Hujan mengguyur tanpa henti. Jalanan sempit dan berliku tak menyurutkan langkah. Di tengah perjalanan menuju perbukitan selatan Ponorogo, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jatim, Dr. Hasan Ubaidillah, dikejutkan oleh pemandangan tak terduga: papan bertuliskan Kantor Cabang Muhammadiyah Ngrayun berdiri kokoh di lereng bukit. Di tempat sunyi itu, semangat dakwah tetap menyala.
Pengalaman itu diceritakan Hasan Ubaidillah di sela Rapat Koordinasi LPCRPM Kluster Madiun Raya yang diselenggarakan di Hotel Maesa, Ponorogo, pada Ahad (18/5/2025).
“Hari ini saya punya pengalaman yang tak terlupakan. Saya datang ke Ngrayun, melewati jalan perbukitan yang curam,” ujar Ubaid, menceritakan perjalanannya bersama anggota Komisi E DPRD Jatim, Dr. H. Suli Da’im, menuju sebuah pondok pesantren di kawasan pegunungan Ponorogo.
Sebagai informasi, Ngrayun adalah kecamatan paling selatan di Kabupaten Ponorogo. Wilayah ini terletak di kawasan Pegunungan Kidul. Berbatasan langsung dengan Pacitan dan Trenggalek. Medan yang berat. Jalanan sempit dan licin, serta kampung-kampung terpencil di tengah hutan menjadikan wilayah ini sulit diakses, terutama saat musim hujan.
Perjalanan dari pusat kota Ponorogo menuju Ngrayun memakan waktu sekitar satu setengah jam. Rombongan menembus kelokan tajam, tanjakan curam, dan kabut tebal yang menyelimuti perbukitan. Hujan turun tanpa henti. Menciptakan suasana hening dan reflektif.
“Di sepanjang perjalanan, saya merasakan betul bagaimana perjuangan warga di daerah ini tidaklah mudah. Jalan sempit, licin, dan berliku.” katanya.
Sesampainya di Desa Ngrayun, mereka disambut hangat oleh para pengasuh Pondok Pesantren Manhajul Muna. Pondok tersebut berada di lereng bukit.
Yang paling membekas di benak Ubaid bukan hanya suasana pondok, melainkan sebuah momen tak terduga yang ia temui tak jauh dari sana.
“Saat saya melintasi salah satu sudut perbukitan, mata saya tertumbuk pada sebuah papan bertuliskan Kantor Cabang Muhammadiyah Ngrayun,” kenang Ubaid.
Meski hujan mengguyur deras dan kondisi jalan tidak memungkinkan untuk berhenti, momen itu membekas kuat dalam ingatannya.
“Saya tidak bisa memotret karena kondisi jalan sangat tidak memungkinkan. Tapi gambar itu tertanam kuat dalam memori saya,” ucapnya dengan nada haru.
Bagi Ubaid, penemuan papan nama itu bukan sekadar penanda fisik, melainkan simbol keteguhan dan keberlanjutan dakwah Muhammadiyah.
“Inilah makna sebenarnya dari menghidupkan cabang dan ranting. Bukan hanya mendirikan papan nama, tapi menanamkan ruh dakwah di tengah masyarakat, meski tersembunyi di balik bukit dan jalan curam,” ungkapnya.
Pengalaman ini dia ceritakan di hadapan ratusan pengurus cabang dengan penuh semangat dan haru, menggambarkan lika-liku perjuangan yang ia hadapi hingga akhirnya bisa menginspirasi banyak orang untuk tetap teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai organisasi.
“Kalau di tengah hujan, pegunungan, dan keterbatasan akses masih ada orang-orang yang setia menjadi penggerak Muhammadiyah, maka kita yang di kota dan pusat jangan sampai kehilangan semangat,” tegasnya.
Perjalanan ke Ngrayun menjadi pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak terletak pada gemerlap pusat kota, melainkan pada denyut nadi perjuangan yang tersembunyi, di lereng bukit, di tengah hujan, dan di hati para penggeraknya. (wh)
