Emakku Bukan Kartini

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Sigit Subiantoro,
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Catatan kesaksian,
Ia tak menulis untuk mengispirasi banyak orang. Ia bahkan tak bisa baca tulis. Tapi kepeduliannya pada pendidikan telah mengubah nasibnya, nasib kami, anak-anaknya. Juga banyak orang di kampung kami.

Emak memang bukan Kartini, yang kita kenal sebagai pejuang emansipasi perempuan. Ia sama sekali buta huruf Latin hingga akhir hayatnya. Ia perempuan sederhana, bagian dari rakyat kecil yang mudah dijumpai setiap hari. Namun, emak punya mimpi besar. Mimpi indah yang dibangunnya dari cucuran keringat dan kerja keras tiada henti, demi masa depan anak-anaknya.

Keinginan emak cuma satu: anak-anaknya harus sekolah sampai pendidikan tinggi. Keinginan sederhana yang tak mudah terwujud, karena di kampungnya tak ada sekolah, miskin. Dan hampir tak punya apa-apa. Namun, emak bukanlah emak bila berhenti pada ketiadaan.

Tak ada sekolah? Ia dirikan sendiri. Tak ada uang? Ia berjuang mencari uang, membuka ladang, jadi petani, jadi pedagang, pengurus jenazah, sampai perias pengantin, ia lakoni

Meski kadang letih, penat, dan jemu. Toh, ketika tiba waktunya anak-anaknya terbang mencari ilmu, emak tak selalu melepas mereka pergi.

Kisah emak, dan ayah – suami emak, adalah gambaran sebagian besar orang tua di Indonesia. Orang tua yang kadang dibelit berbagai sekat keterbatasan. Kisah-kisah perjuangan yang senyap inilah yang turut membentuk generasi demi generasi di Indonesia sampai sekarang. Namun, dalam keterbatasan mereka, para orang tua itu tak akan menyerah untuk menyiapkan mimpi terbaik bagi anak-anaknya.

Semoga bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search