Sebuah tradisi unik dari Kampung Jawa di Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Seminggu setelah lebaran, semua warga sekampung memasak berbagai menu, membuka pintu rumah, dan menyambut siapapun yang datang, baik kenal maupun tidak kenal. Mengajak makan bersama seperti saudara.
Suasana seperti ini bukan sekadar kebiasaan tahunan. Sebuah cara masyarakat menjaga persaudaraan dengan nasi yang mengepul, ketupat yang tersusun rapi, dan senyum yang tak bertanya, “Anda siapa?” Orang datang bukan karena undangan, melainkan karena yakin akan diterima.
Kampung Jawa Yosonegoro ini menyimpan jejak sejarah percampuran budaya. Warga yang mendiami kawasan ini hampir semuanya berasal dari keluarga transmigran Jawa, khususnya dari Jawa Timur, seperti Jombang, Mojokerto, Nganjuk dan lain-lain. Mereka datang puluhan tahun silam untuk membangun hidup baru di tanah Gorontalo.
Salah satu penelitian akademik dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bahkan mencatat bahwa komunitas transmigran Jawa di Kabupaten Gorontalo telah hadir sejak tahun 1953, dan bahasa Jawa tetap hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia serta bahasa lokal dalam kehidupan sehari-hari. Jejak itu menunjukkan bahwa Kampung Jawa bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang ingatan yang diwariskan lintas generasi.
Lebaran Ketupat
Seminggu setelah Lebaran, denyut kehidupan di kampung ini justru mencapai puncaknya. Rumah-rumah dibuka lebar. Tak ada syarat harus kenal, tak ada daftar tamu, tak ada sekat antara “warga sini” dan “orang luar”. Siapa pun boleh datang, duduk, menyantap hidangan, lalu pulang dengan hati yang terasa lebih lapang.

Dalam tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo ini, masyarakat memang memaknai momen ini sebagai perayaan terbuka, dimana semua orang dapat datang ke rumah-rumah warga untuk mencicipi sajian khas yang telah disiapkan keluarga-keluarga setempat.
Ribuan warga dari berbagai penjuru Gorontalo berbondong-bondong menuju kampung-kampung bernuansa Jawa itu. Jalanan macet oleh mobil dan motor yang diparkir di pingiir jalan. Mereka datang membawa rasa ingin bertemu, ingin mencicipi, ingin menjadi bagian dari suasana yang semakin langka di zaman serba tertutup ini.
Bukan mustahil satu jalan kecil mendadak menjadi lautan manusia. Bukan hal aneh jika meja-meja makan nyaris tak pernah benar-benar kosong sejak pagi hingga petang. Di atas meja-meja itulah kebudayaan berbicara dengan caranya yang paling akrab.
Tuan rumah menyiapkan aneka makanan khas Jawa yang telah lama berbaur dengan selera Gorontalo, seperti ketupat, opor, sambal goreng, kue-kue rumahan, juga sajian yang dalam tradisi Jaton (Jawa Tondano) dan kampung-kampung serupa dikenal seperti nasi bulu (lemang), dodol, dan lauk-pauk yang disiapkan secara gotong royong.
Tradisi ini bertahan bukan hanya karena enaknya hidangan atau ramainya pengunjung, melainkan karena ia menyimpan makna sosial yang besar. Dalam masyarakat desa dan kampung-kampung berjejaring kekerabatan kuat, tradisi berbagi makanan setelah lebaran telah lama menjadi alat perekat sosial. Ia menghidupkan kembali etika bertamu, gotong royong, saling menengok, dan saling mengingat.
Ketika satu rumah memasak untuk banyak orang, sesungguhnya yang sedang dirawat adalah keyakinan lama masyarakat Nusantara, bahwa kebersamaan tak dibangun dengan pidato, melainkan dengan saling memberi tempat di meja makan.
Tradisi seperti di Kampung Jawa ini sebagai penanda bahwa modernitas tidak harus menghapus keramahan komunal. Justru di tengah perubahan zaman, kampung-kampung seperti inilah yang mengingatkan kita bahwa kemajuan tak boleh membuat manusia menjadi asing bagi tetangganya sendiri.
Maka, makna terdalam dari budaya Kampung Jawa setelah Lebaran sesungguhnya sederhana, yakni silaturahmi. Ia mengajarkan bahwa silaturahmi tidak selalu membutuhkan hubungan darah, kadang cukup dengan makan bersama dan niat baik untuk menyambut siapa saja. Di sana, orang Gorontalo dan orang Jawa tak lagi berdiri sebagai dua identitas yang berhadap-hadapan, melainkan sebagai dua perahu yang bertemu dalam satu sungai kebudayaan. (*)
