Demi Tamu Allah, Irjen Khairunas Gendong Jemaah Stroke di Tengah Debu dan Terik

www.majelistabligh.id -

Terik siang di Kota Makkah begitu menyengat, jarum jam menunjukkan pukul 12.20 Waktu Arab Saudi. Di bawah matahari yang memancarkan suhu hingga 42 derajat Celsius, aroma debu gurun bercampur napas kelelahan jemaah yang baru menyelesaikan nafar awal dari Mina.

Suasana padat, hiruk-pikuk kendaraan dan jemaah berdesakan menandai kembalinya lautan manusia ke pemondokan masing-masing.

Di antara keramaian dan panas yang membakar, sebuah pemandangan mencuri perhatian: seorang lelaki berseragam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dengan tulisan “Inspektorat Jenderal Kemenag” di punggungnya tampak berlari kecil menyeberang jalan.

Di pelukannya, seorang jemaah lansia yang lemah tak berdaya. Lelaki itu adalah Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI, Khairunas.

Dia tidak sedang melakukan seremoni atau inspeksi formal. Dia memeluk penuh cinta seorang jemaah yang kebingungan, tak mampu berjalan karena kondisi stroke, setelah diturunkan oleh bus di hotel yang bukan tempatnya menginap.

“Saya sebenarnya dalam kondisi yang kurang fit juga, masih minum obat. Tapi saya tidak tega melihat jemaah tidak bisa jalan dan mau menyeberang jalan, habis diturunkan oleh bus dari Mina di hotel yang bukan tempat dia menginap,” ungkap Khairunas, dengan suara lelah namun penuh keprihatinan.

Apa yang dilakukan Irjen Khairunas bukan hanya tugas birokratis. Ini adalah wujud cinta dan tanggung jawab moral terhadap para tamu Allah yang diamanahkan negara kepadanya.

Dalam kondisi tubuh yang belum pulih, ia tetap turun tangan. Bukan hanya memantau dari kejauhan, tetapi benar-benar menyingsingkan lengan baju, menyapa, menggendong, dan mengantar dengan kasih.

“Saya tetap memantau pergerakan jemaah haji, dengan harapan dapat terlayani dengan baik semuanya. Ini ikhtiar untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan jemaah haji Indonesia,” ujarnya dengan mata teduh.

Di tengah sistem dan prosedur, masih ada ruang besar untuk ketulusan dan kasih sayang. Kisah Khairunas mengingatkan kita bahwa melayani tamu Allah bukan sekadar rutinitas kerja, tapi ladang amal dan ujian keikhlasan.

Namun dari kisah itu, terselip pula keprihatinan mendalam. Menurut Khairunas, tindakan syarikah (mitra penyedia transportasi) yang menurunkan jemaah sembarangan tanpa memperhatikan kondisi fisik dan lokasi hotel adalah bentuk kelalaian serius.

“Ini menjadi catatan kinerja syarikah yang tidak memerdulikan kondisi jemaah haji saat menurunkan jemaah dari Mina,” jelasnya saat ditemui di kawasan Misfalah, Makkah.

Baginya, kisah seorang jemaah yang kebingungan karena diturunkan di tempat yang salah tidak boleh dianggap remeh. Ini menyangkut martabat dan keselamatan para tamu Allah yang telah menempuh perjalanan panjang penuh pengorbanan.

“Ke depan akan menjadi rekomendasi kami. Tindakan syarikah yang menurunkan jemaah tanpa memperhatikan kondisi fisik dan lokasi pemondokan sangat disayangkan. Ini akan kami jadikan bahan evaluasi terhadap syarikah yang tidak kooperatif dengan PPIH Arab Saudi,” tegas Irjen Khairunas.

Di tengah gelombang manusia yang mencari rida Ilahi, ada pelajaran tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Kisah Irjen Khairunas menggendong jemaah bukan hanya kisah pribadi, tapi potret bahwa dalam dunia yang sibuk, masih ada mereka yang memilih untuk peduli.

Di bawah langit panas Makkah, di antara batu-batu sejarah dan langkah-langkah zikir, ketulusan selalu menemukan jalannya. Semoga keteladanan seperti ini menginspirasi siapa pun yang diberi amanah untuk melayani para tamu Allah. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search