Dunia Menyambut Paus Leo XIV: Harapan Baru di Tengah Kekosongan Jiwa

*) Oleh : Farid Firmansyah S.Psi, M.Psi
www.majelistabligh.id -

Sepeninggal Paus Fransiskus, dunia bukan hanya kehilangan seorang pemimpin rohani. Lebih dari itu, banyak orang kehilangan sosok yang selama ini jadi suara hati—lembut tapi jelas.

Maka ketika Kardinal Robert Francis Prevost terpilih menjadi Paus Leo XIV, dunia pun menoleh. Siapa dia? Akan ke mana arah Gereja? Akankah cinta dan dialog tetap jadi nadanya?

Dalam psikologi sosial, pemimpin bukan sekadar jabatan, tapi simbol. Dalam krisis, manusia mencari figur yang bisa menenangkan, mengarahkan, dan menampung rasa kehilangan.

Paus Leo XIV hadir tepat saat dunia butuh pengingat baru bahwa nilai-nilai seperti belas kasih, keterbukaan, dan keberanian masih bisa dijaga, bahkan ketika pemimpinnya telah berpulang.

Banyak umat Katolik — dan bahkan non-Katolik — merasa terhubung secara emosional dengan figur pemimpin spiritual.

Transisi kekuasaan di Vatikan adalah momen kolektif yang menggugah memori dan harapan bersama. Psikologi menyebut ini sebagai collective emotional shift—perpindahan emosi sosial dari duka menuju harapan.

Namun bagi umat Islam, hadirnya pemimpin baru di agama lain bukan hanya berita. Ia juga kesempatan refleksi. Islam mengajarkan bahwa pemimpin yang baik adalah amanah, bukan simbol kekuasaan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Pemimpin, dalam pandangan Islam, bukan yang paling lantang, tapi yang paling jujur. Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim)

Jika Paus Leo XIV mampu melanjutkan warisan Paus Fransiskus—menjadi suara perdamaian, penyejuk di tengah kerasnya dunia—maka ia layak disebut pemimpin, meski bukan dari agama yang sama.

Dunia saat ini tidak kekurangan tokoh, tapi kekurangan keteladanan. Kita tidak butuh orang yang sempurna, tapi yang berjalan lurus meski jalannya penuh bebatuan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search