Dosen UMM Ungkap Kunci Sukses Film Jumbo di Tengah Lesunya Industri Animasi Lokal

www.majelistabligh.id -

Dunia perfilman tanah air kembali bergairah dengan hadirnya film animasi Jumbo. Karya anak bangsa ini sukses menyita perhatian jutaan penonton sejak pertama kali tayang di bioskop.

Tak sekadar sebagai tontonan semata, Jumbo juga menjadi simbol kebangkitan film animasi lokal yang selama ini dinanti oleh pecinta sinema Indonesia.

Film ini disutradarai oleh Ryan Adriandhy, sineas muda berbakat Indonesia yang menyelesaikan pendidikan magisternya di Amerika Serikat.

Dengan visi kreatif dan semangat nasionalisme, Ryan mampu menyuguhkan sebuah karya yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, terutama anak-anak.

Menurut Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kehadiran Jumbo membawa angin segar bagi industri perfilman nasional.

Dia menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap film ini sangat tinggi, terlihat dari jumlah penonton yang terus meningkat dan tanggapan positif yang membanjiri berbagai platform media sosial.

“Jumbo berhasil memenuhi kerinduan publik akan film animasi berkualitas karya dalam negeri yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga,” katanya, pada Sabtu (3/5/2025).

Dari segi produksi, Novin menyoroti keterlibatan kru dan sineas lokal dalam proses pembuatan film ini. Hal tersebut menunjukkan betapa seriusnya tim produksi dalam menggarap setiap aspek cerita, visual, hingga pesan moral yang ingin disampaikan.

Kualitas grafis yang memukau, pengemasan cerita yang sederhana namun efektif, serta pendekatan emosional yang kuat membuat film ini terasa sangat relevan dengan kehidupan anak-anak dan keluarga Indonesia.

“Film Jumbo ini diproduksi oleh kru dan tim lokal yang cukup banyak, memperlihatkan komitmen yang kuat dari para kreator lokal. Pengemasannya juga menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak sebagai target utamanya. Ini menjadi salah satu kekuatan yang memungkinkan Jumbo untuk bersaing, tak hanya di pasar nasional, tetapi juga di kancah internasional,” ungkap Novin.

Dia menambahkan bahwa momentum perilisan film ini, yang bertepatan dengan masa libur lebaran, menjadi faktor strategis yang turut mendorong kesuksesan Jumbo.

Di tengah suasana hangat kebersamaan keluarga, kehadiran film yang menyenangkan dan menyentuh seperti Jumbo terasa sangat tepat.

Film ini memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga membawa pesan mendalam, terutama tentang arti keluarga dan perjuangan.

Namun demikian, Novin juga memberikan beberapa catatan kritis terhadap film ini. Ia menilai bahwa alur cerita Jumbo masih tergolong sederhana, dan latar belakang karakter utamanya yang digambarkan sebagai anak yatim piatu bisa terasa berat bagi sebagian penonton anak-anak.

“Pemilihan lagu tema juga cenderung bernuansa sedih dinilai kurang pas untuk sebuah film anak, yang semestinya menyuguhkan suasana ceria dan penuh harapan,” tegasnya.

Meski terdapat beberapa kekurangan, Novin menilai bahwa Jumbo tetap merupakan langkah penting dalam proses pengembangan industri film animasi di Indonesia.

Dia menekankan bahwa untuk menciptakan ekosistem perfilman yang berkelanjutan, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, investor, hingga penonton.

“Indonesia harus berani melangkah lebih jauh—tidak hanya mengikuti tren pasar, tetapi juga berani membentuk selera pasar dengan menawarkan karya yang bermutu tinggi dan memiliki nilai edukatif,” kata Novin.

Lebih lanjut, Novin menyatakan pentingnya mengembangkan film sebagai bagian dari aset kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) yang bisa menjadi sumber penghidupan jangka panjang bagi para kreator lokal.

ilm animasi seperti Jumbo, jika dikelola secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi waralaba besar yang menginspirasi dan memberikan dampak nyata pada perkembangan karakter generasi muda.

“Ke depannya, kita berharap Jumbo bisa menjadi titik awal munculnya lebih banyak film animasi edukatif buatan anak bangsa. Bukan hanya bersaing di tingkat nasional dan internasional, tapi juga mampu menyentuh hati penonton, memperkaya imajinasi, dan membentuk karakter bangsa yang lebih kuat,” tutup Novin. (wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search