Udara dini hari Ahad (25/5/2025) di kawasan Masjid Al-Badar, Jalan Kertomenanggal, Surabaya berasa lebih sejuk dan damai dari biasanya. Jamaah sudah berdatangan sejak sebelum azan Subuh berkumandang.
Sebagian besar dari mereka datang bukan hanya untuk menunaikan salat, tetapi untuk mengikuti Kajian Spesial Ahad Ba’da Subuh yang menghadirkan sosok istimewa: Dr. H. Muhammad Syamsi Ali, tokoh Muslim Indonesia yang kini menjabat sebagai Presiden Muslim Amerika.
Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Surabaya untuk mendengarkan langsung pengalaman dan pemikiran seorang dai yang telah hampir 30 tahun mengabdikan hidupnya di Amerika Serikat demi misi dakwah Islam.
Dalam ceramahnya, Syamsi memulai dengan memperkenalkan jati dirinya sebagai kader Muhammadiyah. Dia adalah alumni Pesantren Darul Arqam Sulawesi Selatan, pesantren yang membentuk karakter dakwahnya sejak belia.
“Sejak kecil saya ditanamkan nilai amar makruf nahi mungkar. Itu bukan sekadar semboyan, tetapi sudah menjadi napas dalam kehidupan saya,” ungkap Syamsi Ali di hadapan jamaah yang memadati masjid.
Prinsip ini yang dibawanya ke Amerika, negara dengan realitas sosial dan budaya yang sangat berbeda dari Indonesia. Namun bagi Syamsi Ali, tempat bukanlah hambatan.

“Di mana pun saya tinggal, dakwah adalah tugas utama,” tegasnya.
Syamsi kemudian memaparkan perkembangan Islam di Amerika. Meski Islam kerap disalahpahami, namun fakta di lapangan menunjukkan Islam mengalami pertumbuhan pesat.
Kata dia, jumlah mualaf terus meningkat. Kesadaran berislam menguat. Bahkan fasilitas keagamaan seperti masjid kian bertambah.
“Salah satu perkembangan luar biasa adalah adanya lebih dari 100 polisi Muslim di New York. Bahkan kini ada masjid di dalam markas kepolisian, dan setiap Jumat diadakan salat Jumat di sana,” tutur Syamsi dengan penuh semangat.
Menurut Syamsi , ini adalah hasil dari dakwah yang dilakukan dengan pendekatan damai, dialog, dan akhlak yang mulia.
“Islam tidak bisa disebarkan dengan kekerasan, apalagi pemaksaan. Kuncinya adalah komunikasi yang baik, dan itulah yang kami lakukan,” tambahnya.
Meski mengalami kemajuan, dakwah di Barat tetap menghadapi tantangan besar: Islamofobia.
Fenomena ini, menurut Syamsi, adalah produk dari kesalahpahaman, trauma sejarah, dan mental kolonialisme yang belum sepenuhnya usai.
“Pertama, banyak dari mereka yang tidak tahu bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Mereka hanya mengenal Islam lewat media, yang seringkali bias,” jelasnya.
“Kedua, ada trauma sejarah. Dulu wilayah-wilayah Eropa pernah berada di bawah kekuasaan Islam. Maka kehadiran Islam hari ini mereka anggap sebagai ancaman,” lanjutnya.
Yang ketiga, menurut Syamsi, adalah warisan mental penjajah yang masih tertanam di negara-negara Barat.
“Mereka terbiasa menguasai, dan melihat dunia Islam sebagai objek yang harus dilemahkan. Maka ketika umat Islam maju, itu dianggap gangguan terhadap dominasi mereka,” terang Syamsi.
Bahkan, ironisnya, ada sebagian umat Islam sendiri yang tidak senang melihat saudara Muslimnya mengalami kemajuan.

“Ini luka dalam. Kita harus sembuhkan dulu luka di tubuh kita sendiri sebelum berharap orang lain memahami kita,” tegasnya.
Dalam konteks dakwah yang menghadapi tantangan global, Syamsi menekankan pentingnya umat Islam untuk terus menjadi bagian dari gerakan ilmu pengetahuan.
Dia menyebut Muhammadiyah sebagai contoh nyata organisasi Islam yang konsisten dengan prinsip Islam Berkemajuan.
“Islam harus menjadi gerakan ilmu. Dakwah tidak cukup hanya dengan semangat, tapi harus dengan pengetahuan, keterampilan komunikasi, dan strategi budaya,” ujarnya.
Syamsi mendorong agar para dai dan tokoh umat di Indonesia tidak terpaku pada pendekatan emosional dalam berdakwah, melainkan membangun jaringan global dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
“Percayalah, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghentikan dakwah Islam,” ucapnya penuh keyakinan. “Bahkan semakin banyak yang mencoba menghalangi, justru dakwah semakin berkembang,” imbuh dia.
Syamsi mencontohkan fenomena banyaknya warga Amerika yang memutuskan menjadi Muslim setelah mengenal Islam lebih dekat. Mereka datang bukan karena diajak, tetapi karena menyaksikan sendiri keindahan Islam melalui pergaulan, kerja sosial, dan pendekatan damai.
Di akhir kajian, Syamsi Ali menegaskan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci dari keberhasilan dakwah di mana pun.
“Jangan merasa cukup hanya dengan niat baik. Cara kita menyampaikan pesan Islam sangat menentukan apakah orang akan menerima atau menolak,” ujarnya.
Dia juga berpesan agar umat Islam di Indonesia tidak larut dalam narasi kebencian terhadap Barat, tetapi justru menjadi agen dialog, penyambung pesan damai Islam ke seluruh dunia. (msf/wh)
