Ada waktu-waktu dalam hidup ketika tangan terasa berat untuk diangkat ke langit. Lidah kelu menyebut nama-Nya, bukan karena lupa, tapi karena merasa tak pantas.
Seolah diri terlalu kotor, terlalu rusak, terlalu penuh dosa. Saat itulah, banyak orang menjauh dari doa. Bukan karena tak percaya, tetapi karena terlalu kecewa pada diri sendiri.
Padahal justru di titik paling rapuh itulah, Allah Azza wa Jalla sedang paling dekat.
Sebagian dari kita mungkin pernah berada dalam situasi itu. Hati goyah, iman melemah, dan hidup terasa terlalu gelap.
Kita berpikir, “Untuk apa aku berdoa? Aku sudah terlalu jauh.”
Namun inilah tipu daya yang paling halus. Membuat kita merasa bahwa Allah tak lagi mau mendengar. Padahal, Dia tidak pernah menutup pintu.
Perhatikan, firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 53, menjadi jawaban penuh kasih.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat itu adalah panggilan pulang. Sebuah ajakan lembut dari Tuhan yang tidak pernah jemu menunggu hamba-Nya kembali. Tak peduli seberapa sering kita jatuh, seberapa dalam kita tenggelam.
Maka jangan tunda untuk berdoa. Berdoalah, bahkan jika hatimu masih goyah. Berdoalah, meski matamu basah dan tanganmu gemetar.
Karena keinginan untuk kembali itu sendiri adalah tanda bahwa hatimu belum mati. Jiwamu masih ingin pulang.
Doa bukan tentang pantas atau tidak. Doa adalah pengakuan bahwa kita masih percaya, masih ada harapan dalam diri, masih ada cahaya kecil yang belum padam.
Allah tidak menunggu kita bersih, tapi menunggu kita berani kembali. Dan tahukah kamu?
Dalam detik pertama saat kamu menyebut nama-Nya, meski hanya dalam hati yang remuk. Langit terbuka, para malaikat memperhatikan, dan Allah berbisik:
“Hamba-Ku telah kembali.”
Jangan tunggu suci untuk bersujud. Jangan tunggu kuat untuk memohon.
Justru dalam kehancuran itulah, doa paling tulus akan mengetuk pintu rahmat-Nya. Dan doa seperti itulah yang paling cepat diangkat ke langit.
Kabar baiknya, Allah selalu menunggu. Selalu ada tempat untuk pulang, bahkan ketika engkau belum utuh. (*/red)
