Dekan FK UMS Ungkap 4 Strategi Kepemimpinan Kedokteran saat Kunjungi Umsida

www.majelistabligh.id -

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FK Umsida) menggelar sebuah seminar kepemimpinan bertajuk “Membangun FK yang Unggul dan Berdaya Saing Global” pada Senin (14/4/2025).

Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Government Kampus 1 Umsida dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FK Umsida dalam meningkatkan mutu serta daya saing pendidikan kedokteran di era globalisasi.

Seminar ini menghadirkan narasumber istimewa, yakni Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, Sp.KK, M.Kes, Sp.DVE, Dipl. STD-HIV/AIDS, FINSDV, FAADV, yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kehadiran beliau memberikan warna dan semangat baru bagi para peserta, terutama para dosen dan tenaga kependidikan dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Umsida, yang hadir dengan antusias untuk menyimak materi dan berbagi inspirasi.

Dalam pemaparannya, Flora menekankan tiga tema besar yang menjadi landasan penting dalam transformasi pendidikan kedokteran di Indonesia:

1. Kepemimpinan Transformatif dalam Dunia Kedokteran,
2. Peningkatan Daya Saing Fakultas di Tingkat Nasional dan Internasional, serta
3. Manajemen Sumber Daya Manusia dan Inovasi Pendidikan Kedokteran.

Seminar ini tidak hanya bertujuan memberikan wawasan teoretis, tetapi juga membangkitkan semangat perubahan di kalangan akademisi, agar FK Umsida dapat mencetak lulusan yang unggul dan siap bersaing di kancah global.

Menurut Dr. Flora, dalam menghadapi tantangan global, dunia pendidikan kedokteran harus terus bergerak maju. Tidak cukup hanya merasa puas bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, atau berharap besok akan lebih baik dari hari ini.

“Kita harus mengukur posisi kita secara objektif di tingkat nasional. Berapa jauh kita tertinggal atau unggul dibanding fakultas kedokteran lain? Ini penting untuk dievaluasi,” tegasnya.

Dekan FK UMS Ungkap 4 Strategi Kepemimpinan Kedokteran saat Kunjungi Umsida
foto: humas umsida

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Flora membagikan empat strategi utama yang menurutnya sangat relevan untuk diterapkan di lingkungan FK dan FKG:

1. Penerapan Kurikulum Adaptif Berbasis Kompetensi dan Teknologi
Strategi pertama adalah pembaruan kurikulum yang tidak hanya menyesuaikan dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI 2012), tetapi juga mengintegrasikan pendekatan blended learning yang memadukan metode pembelajaran daring dan luring. Dengan cara ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan menyeluruh.

2. Penguatan Karakter, Etika, dan Nilai Keislaman
Aspek kedua adalah pentingnya membangun karakter mahasiswa dan civitas akademika melalui nilai-nilai keislaman. Di FK UMS, salah satu program unggulan adalah salat tahajud bersama antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Kegiatan ini menjadi sarana membentuk kesadaran spiritual dan etika profesi yang kuat. Selain itu, pendekatan keislaman juga diterapkan dalam berbagai model pengajaran, disesuaikan dengan peran keluarga dan nilai-nilai islami.

3. Peningkatan Kapasitas Dosen dan Penguatan Kolaborasi Riset
Dr. Flora menekankan pentingnya mengenali keunggulan individu dalam tim. Dosen yang memiliki potensi besar dalam bidang riset harus diberikan ruang untuk fokus dan berkembang di bidang tersebut.

“Kita bisa membuat semacam riset camp agar mereka bisa lebih fokus dan produktif,” ungkapnya. Selain itu, kolaborasi riset, baik nasional maupun internasional, menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas akademik.

4. Digitalisasi dan Inovasi Media dalam Pendidikan
Dunia kedokteran tak bisa lepas dari kemajuan teknologi. Pemanfaatan media digital, termasuk media sosial, tidak hanya membantu dalam proses pembelajaran tetapi juga dalam membangun citra fakultas di mata publik.

“Media merupakan sarana penting untuk menyampaikan informasi dan menjangkau masyarakat luas secara efektif,” katanta.

Flora juga menyinggung pentingnya strategi internasionalisasi. Bentuknya bisa berupa pertukaran mahasiswa, visiting lecturer, kolaborasi riset lintas negara, hingga kerja sama pengabdian masyarakat (PkM) dengan universitas mitra di luar negeri.

“Tidak perlu langsung besar dan luas cakupannya. Mulailah dari yang kecil namun konsisten. Maka dari situ akan tumbuh jaringan kemitraan global yang kuat,” jelasnya.

Selain memaparkan strategi, Dr. Flora juga mengajak peserta untuk memahami karakteristik seorang pemimpin transformatif, yang menurutnya sangat dibutuhkan dalam konteks pendidikan kedokteran. Ia merinci empat karakter penting yang harus dimiliki oleh pemimpin di lingkungan akademik:

1. Visi yang Jelas dan Komunikatif
Seorang pemimpin harus memiliki visi yang tajam dan mampu menyampaikannya dengan baik kepada tim. Rapat rutin dan komunikasi terbuka sangat penting untuk membangun hubungan kerja yang kuat dan produktif.

2. Kemampuan Memotivasi
Pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu membangkitkan semangat dan memberi dorongan kepada timnya. “Kitalah yang memegang kontrol semangat dalam organisasi,” kata Flora.

3. Memberikan Perhatian pada Individu
Perhatian kecil seperti merayakan ulang tahun atau mengapresiasi capaian anggota tim bisa berdampak besar dalam membangun kedekatan emosional dan kenyamanan kerja. Mendengarkan aspirasi dan kebutuhan rekan kerja juga menjadi bagian dari gaya kepemimpinan yang empatik.

4. Stimulasi Intelektual
Pemimpin juga dituntut untuk mendorong anggotanya berpikir kritis, berinovasi, dan aktif dalam memecahkan masalah. Bahkan, keterlibatan mahasiswa dalam proyek-proyek pengembangan juga dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap institusi.

Seminar kepemimpinan yang diselenggarakan oleh FK Umsida ini bukan hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang refleksi dan transformasi. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search