*) Oleh: Warnoto,
Anggota Majelis Tabligh PCM Kerek, Tuban
Di antara tujuan syariat Islam, selain membangun hubungan baik antara seorang hamba dengan Allah SWT, juga bertujuan untuk melahirkan manusia yang bermuara pada baiknya perilaku dan akhlaknya.
Oleh sebab itu, parameter kebaikan agama seseorang dapat diukur dengan perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi)
Kata akhlak atau khuluq secara bahasa berakar dari kata yang sama dengan Khaliq (pencipta) dan Makhluq (yang diciptakan).
Prof. Yunahar Ilyas rahimahullah menjelaskan bahwa kesamaan akar kata tersebut mengisyaratkan adanya keselarasan dan keterpaduan antara perilaku makhluk (manusia) dan kehendak Khaliq (Allah).
Sementara itu, Ibnu Manzur dalam Lisanul ‘Arab mengartikan akhlak/khuluq dengan ad-diin (agama).
Dengan adanya makna di atas, akhlak seakan-akan dijadikan pondasi dalam membangun tegaknya agama ini.
Islam akan rusak apabila akhlak umat Islam juga rusak. Di antara kerusakan itu misalnya, maraknya korupsi di kalangan pejabat, praktik riswah yang membudaya, kemaksiatan di mana-mana, perselingkuhan yang marak terjadi, istri mengkhianati suaminya, atau suami mengkhianati istrinya.
Di antara penyebab suburnya perilaku-perilaku rendah dan buruk di atas ialah hilangnya dua akhlak utama dalam diri seorang mukmin yang seharusnya mengakar dalam hati, yaitu muraqabah dan al-haya’ (malu).
1. Muraqabah
Muraqabah merupakan kesadaran diri seorang muslim bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah SWT, kesadaran yang didorong dengan keimanan bahwa Allah senantiasa mengawasi, melihat, dan mencatat segala macam perilaku baik dan buruk, kecil dan besar.
وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا…
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 52)
Pada diri manusia kerap kali tersimpan keinginan jahat saat mereka sendiri tanpa diketahui orang lain.
Maka manusia adalah pengawas bagi dirinya sendiri. Potensi melakukan kejahatan dapat diatasi dengan dua hal, yakni merasa diawasi Allah karena takut murka-Nya atau karena takut kekuasaan negara.
Kita ingat kisah pemuda penggembala ternak yang diuji kejujurannya oleh Umar bin Khattab. Saat itu, Umar ingin membeli satu ekor domba yang digembalakan pemuda itu.
Dengan tegas pemuda itu menolak, “Saya tidak mau melakukan itu, Tuan, karena semuanya bisa kelihatan.
Meski juragan tidak tahu, tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui segala apa yang saya lakukan.” Begitulah jawaban yang menyenangkan hati Amirul Mukminin.
Kesadaran akan pengawasan Allah, baik dalam keadaan tertutup maupun terbuka, yang dilandasi keimanan akan memantulkan kebiasaan baik dalam diri manusia.
2. Al-Haya’ atau malu
Al-Haya’ merupakan perasaan yang menimbulkan keengganan untuk melakukan perbuatan tercela dan dosa.
Rasa malu ini timbul saat perbuatan bertentangan dengan kehendak Allah. Sifat malu memiliki keistimewaan dalam Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah sifat malu.” (HR. Malik)
Sifat malu adalah pantulan iman. Semakin tinggi iman seseorang, maka semakin tebal rasa malunya. Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan diri kita dari segala sikap dan perbuatan yang terlarang. Bahkan Nabi saw bersabda:
“Seandainya malu itu berwujud manusia, dia akan tampil sebagai seorang yang shalih.” (HR. Thabrani)
Sifat malu harus kita tumbuh-suburkan dalam hati agar perbuatan kita senantiasa dihiasi dengan kebaikan. Baik malu kepada Allah, malu kepada diri sendiri, maupun malu kepada orang lain. Tanpa adanya rasa malu, manusia pasti akan dikuasai oleh hawa nafsunya.
Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr, Nabi Muhammad saw bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari)
Penegasan Rasulullah SAW di atas mengingatkan bahwa seseorang yang kehilangan sifat malu akan kehilangan kontrol dalam mengendalikan segala perbuatan dan tingkah lakunya.
Dia akan menjadi manusia yang hilang kendali, bebas melakukan apa saja tanpa memandang baik dan buruk, manfaat dan mudaratnya. Bahkan, dia bisa rela melakukan apa saja hanya untuk memuaskan nafsunya tanpa ada rasa rikuh dan malu sedikit pun.
Oleh sebab itu, marilah kita menjaga diri dan keluarga kita dengan menggunakan dua akhlak di atas, yakni selalu merasa diawasi Allah dan malu akan perbuatan tercela dan dosa yang dibenci Allah SWT.
Nasrum minallah. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
