*)Oleh: Hamdan Maghribi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah, Dosen Akhlak dan Tasawuf UIN Surakarta
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, isu keberagaman seringkali menjadi pemicu konflik daripada sumber kekuatan. Di tengah kebingungan global ini, ajaran Islam menawarkan inspirasi berharga melalui keteladanan Nabi Muhammad, khususnya dalam praktik dialog antaragama.
Esai ini ingin mengantarkan pada pengenalan model-model dialog Nabi dengan pemeluk agama lain, berlandaskan pendekatan historis Ibn Khaldun dan filsafat hermeneutika sebagaimana yang diulas secara mendalam dalam buku Interreligious Dialoge Model: from the Life of Prophet Muhammad.(Ghazali & Kamal, 2023) Keteladanan Nabi, bukan saja fakta sejarah, tetapi panduan moral dan praktis bagi dunia yang mencari titik temu di tengah perbedaan.
Dialog: Dari Percakapan Menuju Peradaban
Dialog dalam Islam bukan sekadar ‘basa basi’ dan obrolan, melainkan instrumen peradaban. Ada perbedaan antara dua kata kunci Al-Qur’an terkait dialog; ḥiwār (pertukaran pikiran) dan jidāl (perdebatan). Meskipun jidāl sering dikonotasikan negatif dalam Al-Qur’an karena menggambarkan perdebatan keras tanpa hasil, dalam konteks tertentu, jidāl pun bisa menjadi bagian dari ḥiwār yang konstruktif bila dilakukan dengan etika dan kejujuran. Ḥiwār, sebagai bentuk dialog yang penuh empati dan saling mendengar, menjadi fondasi utama dalam tulisan ini.
Gagasan dalam buku ini kemudian diperkaya oleh referensi pemikiran tokoh-tokoh Barat seperti Martin Buber, Mikhail Bakhtin, Hans-Georg Gadamer, dan David Bohm. Mereka memandang dialog bukan sebagai sarana untuk menang, melainkan untuk memahami, bertemu, dan mencipta makna bersama. Pandangan-pandangan kemudian diadopsi dan adapsi ke dalam kerangka Islam, khususnya dengan menelusuri praktik dialog Nabi dalam berbagai konteks lintas agama dan budaya.(Ghazali & Kamal, 2023)
Menafsir Sejarah dengan Konteks: Enam Model Dialog Nabi
Dalam buku Interreligious Dialogue Model, penulisnya menerapkan pendekatan yang mereka sebut Khaldunian hermeneutics -mengadaptasi pandangan sejarah Ibn Khaldun yang mengutamakan pemahaman konteks sosial, politik, dan kultural dalam membaca peristiwa sejarah. Dengan demikian, dialog Nabi Muhammad tidak dibaca semata-mata sebagai teks, tetapi sebagai praktik yang terikat pada ruang, waktu, dan situasi politik tertentu.
Melalui pendekatan ini, enam model dialog Nabi yang dikaji tidak hanya dianalisis isi percakapannya, tetapi juga maksud, dampak, dan nilai strategisnya dalam membangun koeksistensi antarumat beragama. Ini membedakan buku ini dari banyak kajian sejenis yang cenderung ahistoris dan normatif.
Buku ini mengeksplorasi enam momen kunci dalam kehidupan Nabi yang menggambarkan bentuk-bentuk dialog antaragama:
Pertama, Dialog Ja‘far ibn Abī Ṭālib dengan Najasyi (Abyssinia). Dalam situasi pengungsian, Ja‘far menjelaskan ajaran Islam kepada Raja Kristen Najasyi dengan cara yang tulus dan penuh hormat. Ia mengutip ayat-ayat al-Qur’an tentang Maryam dan ‘Īsā, membangun jembatan teologis dengan keyakinan Kristen. Hasilnya, Najasyi tidak hanya memberikan suaka politik, tetapi juga menunjukkan simpati mendalam terhadap Islam. Ini adalah contoh ideal dari ḥiwār antaragama yang berakar pada empati dan pengakuan atas kesamaan spiritual.
Kedua, Delegasi Kristen Najrān dan Nabi Muhammad di Madinah. Di Madinah, delegasi Kristen dari Najrān datang untuk berdialog langsung dengan Nabi. Meskipun terjadi perbedaan tajam dalam soal keimanan terhadap Yesus sebagai anak Tuhan, Nabi memperbolehkan mereka menginap di masjid dan bahkan beribadah di dalamnya. Sikap keterbukaan ini menandai standar etika dialog Islam; menjunjung tinggi perbedaan tanpa harus menyeragamkan keyakinan.
Ketiga, Dialog dengan ‘Abd Allāh ibn Salām, Yahudi Yaṡrib yang Bersyahadat. ‘Abd Allāh ibn Salām, seorang rabbi Yahudi yang masuk Islam, menjadi perantara penting dalam membangun hubungan awal antara komunitas Muslim dan Yahudi. Dialog Nabi dengannya bukan semata-mata retorika, melainkan proses pemahaman dan transformasi pribadi yang mendorong keterbukaan di komunitas Yahudi.
Keempat, Dialog Konfrontatif dengan Kelompok Yahudi Yaṡrib. Tidak semua dialog berakhir harmonis. Nabi juga menghadapi penolakan dan bahkan konspirasi dari beberapa kelompok Yahudi seperti Bani Qainuqā’ dan Bani Quraiẓah. Namun, pendekatan Nabi tetap mengedepankan diplomasi, perjanjian, dan klarifikasi sebelum konflik meletus. Ini menunjukkan bahwa dialog dalam Islam bukan berarti kompromi mutlak, tetapi proses ikhtiar untuk menjaga keadilan dan stabilitas sosial.
Kelima, Surat kepada Heraclius, Kaisar Bizantium. Dalam suratnya, Nabi menyampaikan dakwah Islam dengan bahasa yang mengajak, bukan mengancam. Dialog ini tidak mendapatkan respon langsung berupa konversi, tetapi menjadi catatan penting tentang dakwah lintas-budaya yang etis dan bijak.
Keenam, Surat kepada Khusraw (Kisrā) II, Raja Persia. Tidak semua respons dialogis berjalan mulus. Khusraw merobek surat Nabi dan membalas dengan hinaan. Namun, Nabi tidak membalas dengan kemarahan, menunjukkan keteguhan moral dalam menghadapi penolakan. Model ini mengajarkan bahwa dialog tak selalu menghasilkan kesepakatan, tetapi selalu menuntut kesabaran.
Saat ini, model-model dialog Nabi dapat diadaptasi ke dalam konteks modern bila diiringi dengan pemahaman mendalam atas perubahan sosial dan struktur kekuasaan. Misalnya, pendekatan Ja‘far bisa menginspirasi diplomasi multikultural, sedangkan sikap Nabi terhadap delegasi Najrān bisa diterapkan dalam ruang publik yang sekuler dan plural.
Tulisan ini ingin menitipkan satu pesan, dialog dalam Islam bukanlah produk modernitas, tetapi bagian dari warisan kenabian. Dialog adalah bentuk ibadah, sekaligus instrumen peradaban. Dengan basis al-Qur’an, sunnah, dan sejarah, mari merevitalisasi etika dialog sebagai jalan keluar dari ekstremisme dan konflik.
Sayangnya, ada kecenderungan sebagian umat Islam yang melupakan tradisi dialogis ini, lalu terjebak dalam eksklusivisme, sektarianisme, atau bahkan kekerasan. Dalam konteks itulah, upaya “kembali ke akar” yang tidak nostalgik, melainkan transformatif dibutuhkan.
Di tengah era post-normal yang ditandai oleh kompleksitas, kontradiksi, dan kekacauan, umat manusia membutuhkan cara-cara baru untuk hidup bersama. Dialog -bukan debat dogmatis atau retorika kosong yang sering dipertontonkan- menjadi jalan mulia yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad lebih dari 1400 tahun lalu.
Pembahasan dialog ala Nabi ini tidak hanya berhenti pada kontribusi ilmiah, tetapi juga panggilan nurani. Ia menawarkan bukan hanya analisis, tetapi inspirasi; bukan hanya narasi sejarah, tetapi etika masa depan. Jika umat Islam sungguh ingin menjadi raḥmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi semesta), maka langkah pertama adalah meneladani Nabi dalam berdialog; dengan hati terbuka, kata-kata santun, dan akhlak mulia. (*)
