Dongeng sebelum tidur adalah bagian untuk menanamkan nilai-nilai moral dan kedekatan antara orang tua dan anak. Mendongeng tidak sekedar bercerita. Sayangnya, di era digital, justru gawai yang lebih dominan memberikan “dongeng” pada anak-anak.
Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menyebutkan bahwa dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi. Artinya, dongeng hanya berupa karangan. Tetapi tidak semua karangan adalah dongeng. Sebab dongeng memiliki nilai-nilai moral yang selalu disematkan di dalam cerita.
Jika saat ini kita berusia sekira 50 tahunan, pasti mengenal sosok Pak Raden yang memiliki nama asli Drs. Raden Suyadi Subekti Wirjokoesoemo. Semasa hidupnya, Pak Raden menciptakan karakter Si Unyil yang hingga kini masih melegenda. Si Unyil dirupakan oleh sebuah boneka, dengan karakter anak Indonesia asli. Pakai songkok, rambut terkadang tak bersisir, dan pakai sarung digantungkan di pundak.
Cerita si Unyil ini pada tahun 1980-an, setiap hari Minggu bisa dilihat melalui layar kaca TVRI. Saat itu memang hanya TVRI satu-satunya saluran televisi di Indonesia. Sejak ditayangkan pada 1981, cerita Unyil mencapai 603 seri. Atau lebih dari 10 tahun menemani anak-anak Indonesia. Meski selama 10 tahun itu pula Si Unyil digambarkan sebagai anak SD kelas 3.
Selain si Unyil, juga ada tokoh Ucrit dan Usro. Keduanya adalah sahabat dekat Unyil, dan mereka selalu bermain bersama. Tagline saat itu dari ketiga sahabat tersebut adalah “hom-pim-pah alaihum gambreng”.

Psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa dongeng berperan besar dalam menjalin kedekatan antara orang tua dan anak. Orang tua dapat menyampaikan pesan moral yang baik dengan cara menyenangkan dan tidak menggurui.
“Ketika mendongeng, orang tua bisa menyelipkan nilai kebaikan di dalam cerita, melengkapi dengan alat bantu seperti gambar dan boneka tangan. Dongeng pun bisa melatih panca indra serta kemampuan emosi, merangsang kreativitas dan kecerdasan anak,” kata Kak Seto, sapaan Seto Mulyadi.
Dongeng dalam Konteks Islam
Dalam konteks islam, menceritakan tentang sejarah nabi kepada anak-anak bukanlah mendongeng, tetapi mengenalkan nilai-nilai luhur dalam sejarah perjuangan Islam. Anak-anak akan lebih mudah menyerap pelajaran moral dan spiritual ketika cerita disampaikan dengan cara yang menyentuh hati dan dekat dengan dunia mereka.
Banyak orang tua kini mulai menyadari pentingnya memilih cerita islami yang berkualitas untuk menemani waktu tidur si kecil. Tak hanya itu, kisah para nabi juga menjadi sarana efektif untuk membentuk karakter, mengenalkan keteladanan, serta menanamkan akhlak mulia sejak dini. Seperti cerita Nabi Daud yang penuh kelembutan, Nabi Ibrahim yang penuh keteguhan, hingga tentang Nabi Muhammad SAW yang memikat hati, semuanya memiliki keunikan tersendiri.
Dongeng islami tentang nabi bukan hanya pengantar tidur yang menenangkan, tetapi juga media pendidikan spiritual yang kaya makna. Banyak penelitian menyebutkan bahwa anak yang sering dikenalkan pada kisah-kisah nabi akan memiliki pemahaman nilai moral dan keagamaan yang lebih baik dibanding anak yang tidak mendapatkan exposure serupa. Cerita nabi juga mendorong rasa ingin tahu, memperkuat empati, dan menanamkan sikap sabar serta syukur.
Salah satu keunggulan cerita dan teladan islami adalah kemampuannya menyisipkan nilai edukatif dalam alur yang menghibur. Anak-anak yang mendengar kisah perjuangan Nabi Nuh atau kesabaran Nabi Ayyub akan lebih mudah memahami konsep ketekunan dan ketulusan, tanpa merasa sedang digurui. Bahkan cerita nabi bisa dijadikan contoh kehidupan sehari-hari, misalnya bersikap jujur seperti Nabi Muhammad atau berani seperti Nabi Musa.
Dongeng di Era Digital

Bagaimana dengan kondisi dongeng saat ini? Di kalangan masyarakat perkotaan, budaya ini mulai hilang. Kebersamaan antara orang tua dan anak semakin jarang terjadi dengan alasan kesibbukan masing-masing. Dongeng pun mulai digantikan gawai. Anak-anak dengan mudah mengakses berbagai cerita melalui gawainya, meski tanpa ada filter mana cerita yang baik dan tidak baik.
Lantas, mampukah kita menghidupkan kembali perilaku dongeng islami sebelum tidur? Apakah justru anak-anak zaman now menilai bahwa dongeng hanyalah sebuah cerita yang tidak masuk akal? Bisa saja mereka lebih bercaya pada gawai yang ada di genggamannya. (*)
