Dosen UMM Ungkap Dua Syarat Sebelum Jadi Influencer

www.majelistabligh.id -

Menjadi influencer kini jadi profesi impian banyak orang. Namuan, menurut Arum Martikasari, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada dua hal mendasar yang sering dilupakan calon influencer. Apa itu? Membangun persona yang kuat dan menjunjung tinggi etika bermedia sosial.

“Tanpa keduanya, konten menarik sekalipun tak akan bertahan lama di tengah derasnya arus digital,” katanya pada Jumat (23/5/2025).

Martikasari menjelaskan, langkah pertama yang perlu disiapkan adalah menentukan persona atau citra diri yang hendak dibangun.

“Seseorang perlu mengidentifikasi kebiasaan atau keahlian apa yang bisa dikemas sebagai personanya di media sosial,” ujarnya.

Setelah persona terbentuk, konsistensi dalam mempertahankan citra tersebut menjadi krusial.

Jumlah pengikut yang banyak memang penting bagi seorang influencer, karena ini menjadi indikator bahwa konten yang disajikan diterima dan relevan dengan audiens.

Untuk menaikkan engagement secara organik, Arum menekankan pentingnya komunikasi dua arah.

“Jangan hanya mengunggah konten, tapi juga harus rajin berinteraksi dengan pengikut. Balas komentar, atau ucapkan terima kasih ketika konten dibagikan,” sarannya.

Mengenai konten ideal, Arum menyatakan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada niche atau segmen pengikut yang dituju.

Untuk menjaga konsistensi dalam pengelolaan konten, ia menyarankan memiliki kalender konten dan rutin berinteraksi, baik melalui komentar maupun membalas pesan langsung (DM).

Menariknya, Martikasari menyebut bahwa penggunaan iklan berbayar (ads) tidak menjadi hal sepenting itu bagi seorang influencer.

Strategi untuk menjangkau audiens juga dapat berubah seiring waktu. “Tidak ada hasil yang instan. Selama strateginya tepat dan bisa menjangkau audiens, itu yang terpenting,” imbuhnya.

Terakhir, Martikasari mendorong para calon influencer untuk berkreasi dan mengeksplorasi ide-ide sebanyak mungkin, mengingat pemahaman generasi saat ini tentang perkembangan teknologi. Namun, ia memberikan penekanan khusus,

“Jangan lupakan etika bermedia sosial. Tanpa adab dan etika, semua akan sia-sia. Ingatlah bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Jadi, silakan berkarya sebanyak-banyaknya, tetapi kembali lagi kepada adab dan etika,” katanya (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search