Pernahkah para nabi dan rasul mengalami kesusahan dalam hidup mereka? Jawabannya adalah: ya, tentu saja. Bahkan, merekalah orang-orang yang paling berat ujiannya di antara manusia.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya, lalu yang semisalnya lagi. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya pun semakin berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Seorang hamba akan senantiasa diuji, hingga dia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; Syaikh Al-Albani menilainya hasan shahih)
Ujian dalam kehidupan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang mukmin. Bagi para nabi dan orang-orang saleh, musibah tidak hanya berfungsi sebagai penggugur dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk meninggikan derajat mereka di sisi Allah.
Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa hikmah dari musibah yang menimpa seorang mukmin bukan hanya untuk membersihkan dirinya dari dosa, namun juga untuk memuliakan dan mengangkat derajatnya. Hal ini ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (16/128).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah, walau hanya tertusuk duri atau musibah yang lebih besar dari itu, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz ini milik Imam Muslim)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 141:
“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa).”
Beliau menjelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim (2/127):
“Yakni, Allah menggugurkan sebagian dosa-dosa mereka jika mereka memiliki dosa. Dan jika mereka tidak memiliki dosa, maka Allah akan mengangkat derajat mereka sesuai dengan kadar musibah yang mereka alami.”
Dalam menghadapi kesusahan dan ujian hidup, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak hanya bersabar, namun juga mengajarkan kepada umatnya doa-doa penenang hati yang bersumber dari tauhid dan pengagungan kepada Allah.
Berikut adalah doa yang beliau panjatkan saat mengalami kesulitan, dan yang juga diajarkan kepada para sahabat serta umatnya hingga hari ini:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Rabb (Penguasa) ‘Arsy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah, Rabb langit dan Rabb bumi serta Rabb ‘Arsy yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, no. 6346)
Doa ini merupakan penguatan iman dan pengingat bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung, Pengatur segala sesuatu di langit dan di bumi, serta Tuhan pemilik ‘Arsy yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Dalam situasi penuh tekanan, ketika beban terasa berat dan jalan terasa sempit, bacaan doa ini bukan hanya sebagai dzikir lisan, tapi juga pelipur lara dan pengokoh jiwa.
Dia menanamkan keyakinan bahwa di balik ujian, ada cinta dan rahmat Allah yang tak terlihat oleh mata, namun terasa oleh hati yang berserah.
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk bersabar dalam kesusahan dan tidak pernah lepas dari mengingat dan memohon kepada Allah dengan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Alhamdulillah. Wallahu a‘lam.
Astaghfirullah. Laa ilaaha illallaah.
Laa haula wa laa quwwata illa billah. (*)
