Dinamika pemikiran keagamaan di lingkungan Muhammadiyah kembali menjadi perhatian publik. Associate Professor Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I., meluncurkan buku terbarunya berjudul “Darurat Salafisme di Muhammadiyah” dalam rangkaian Pengajian Ramadan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur pada 21–22 Februari 2026 di Universitas Muhammadiyah Jember.
Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari forum tahunan yang dihadiri ratusan pimpinan dan kader Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Momentum ini dinilai strategis untuk memperkuat refleksi ideologis sekaligus konsolidasi pemikiran keagamaan di tubuh persyarikatan.
Sholikh yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur serta Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menyebut buku ini lahir dari kegelisahan akademik sekaligus tanggung jawab ideologis. Dia menilai, terdapat tantangan serius berupa penetrasi paham salafi yang berpotensi menggeser karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam moderat dan berkemajuan.
“Buku ini merupakan ikhtiar menjaga ideologi Muhammadiyah yang moderat dan berkemajuan dari pengaruh ideologi salafi yang cenderung tekstual dan eksklusif,” ujarnya.
Menurut dia, sejak awal berdiri Muhammadiyah mengusung misi tajdid (pembaruan) yang berorientasi pada kemajuan, rasionalitas, serta keberpihakan pada kemaslahatan umat. Manhaj beragama Muhammadiyah berpijak pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, bersifat moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam buku tersebut, Sholikh mengurai perbedaan mendasar antara manhaj Muhammadiyah dan pendekatan salafisme, terutama dalam memahami teks keagamaan dan merespons realitas sosial. Pendekatan yang rigid dan skripturalis, menurutnya, berpotensi mengikis tradisi ijtihad dan pembaruan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Wakil Ketua PWM Jawa Timur KH. Dr. Sholihin Fanani, M.MP., menyambut positif terbitnya buku tersebut. Dia menilai karya Sholikh relevan dibaca para aktivis Muhammadiyah di tengah derasnya arus pemikiran keagamaan.
“Buku Darurat Salafisme di Muhammadiyah ini sangat bagus dan inspiratif. Perlu dibaca para aktivis Muhammadiyah agar memahami potensi bahaya salafisme di lingkungan persyarikatan,” ujarnya.
Menurut Sholihin, penguatan ideologi dan pemahaman manhaj Muhammadiyah menjadi kebutuhan mendesak. Apalagi, tantangan dakwah ke depan semakin kompleks seiring berkembangnya media sosial dan beragam gerakan keagamaan transnasional.
Dia berharap buku tersebut mampu membangkitkan kembali semangat kader dalam memahami dan mengamalkan Islam berkemajuan. “Kader harus kokoh secara ideologis, cerdas secara intelektual, dan arif dalam berdakwah,” tambahnya.
Buku ini tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga menawarkan langkah strategis. Di antaranya, penguatan kaderisasi, peningkatan literasi ideologi, serta revitalisasi peran Majelis Tabligh dalam membumikan manhaj tarjih Muhammadiyah di tengah masyarakat.
“Ini bukan soal memusuhi kelompok tertentu, melainkan menjaga kemurnian manhaj dan identitas gerakan. Muhammadiyah harus tetap menjadi rumah besar Islam yang mencerahkan dan memajukan,” tegas Sholikh.
Dengan terbitnya buku tersebut, diskursus tentang arah ideologi dan masa depan Muhammadiyah diperkirakan semakin dinamis. Momentum Pengajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Jember pun diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi ideologis bagi warga Muhammadiyah Jawa Timur. || Dr. Sholikh Al Huda
