Dosen Itu Wafat di Tengah Gurun Menuju Baitullah

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Beberapa hari lalu, sebuah kabar mengharukan viral di media sosial dan platform daring. Seorang dosen, SM, wafat di tengah padang tandus Jumum saat dalam perjalanan menuju Baitullah, Ka’bah, untuk menunaikan rukun Islam kelima. Insyaa Allah, almarhum husnul khatimah dan kini menjadi tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.

Tak ada yang lebih menyentuh hati selain menyaksikan seorang hamba wafat dalam perjalanannya menuju rumah Allah, bukan karena ia durhaka, tetapi karena kerinduannya yang begitu dalam.

Almarhum bernama SM, dosen di sebuah universitas Islam di Madura. Ia mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi di matanya sendiri, ia adalah tamu Allah yang sedang mencari jalan pulang. Ia memahami bahwa haji adalah kewajiban sekali seumur hidup.

Ia tahu Makkah adalah tempat pertemuan langit dan bumi. Dan ia menyadari, dari sekian doa yang ia panjatkan sejak kecil, satu yang belum terkabul adalah melihat dan menyentuh Ka’bah dengan tangannya sendiri, serta mengadu langsung kepada Sang Pemilik Semesta. Namun, hidup tak selalu memberi tiket resmi bagi kerinduan.

SM hanya memiliki visa ziarah multiple — sebuah dokumen yang, menurut logika dunia, hanyalah tiket untuk bertamasya.

Bukan visa haji. Tapi apakah Tuhan peduli soal visa? Apakah keikhlasan seseorang bisa ditolak hanya karena ia tidak memegang barcode? Barangkali tidak. Namun dunia, dan aturannya, sudah lama tak meniru cara Allah mencintai manusia.

Bersama beberapa WNI lain, almarhum SM menumpang taksi ilegal, menyusuri padang pasir tandus yang diguyur matahari menyengat.

Sopir taksi panik karena di tengah perjalanan, drone militer Arab Saudi melintas di atas mereka. Pengawasan supercanggih itu tak hanya mencari teroris, tetapi juga mereka yang mencoba mencium Hajar Aswad tanpa izin tertulis.

Karena takut ditangkap, sopir menurunkan penumpangnya di tengah gurun Jumum. Tak ada pohon, tak ada teduh, hanya langit dan pasir yang saling membakar.

Di sanalah takdir Allah menjemput SM. Tubuhnya melemah karena dehidrasi. Ia bukan lagi seorang dosen, bukan lagi warga Madura.

Ia bukan turis, bukan jamaah resmi. Ia hanyalah seorang manusia yang mencoba mendekat kepada Allah dari jalur yang tidak resmi menurut dunia. Ia tergeletak, dan tak bangun lagi.

Tubuhnya ditemukan oleh patroli drone — teknologi tercanggih untuk melacak mereka yang hendak beribadah tanpa kartu izin.

Kemenag Pamekasan memilih bungkam. Kepala kantor menyatakan bahwa seluruh jajaran dilarang berbicara mengenai jamaah haji ilegal.

Seakan-akan kisah ini harus dikubur dalam diam, agar dunia tak tahu bahwa ada manusia yang wafat karena terlalu ingin menyembah-Nya.

Namun, Kepala Desa Blumbungan membenarkan kabar itu. SM memang warganya. Kabar wafatnya telah sampai lebih dulu daripada jenazahnya.

Sementara itu, Pemerintah Arab Saudi memperketat pengawasan. Tahun ini, lebih dari 269.000 orang dicegah masuk Makkah tanpa izin.

Sebanyak 23.000 warga negara Saudi dikenai sanksi. Sekitar 400 perusahaan penyelenggara haji dicabut izinnya. Negeri itu kini bukan hanya penjaga dua Tanah Suci, tetapi juga pengelola sistem keamanan spiritual yang lebih ketat daripada bandara internasional.

Haji, ibadah yang seharusnya menjadi ziarah cinta, kini seakan berubah menjadi operasi militer. Siapa yang dianggap sah dan siapa yang tidak, ditentukan oleh sensor dan administrasi. Padahal tak satu pun ayat menyebut bahwa Allah hanya menerima tamu yang membawa visa resmi.

SM wafat di gurun. Namun, insyaa Allah, di langit sana, Allah Ta’ala menyambutnya dengan pelukan hangat — lebih hangat dari pasir yang membakarnya.

Karena hanya Allah yang benar-benar tahu siapa yang datang dengan iman, takwa, dan cinta, dan siapa yang datang hanya karena mampu.

Kini, almarhum SM tak butuh barcode lagi. Ia telah tiba di hadapan-Nya. Tanpa izin, tanpa nusuk, tanpa tasreh, tanpa drone, tanpa loket. Hanya dengan air mata dan niat yang tak pernah tercatat dalam sistem manusia.

Husnul khatimah, almarhum SM — saudaraku seiman, ahlul jannah. (*)

Catatan:

Narasumber: Rosadi Jamani, Satu Pena Kalbar

Tinggalkan Balasan

Search