Meski waktu makan lebih sedikit selama Ramadan, jumlah sampah makanan atau food waste justru meningkat. Fenomena ini terjadi karena kebiasaan membeli makanan berlebihan menjelang berbuka puasa. Mulai dari takjil manis, gorengan, hingga makanan berat melimpah di meja makan maupun di pusat-pusat kuliner.
Dosen Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Poppy Diana Sari, S.Tp., MP, menjelaskan bahwa peningkatan food waste saat Ramadan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan belanja hingga budaya dalam menyajikan makanan. Fenomena ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat.
Dr. Poppy memaparkan, bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya food waste saat Ramadan adalah fenomena “lapar mata” ketika menjelang waktu berbuka. Saat berpuasa, kadar gula darah yang menurun dapat memicu keinginan untuk membeli makanan dalam jumlah banyak (overbuying). Akibatnya, banyak orang membeli lebih banyak makanan daripada yang sebenarnya mampu mereka habiskan.
“Banyak orang merasa mampu menghabiskan semua hidangan yang dibeli, namun kenyataannya, perut manusia memiliki kapasitas terbatas yang cepat terpenuhi hanya dengan sedikit takjil dan air,” jelasnya.
Makan Banyak dan Variatif
Menurut Dr Poppy, ada kecenderungan untuk menyajikan hidangan secara berlebihan sebagai bentuk kemurahan hati atau perayaan, baik di rumah maupun di acara-acara sosial. “Hal ini sering kali berujung pada makanan yang tidak tersentuh dan akhirnya dibuang karena sudah tidak segar lagi keesokan harinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, ada pula faktor lain yang membuat food waste Ramadan meningkat, yaitu perubahan pola belanja masyarakat selama bulan puasa, terutama bahan pangan organik. “Banyak orang berbelanja bahan makanan segar seperti buah dan sayur dalam jumlah besar tanpa perencanaan yang matang,” tuturnya.
Jika bahan tersebut tidak segera diolah atau disimpan dengan benar, makanan akan cepat rusak dan akhirnya dibuang.
Di sisi lain, promo buka puasa dari restoran dan hotel juga ikut berkontribusi pada peningkatan sampah makanan. Banyak tempat makan menawarkan paket berbuka dengan sistem prasmanan atau buffet yang menyediakan puluhan variasi menu.
Secara statistik, imbuhnya, sistem buffet memang dikenal sebagai salah satu penyumbang sampah makanan terbesar. “Makanan yang sudah dipajang di area prasmanan biasanya tidak bisa disimpan kembali untuk hari berikutnya karena alasan higienitas,” terang Dr. Poppy.
Fenomena lain yang juga sering terjadi adalah kurangnya kebiasaan food repurposing, yaitu mengolah kembali makanan sisa menjadi hidangan baru. “Misalnya, ayam goreng sisa berbuka sebenarnya masih bisa diolah menjadi menu lain untuk sahur,” ujar Dr Poppy.
Namun dalam praktiknya, makanan sisa sering kali dibiarkan di meja hingga basi karena semua anggota keluarga sudah terlalu kenyang atau enggan membereskannya setelah tarawih.
Disisi lain, bulan Ramadan adalah bulan berbagi. Banyak orang atau komunitas yang berlomba-lomba untuk membagikan takjil di jalanan atau ke panti asuhan. Namun, kadang tanpa koordinasi, sehingga sering terjadi penumpukan bantuan di satu tempat. (*/tim)
