Dunia ini penuh dengan tiba-tiba. Kalimat sederhana ini terdengar singkat, namun memiliki makna yang sangat dalam jika direnungkan. Kehidupan manusia berjalan di atas ketidakpastian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, bahkan satu jam ke depan. Hari ini kita tertawa, esok bisa saja kita menangis. Hari ini kita sehat, besok mungkin terbaring lemah. Hari ini kita hidup, namun siapa yang bisa menjamin kita masih bernapas esok pagi?
Renungan ini semakin terasa ketika penulis membaca sebuah tulisan berbentuk komik di platform media sosial yang begitu menyentuh hati. Pesan yang disampaikan sederhana namun menghujam kesadaran: jangan pernah meninggalkan salat, karena dunia ini penuh dengan tiba-tiba. Sebuah pesan yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya sarat makna keimanan dan peringatan bagi setiap muslim.
Dunia yang Berubah dalam Sekejap
Dalam Islam, kita diajarkan bahwa dunia adalah tempat ujian. Allah Swt berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini memberikan penegasan bahwa perubahan kondisi hidup adalah sunnatullah. Hari ini seseorang bisa saja bergelimang harta, esok menjadi miskin. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba miskin. Tiba-tiba bahagia, tiba-tiba sedih, tiba-tiba jualan ramai, tiba-tiba sepi. Bahkan, yang paling pasti namun sering dilupakan: tiba-tiba meninggal dunia.
Renungan tentang dunia yang penuh dengan tiba-tiba ini semakin nyata ketika penulis teringat sebuah kisah dari seorang teman. Kisah ini bukan cerita rekaan, melainkan pengalaman hidup yang penulis dengar langsung dari pelakunya.
Teman penulis menuturkan bahwa kehidupannya pernah berada pada titik yang sangat gelap. Di masa awal pernikahannya, badai ujian seakan tidak pernah berhenti. Tekanan hidup dan masalah rumah tangga membuatnya semakin jauh dari Allah. Ia dengan jujur menceritakan masa lalunya yang kelam. Meski telah berumah tangga, ia sempat terjerumus dalam perbuatan yang jelas dilarang agama: meminum alkohol dan berselingkuh.
Yang lebih menyedihkan, di masa itu salat sama sekali tidak menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan ketika sang istri mengingatkan untuk salat, ia justru mengelak dan menolak. Hatinya keras, dan hidupnya berjalan tanpa arah.
Hingga suatu hari, datanglah sebuah “tiba-tiba” dari Allah. Ia diuji dengan penyakit. Ujian itu tidak hanya melemahkan tubuhnya, tetapi juga mengguncang batinnya. Dalam kondisi lemah dan tak berdaya itulah, ia mulai merenung. Ia sadar bahwa semua yang selama ini ia lakukan adalah kesalahan besar. Dunia yang ia kejar tidak memberinya ketenangan, justru menjauhkannya dari Allah.
Dari titik itulah, kehidupannya perlahan berubah. Ia berkomitmen untuk memperbaiki semuanya. Langkah pertama yang ia ambil adalah kembali menjaga salat. Salat menjadi awal hijrahnya, menjadi pondasi untuk memperbaiki diri, rumah tangga, dan hubungannya dengan Allah.
Setelah melewati masa-masa sulit itu, ia pernah bercerita kepada penulis dengan bahasa Jawa yang sederhana namun sangat dalam maknanya. “Awake dhewe iki ojo nganti ninggalke salat, utamane jamaah, opo maneh tahajude. Kerana awake dhewe ora ngerti ujug-ujuge Allah.” (“Kita ini jangan sampai meninggalkan salat, terutama salat berjamaah, apalagi tahajud. Karena kita tidak pernah tahu tiba-tiba dari Allah.”)
Kalimat itu begitu menampar hati penulis. Dari seseorang yang jauh dari salat, hingga kini menjadikan salat sebagai poros hidupnya. Perubahan itu bukan karena hidupnya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena ia memilih untuk kembali bersujud.
Salat di Tengah Ketidakpastian Dunia
Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, Islam memberikan satu pegangan utama bagi seorang hamba, yaitu salat. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan penopang kehidupan seorang muslim. Salat adalah penghubung langsung antara hamba dengan Rabb-nya.
Rasulullah saw bersabda, “Amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah salat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa salat memiliki kedudukan yang sangat agung. Ketika dunia penuh dengan tiba-tiba, salat menjadi persiapan terbaik menghadapi segala kemungkinan. Jika tiba-tiba kita dipanggil Allah, setidaknya kita wafat dalam keadaan menjaga hubungan dengan-Nya.
Pesan utama dari renungan ini adalah jangan pernah meninggalkan salat. Mengapa demikian? Pertama, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal datang. Menunda salat sama dengan menunda ketaatan, padahal bisa jadi itulah salat terakhir kita.
Kedua, salat adalah penolong di saat sempit. Allah Swt berfirman: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Dalam kondisi bahagia, salat menjaga kita dari kesombongan. Dalam kondisi sedih, salat menjadi sumber ketenangan. Dunia boleh berubah secara tiba-tiba, tetapi salat menjaga hati tetap kokoh.
Ketiga, meninggalkan salat adalah awal dari kelalaian yang lebih besar. Ketika salat diremehkan, maka nilai-nilai keimanan perlahan ikut runtuh. Dunia yang sudah penuh dengan fitnah akan semakin menjauhkan seseorang dari Allah jika tidak dijaga dengan ibadah.
Renungan tentang dunia yang penuh dengan tiba-tiba seharusnya menyadarkan kita bahwa dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah. Allah Swt berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-An’am: 32)
Ketika kita terlalu sibuk mengejar dunia, kita sering lupa bahwa semua bisa hilang dalam sekejap. Jabatan, harta, popularitas, dan kebanggaan duniawi tidak akan ikut bersama kita ke liang kubur. Yang akan menemani kita hanyalah amal, salah satunya adalah salat.
Tiba-Tiba yang Menjadi Peringatan
Tulisan berbentuk komik yang dibaca penulis mungkin terlihat sederhana, namun justru itulah kekuatannya. Pesan yang disampaikan tidak menggurui, tetapi mengetuk hati. Dunia ini penuh dengan tiba-tiba, dan setiap tiba-tiba adalah peringatan dari Allah.
Tiba-tiba kehilangan orang tercinta, agar kita sadar bahwa semua milik Allah. Tiba-tiba diuji kesulitan, agar kita kembali bersujud. Tiba-tiba diberi nikmat, agar kita bersyukur dan tidak lalai.
Bagi orang yang menjaga salat, setiap kejadian mendadak akan dihadapi dengan iman. Namun bagi yang lalai, tiba-tiba itu bisa menjadi penyesalan yang tak berujung.
Pesan terpentingnya adalah mari kita menjadikan salat sebagai prioritas utama dalam hidup. Jangan menunggu waktu luang untuk salat, tetapi luangkan waktu untuk salat. Jangan menunggu hati tenang untuk salat, karena justru salat yang menenangkan hati.
Jika hari ini kita masih diberi kesempatan hidup, itu adalah nikmat besar. Jangan sampai kesempatan itu berlalu tanpa sujud dan doa. Karena siapa tahu, esok hari kesempatan itu sudah tidak ada.
Dunia ini penuh dengan tiba-tiba. Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Hidup bisa berubah dalam sekejap, dan kematian bisa datang tanpa undangan. Di tengah ketidakpastian itu, salat adalah pegangan paling kuat bagi seorang muslim.
Semoga renungan ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak pernah meninggalkan salat, dalam kondisi apa pun. Karena ketika tiba-tiba itu datang, kita ingin menghadap Allah dalam keadaan siap, bukan menyesal. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam salat hingga akhir hayat. Aamiin.
