Dusta Sebagai Dosa Bercabang

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Jika hendak berbohong, haruslah pandai terlebih dulu. Karena ketika seseorang berbohong, ia harus memiliki perkataan yang lancar, pendirian yang kuat, serta janganlah jadi pelupa. Sebab kelemahan pembohong adalah jadi pelupa.

Orang yang jujur dan benar tidak akan lupa karena kebenaran itu senantiasa terekam dalam otaknya. Walaupun setelah beberapa tahun kemudian, hal tersebut masih dapat diingat jika orang bertanya padanya.

Meskipun bohong hanya satu perkara, namun narasi kebohongan itu akan terus berubah isinya sebanyak orang yang bertemu dengannya, karena ia selalu mencari pembenaran. Hingga ada pepatah, “kalau engkau hendak menjadi pembohong, janganlah jadi pelupa”.

Dosa yang dilakukan pendusta akan terus bercabang tanpa batasan, mungkin ia mengira dengan berdusta akan meloloskan dirinya dari tanggungan risiko perbuatannya. Padahal dusta hanya menyelamatkan ia sementara. Dosa pertama disusul oleh dosa kedua.

Sedangkan kebenaran adalah cahaya dari pangkal sampai ujungnya. Namun, dusta adalah tali sambung menyambung. Dusta itu tidak cukup satu kali, ia akan menjadi suatu kebiasaan, karena jiwanya tidak merdeka untuk menghadapi dinamika kehidupan. Parahnya, ia lari dari segala ujian kehidupan.

Dalam kaca mata IsIam, kebohongan memang suatu tanda kemunafikan, bahkan dalam Al Qur’an seorang pembohong dikatakan tidak beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْـكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.”
(QS An-Nahl : 105)

Berdasarkan ayat di atas, bahwa hidup yang dianjurkan oleh IsIam adalah hidup yang mempunyai kepercayaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iman menimbulkan takwa, ketakwaan ini akan memelihara jiwa-jiwa manusia dari hal-hal yang menjatuhkan martabatnya.

Iman dan takwa akan rusak dan binasa apabila seseorang telah berani berdusta. Dusta ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan orang yang hatinya tidak merdeka, karena ia tidak mampu mengatakan sesuai dengan hati nuraninya.

Semoga bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search