariat Badan Kerjasama Organisasi Wanita DIY tidak hanya menjadi bentuk penghargaan, tetapi juga menjadi titik awal potensi kolaborasi lanjutan.
Siti Azizah, yang hadir sebagai perwakilan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kartini 2025 DIY, mengungkapkan rasa kagumnya atas transformasi yang dilakukan oleh MPM. Ia mengapresiasi pendekatan pemberdayaan inklusif yang dijalankan Muhammadiyah, di mana perempuan juga diberi ruang besar untuk berperan.
“Langkah-langkah transformasi sosial berbasis lingkungan ini sangat relevan dengan semangat pemberdayaan perempuan. Harapannya, dari pertemuan ini akan lahir kerja sama yang lebih erat antara organisasi perempuan di DIY dengan MPM Muhammadiyah,” ujar Azizah.
Transformasi yang dilakukan oleh kelompok Mardiko adalah contoh nyata bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal, inovasi, dan nilai keislaman bisa menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Muhammadiyah melalui MPM membuktikan bahwa pemulung pun bisa naik kelas menjadi pengusaha yang berdaya dan bermartabat. (*/wh)
