Penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) terus disosialisasikan oleh kalangan Muhammadiyah, termasuk di Jawa Timur. Berdasarkan kalender ini pula, Muhammadiyah telah memutuskan dan menetapkan bahwa 1 Ramadan tahun 1447 H jatuh pada Hari Rabu Legi tanggal 18 Februari 2026 M.
Ir. Amirul Muslihin, anggota Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, melakukan sosialisasi melalui kanal zoom meeting, Jumat (13/2/2026). Amirul Muslihin yang juga anggota tim pengembang perangkat lunak KHGT, memaparkan perkembangan dan dinamika penerimaan kalender tersebut di tengah umat Islam.
Menurut Amirul Muslihin, sebenarnya sejak tahun 1358 H/1939 M, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam bukunnya “Awa’il al-Syuhur al-‘Arabiyah” Hal Yajūzu Syar’an Itsbātahā bi al-Hisāb al-Falaky?” menyatakan bahwa Hisab astronomi itu valid, dan awal bulan Islam sebaiknya ditetapkan secara global satu hari untuk semua umat.
Amirul menjelaskan bahwa KHGT bukanlah gagasan baru di lingkungan Muhammadiyah. “KHGT sudah ada sejak tahun 2007 di Muhammadiyah. Sejak awal memang terjadi pro dan kontra,” ujarnya.
Menurutnya, dalam perjalanan hampir dua dekade, KHGT mendapatkan beragam respons, mulai dari sambutan positif, pertentangan, hingga penerimaan dengan berbagai syarat maupun tanpa syarat.
Ia menegaskan, KHGT bukanlah ijtihad eksklusif Muhammadiyah. “KHGT bukan ijtihad Muhammadiyah, tetapi ijtihad Islam dunia. Namun, banyak yang memahami seolah-olah KHGT adalah milik Muhammadiyah,” jelasnya.
Padahal, konsep kalender hijriah global telah menjadi diskusi internasional dan melibatkan para pakar falak serta ulama dari berbagai negara. Dalam konteks Muhammadiyah, lanjut Amirul, ijtihad yang dilakukan adalah kembali kepada prinsip dasar, yakni menjadikan hisab sebagai instrumen utama dalam penentuan waktu.
Muhammadiyah memandang hisab bukan sekadar pelengkap rukyat, melainkan metode yang mandiri secara prototipe dan berbasis pada perhitungan astronomis yang akurat. “Hisab bukan pelengkap rukyat, tetapi benar-benar mandiri sebagai instrumen waktu. Tanpa terikat pada paradigma rukyat empirik sebagai syarat penetapan kalender,” tegasnya.
Pendekatan ini diyakini mampu menghadirkan kepastian dan konsistensi dalam penyusunan kalender Islam. KHGT sendiri diharapkan menjadi kalender pemersatu umat Islam dunia.
Selama ini, perbedaan metode dan kriteria dalam penentuan awal bulan Hijriah sering kali memunculkan perbedaan hari dalam pelaksanaan ibadah, seperti awal Ramadan, Idul fitri, dan Idul adha. Melalui KHGT, diharapkan umat Islam di berbagai belahan dunia dapat memulai dan mengakhiri bulan Hijriah secara serentak.
Empat Pilar KHGT
Konsep KHGT dibangun di atas empat pilar utama, yaitu satu kalender, satu metode, satu umat, dan satu matla’. Empat pilar ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan sistem kalender Islam yang bersifat global dan tidak terfragmentasi oleh batas-batas geografis maupun perbedaan otoritas lokal.
Prinsip “satu kalender” menegaskan bahwa umat Islam di seluruh dunia menggunakan sistem penanggalan yang sama. “Satu metode” berarti adanya kesepakatan dalam pendekatan ilmiah yang digunakan, yakni berbasis hisab dengan kriteria yang disepakati. “Satu umat” mengandung semangat persatuan dan ukhuwah Islamiyah lintas negara. Sedangkan “satu matla’” menandakan bahwa penentuan awal bulan tidak lagi terikat pada batas wilayah lokal, melainkan bersifat global.
Amirul juga menyinggung pentingnya momentum internasional dalam penguatan KHGT, salah satunya melalui Muktamar Kalender Islam Dunia yang digelar di Turki pada 2016. Forum tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya menyatukan pandangan dunia Islam terkait kalender hijriah global.
Seiring waktu, penerimaan terhadap KHGT disebut semakin signifikan, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun di luar Muhammadiyah. KHGT yang dahulu dipenuhi perdebatan, kini mulai bergeser ke arah dialog konstruktif dan pencarian titik temu.
Meski demikian, Amirul mengakui bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam tradisi ijtihad. Sosialisasi KHGT, menurutnya, bukan untuk memaksakan pandangan, melainkan membuka ruang edukasi dan pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya kalender Islam yang konsisten dan terpadu.
Dengan terus dilakukan sosialisasi dan penguatan literasi falak di tengah masyarakat, KHGT diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terimplementasi sebagai kalender pemersatu umat Islam dunia di masa depan. (nun)
