*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
Penelitian terkini menunjukkan bahwa pendekatan kindness strategy cenderung lebih efektif dalam membentuk karakter dan motivasi intrinsik siswa dibandingkan pendekatan reward and punishment, meskipun keduanya memiliki peran masing-masing dalam konteks pendidikan.
Kindness Strategy: Efektivitas dan Dampaknya
Menurut penelitian oleh Sujaya, S.Pd.Gr., kindness strategy:
• Meningkatkan kesejahteraan emosional dan kebahagiaan siswa
• Mendorong motivasi intrinsik dan kesadaran moral
• Membentuk hubungan positif antara guru dan siswa
• Mengurangi konflik dan meningkatkan kerja sama
• Cocok untuk pengembangan karakter jangka panjang
Reward and Punishment: Efektivitas dan Batasannya Penelitian menunjukkan bahwa:
• Reward seperti pujian dan hadiah meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa
• Punishment ringan dapat memperbaiki disiplin, tetapi harus diterapkan dengan hati-hati agar tidak merusak motivasi intrinsik
• Tantangan utama: ketidakkonsistenan guru dan potensi dampak psikologis negatif
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa reward berkontribusi lebih besar terhadap minat belajar (34,23%) dibanding punishment (9,97%).
Kesimpulan Penelitian;
• Kindness strategy lebih unggul dalam membentuk karakter dan motivasi jangka panjang.
• Reward and punishment tetap relevan, terutama untuk pengelolaan perilaku jangka pendek.
• Pendekatan terintegratif yang menggabungkan keduanya secara bijak adalah yang paling efektif.
Menurut penelitian, Kenapa harus kita geser dari reward and punishment ke kindness strategi :
Pertama, merusak akhirat, lillahnya hilang
Kedua, hanya menghasilkan penyakit metomania (kebohongan kronis).
Di dunia pendidikan dan pembinaan karakter, baik reward and punishment maupun kindness strategy memiliki tempatnya masing-masing—namun pendekatan yang dipilih akan sangat memengaruhi motivasi, hubungan, dan perkembangan jangka panjang anak.
Perbandingan Inti
Aspek Reward & Punishment – Kindness Strategy
Motivasi Ekstrinsik: anak bertindak karena ingin hadiah atau takut hukuman Intrinsik: anak bertindak karena memahami nilai kebaikan
Tujuan Mengontrol perilaku secara langsung menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab dari dalam
Pendekatan kesalahan hukuman untuk mencegah pengulangan
Refleksi dan pemulihan hubungan (restoratif)
Hubungan guru-murid transaksional relasional dan empatik
Dampak jangka panjang bisa bersifat sementara jika insentif hilang
Membentuk karakter yang tahan uji dan berkelanjutan
Mengapa Kindness Strategy Semakin Ditekankan?
Kindness strategy bukan sekadar “lembut,” tapi justru membangun keberanian moral, empati, dan integritas. Strategi ini:
• Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung
• Mengurangi konflik dan meningkatkan kerja sama
• Membantu anak memahami dampak tindakan mereka terhadap orang lain
• Menumbuhkan motivasi belajar yang tahan lama
Beberapa pendidik dan praktisi menyarankan menggabungkan kedua pendekatan:
• Gunakan reward and punishment untuk membentuk kebiasaan awal atau mengelola situasi tertentu
• Gunakan kindness strategy untuk membina karakter, hubungan, dan kesadaran jangka panjang
Pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang tarbiyah bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah bil lati hiya ahsan—yang menekankan pendidikan dengan kebijaksanaan, nasihat yang baik, dan dialog yang lembut.
Dalam Islam, pendekatan reward and punishment (targhib dan tarhib) dan kindness strategy (rahmah, ihsan, dan hikmah) bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan bagian dari satu kesatuan yang saling melengkapi dalam mendidik dan membentuk karakter manusia.
Reward and Punishment dalam Islam
• Reward (Targhib): Digunakan untuk memotivasi kebaikan, seperti janji surga, pahala, dan keberkahan dunia akhirat.
• Punishment (Tarhib): Bertujuan untuk memperbaiki, bukan menyakiti. Hukuman diberikan secara bertahap, adil, dan tidak kasar.
• Prinsipnya: Islam menekankan keseimbangan antara keduanya agar pembinaan akhlak berjalan efektif dan tidak menimbulkan trauma.
Kindness Strategy dalam Islam
• Rahmah (Kasih Sayang): Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam mendidik dengan kelembutan dan cinta.
• Hikmah (Kebijaksanaan): Allah memerintahkan untuk berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik (QS. An-Nahl: 125).
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ
اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Terjemah Kemenag 2019
125. Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah 424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.
424) Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil.
• Ihsan (Kebaikan): Mendidik dengan empati, memahami kondisi anak/murid, dan membangun hubungan yang penuh kepercayaan.
Kesimpulan dari Kajian Islam
• Islam tidak mengutamakan hukuman fisik. Sebaliknya, pendekatan kindness strategy lebih sesuai dengan semangat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
• Reward lebih diutamakan daripada punishment dalam pendidikan, namun keduanya tetap digunakan secara proporsional.
• Strategi terbaik adalah menggabungkan keduanya: kelembutan sebagai dasar, dan reward-punishment sebagai alat bantu untuk membentuk perilaku dan akhlak. (*)
