Demi Haji Bersama Istri, Petani Lansia Ini Jual Sapi dan Lawan Stroke

www.majelistabligh.id -

Di balik keriput wajah dan tubuh renta Subaini, tersimpan tekad baja yang tak lekang oleh waktu. Pria 73 tahun asal Desa Jatidowo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung itu meneteskan air mata. Bukan karena duka, tetapi karena bahagia yang tak terlukiskan. Tangannya yang sudah melemah karena stroke setahun silam, berulang kali mengusap air mata haru.

Hari itu, mimpinya selama lebih dari satu dekade akhirnya menjadi kenyataan. Dia akan berangkat menunaikan ibadah haji bersama sang istri tercinta.

Subaini bukan siapa-siapa di mata dunia. Dia hanyalah seorang petani sederhana yang hidup bersahaja di pelosok Tulungagung. Selain bertani, ia juga mengabdikan dirinya sebagai guru ngaji di kampung. Tapi justru dari kesederhanaan itulah, kisahnya menjadi istimewa.

Ditemui Afifun Nidlom, redaktur pelaksana Majelistabligh.id di Madinah, pada Jumat (3/5/2025), Subaini mencerikan kisahnya. Sekira tahun 2012, kala itu, kehidupan ekonomi Subaini masih jauh dari kata layak. Anak-anaknya masih duduk di bangku sekolah dan belum bisa membantu menopang keuangan keluarga. Namun, ada satu mimpi yang ia simpan rapat dalam hatinya: menunaikan rukun Islam kelima, naik haji ke Tanah Suci.

Dengan segala keterbatasan, dia nekat mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Tak ada tabungan besar, tak ada sumber dana tetap. Yang ia miliki hanyalah tekad dan seekor sapi.

“Ekonomi saya susah, anak-anak belum ada yang mentas sekolah, saya tekad daftar haji, itu pun dengan jual sapi,” tuturnya, saat suara lirihnya menggantung bersama embun pagi yang mulai mengering di pipinya.

Perjuangan Subaini tak berhenti di situ. Lima tahun kemudian, tahun 2017, ia mengikuti ziarah ke rumah seorang tetangga yang baru pulang dari haji. Di sanalah ia mendengar kabar yang mengubah arah hidupnya. Bila sang istri mendaftar juga, maka bisa menyertainya sebagai pendamping haji.

Sinar harapan kembali menyala dalam diri Subaini. Sepulang dari ziarah, ia tak berpikir panjang. Tabungan yang dikumpulkan dari hasil bertani—dengan peluh dan doa—dia alihkan seluruhnya untuk mendaftarkan sang istri, Sulikah.

Subaini tak ingin berjalan sendiri di Tanah Suci. Perjalanan spiritual ini terlalu suci jika tidak disertai oleh belahan jiwanya. “Kalau saya naik haji sendiri, rasanya kok kurang lengkap. Saya ingin bisa ibadah bersama istri,” ujar Subaini.

Makin dekat dengan jadwal keberangkatan, makin besar pula beban yang harus ditanggung. Biaya pelunasan Ongkos Naik Haji (ONH) bukan angka kecil. Namun, bagi Subaini, tak ada harga yang terlalu mahal untuk menuju Baitullah.

Dia kembali menjual ternak. Tiga ekor sapi sekaligus. Dari hasil penjualan itu, ia mengumpulkan Rp 56 juta. Uang itu sebagian besar dia gunakan untuk melunasi biaya haji. Sisanya untuk bekal selama di Tanah Suci.

Demi Haji Bersama Istri, Petani Lansia Ini Jual Sapi dan Lawan Stroke
Sulikah, istri Subaini. foto: afifun nidlom/majelistabligh.id

“Sebagian untuk pelunasan, sisanya buat bekal,” katanya ringan. Tapi di balik kalimat sederhana itu, tersimpan puluhan tahun kerja keras dan kesabaran seorang suami, seorang petani, dan seorang hamba Allah yang setia menjemput panggilan Ilahi.

Jumat, 2 Mei 2025, menjadi hari yang tak akan pernah ia lupakan. Dengan langkah pelan, tubuhnya yang setengah lumpuh menyusuri bandara. Di sampingnya, Sulikah menggenggam erat tangan sang suami. Mereka bukan hanya pasangan hidup, tapi kini juga menjadi pasangan ibadah dalam perjalanan spiritual ke Tanah Suci.

Subaini tak pernah menyangka bahwa perjuangannya—yang dimulai dari menjual sapi, menabung dari hasil tani, hingga mengalahkan penyakit stroke—akan berakhir indah di pelataran Ka’bah.

Dan dari Tanah Air, ribuan orang mendoakan. Bukan hanya karena Subaini telah menunaikan haji, tapi karena dia telah menunjukkan pada dunia bahwa kesungguhan hati tak kenal usia, dan cinta sejati tak mengenal batas kemampuan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search