Dr. Soetomo: Pionir Nasionalisme dan Pelopor Dakwah Kesehatan

*) Oleh : Andi Hariyadi
Ketua Majelis Pustaka dan Informatika PDM Kota Surabaya
www.majelistabligh.id -

Pada 30 Mei 2025, genap 87 tahun wafatnya dr. Soetomo, tokoh pelopor kebangkitan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia pada 30 Mei 1938, namun semangat perjuangannya tetap hidup dan menyala dalam denyut sejarah bangsa.

Dr. Soetomo tidak hanya tercatat sebagai penggagas organisasi pergerakan nasional pertama, Budi Utomo, tetapi juga sebagai pelopor gerakan kemanusiaan di bidang kesehatan yang menginspirasi banyak tokoh dan lembaga, termasuk Muhammadiyah.

Dr. Soetomo lahir dengan nama Soebroto pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak muda, ia telah menunjukkan jiwa kepemimpinan yang kuat.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan dan kesehatan membawanya diterima di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada tahun 1903, sebuah pencapaian yang langka dan bergengsi pada masa penjajahan Belanda.

Selama di STOVIA, Soetomo berinteraksi dengan tokoh-tokoh muda lain yang memiliki semangat kebangsaan tinggi seperti dr. Wahidin Soedirohusodo, dr. Soeradji, dan Gunawan Mangunkusumo. Dari rahim semangat kolektif itu lahirlah Budi Utomo pada 20 Mei 1908, menandai awal kebangkitan nasional Indonesia.

Setelah lulus dari STOVIA pada 1911, dr. Soetomo bertugas sebagai dokter di berbagai wilayah di Jawa dan Sumatera. Namun, semangat perjuangannya tidak pernah padam.

Pada 1917, ia menikah dengan seorang perawat Belanda, Everdina Broereng, yang kelak menjadi pendamping setia dalam setiap perjuangannya.

Everdina tak hanya menjadi istri, tapi juga mitra perjuangan: saat para tokoh pergerakan berkumpul di rumahnya di Jalan Simpang Dukuh Surabaya, Everdina kerap menyiapkan logistik dan konsumsi.

Tahun 1919, dr. Soetomo mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Amsterdam, Belanda. Di sana, ia tetap aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia, bahkan terpilih menjadi Ketua Indische Vereeniging (kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia) periode 1921–1922, menegaskan peran pentingnya dalam diplomasi intelektual perjuangan bangsa di luar negeri.

Dr. Soetomo: Pionir Nasionalisme dan Pelopor Dakwah Kesehatan
dr Soetomo (X) semasa masa pergerakan

Pada 1923, dr. Soetomo kembali ke Indonesia dan menjadi pengajar di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Ia juga mendirikan Indonesian Study Club (ISC) pada tahun 1924, sebagai wadah pengembangan intelektual dan kepedulian sosial, terutama di bidang kesehatan masyarakat.

Dalam perjalanannya, dr. Soetomo menjalin relasi erat dengan KH Mas Mansur, Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya yang baru dilantik langsung oleh KH Ahmad Dahlan.

Keduanya bertemu dalam semangat yang sama: memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui pendekatan kemanusiaan. Dalam Tabligh Akbar tahun 1924 yang bertujuan menggalang dana untuk pendirian Balai Kesehatan Muhammadiyah Surabaya, dr. Soetomo hadir dan menunjukkan dukungan nyatanya.

Balai kesehatan ini kelak berkembang menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah KH Mas Mansur Surabaya, sebagai hasil kolaborasi apik antara nasionalisme dan dakwah Islam.

Kontribusi dr. Soetomo dalam bidang kesehatan bukan hanya melalui institusi. Ia juga membuka layanan pengobatan gratis di rumahnya dan turun langsung dalam penanganan wabah, seperti epidemi pes di Malang.

Tak hanya itu, pada tahun 1925, dr. Soetomo diangkat sebagai penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang kesehatan, menunjukkan pengakuan atas dedikasinya dalam gerakan dakwah kemanusiaan.

Meski belum ada bukti historis pertemuan langsung antara KH Ahmad Dahlan dan dr. Soetomo, namun secara ideologis perjuangan mereka sangat selaras.

Melalui KH Mas Mansur, diskusi-diskusi intelektual dan sosial di rumah dr. Soetomo mengarah pada aksi nyata: pelayanan kesehatan, pendidikan, dan gerakan pemberdayaan rakyat.

Seperti yang ditegaskan oleh Prof. Dr. K.H. Abdul Munir Mulkhan, dr. Soetomo bahkan turut memelopori berdirinya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah pertama di Yogyakarta pada tahun 1923, memperkuat fakta bahwa perannya tidak hanya lokal tetapi juga nasional.

Gerakan Al-Ma’un yang digagas KH Ahmad Dahlan mendapatkan kekuatan lebih dengan kehadiran dr. Soetomo, yang menunjukkan bahwa dakwah harus membumi dan menjawab kebutuhan riil umat.

Semangat welas asih, pengorbanan, dan kepekaan sosial menjadi benang merah antara perjuangan kebangsaan dan dakwah Muhammadiyah yang hingga kini terus berkembang melalui ratusan amal usaha di bidang kesehatan.

Dr. Soetomo bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol pertautan antara nasionalisme, intelektualisme, dan kemanusiaan. Ia telah menunjukkan bahwa memperjuangkan bangsa tidak hanya dengan senjata atau pidato, tetapi juga dengan stetoskop dan hati nurani.

Sebagai generasi penerus, kita wajib meneladani keteladanan dr. Soetomo. Semangatnya dalam mengabdi melalui jalan intelektual, sosial, dan kemanusiaan harus terus digelorakan, khususnya dalam membangun bangsa yang sehat, kuat, dan berdaulat. Muhammadiyah, melalui amal usaha kesehatannya, telah dan terus melanjutkan misi ini dengan penuh keikhlasan.

Semoga kita semua mampu meneruskan jejak langkah dr. Soetomo—dokter rakyat, guru bangsa, dan pejuang sejati. (*)

Tinggalkan Balasan

Search