Empat Elemen Salat yang Menghidupkan Jiwa

*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep, pernah nyantri di PPS UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa perjalanan agung Nabi Muhammad menembus batas ruang dan waktu. Ia adalah undangan langit bagi manusia bumi untuk memahami kembali makna salat sebagai poros kehidupan manusia.

Berbeda dengan perintah syariat lain yang diturunkan di bumi, salat dianugerahkan langsung di Sidratul Muntaha. Ini sebagai tanda bahwa salat bukan hanya kewajiban, melainkan tali ruhani yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya.

Namun, Isra Mikraj juga memantik pertanyaan reflektif-menarik bagi kita, salat seperti apa yang benar-benar mengangkat derajat manusia dan menghidupkan jiwa?

Pertama, salatnya para khasyi‘un. Salat yang dihidupkan oleh kesadaran akhirat. Dalam QS. Al-Mu’minun, Allah membuka ciri orang beruntung dengan salat yang khusuk:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) mereka yang khusuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Kekhusukan bukan sekadar menundukkan pandangan atau memperlambat gerakan, tetapi lahir dari kesadaran mendalam akan posisi diri di hadapan Allah. Inilah yang ditegaskan dalam ayat:

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 46)

Kata “yazhunnuuna” bukan keraguan, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati. Orang yang salat dengan kesadaran akan perjumpaan dengan Allah tidak akan salat secara tergesa, lalai, apalagi asal gugur kewajiban. Kekhusukan lahir dari iman akan hari pulang ke Haribaan.

Kedua, Salat Daaimun. Salat yang konsisten menjaga hubungan. Allah juga memuji orang-orang yang daaimun dalam salatnya:

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

“Dan orang-orang yang terus-menerus dalam salatnya.” (QS. Al-Ma‘arij: 23).

“Daaimun” berarti berkesinambungan, bukan musiman. Salat tidak hanya rajin saat lapang, tetapi tetap ditegakkan di tengah lelah, sibuk, dan sempitnya hidup. Isra Mikraj mengajarkan bahwa salat adalah mikraj harian. Setiap hari jiwa kita dinaikkan, dengan cara setia menjaga ritmenya. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Salat Yuhâfizhûn. Salat yang dijaga dengan tanggung jawab. Bukan hanya dilakukan, salat juga harus dijaga:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 9)

Menjaga salat berarti menjaga waktunya, syaratnya, rukunnya, dan adabnya. Ia tidak diperlakukan sebagai aktivitas sela, tetapi sebagai prioritas utama. Orang yang menjaga salat sejatinya sedang menjaga hidupnya agar tetap berada di jalan-Nya. Karena hidup itu pada dasarnya menjaga dan menunggu waktu salat. Sisanya (bekerja di dunia) hanyalah selingan untuk menunggunya.

Keempat, salat yang tidak Sahûn dan tidak ghâfilûn. Salat yang dikerjakan tidak dengan kelalaian dan tanpa kesadaran. Allah memberi peringatan keras bagi salat yang kehilangan ruh:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)

Lalai bukan berarti tidak salat, tetapi salat tanpa kesadaran, tanpa pengaruh moral, tanpa dampak sosial. Salat yang benar adalah salat yang tidak sāhûn dan tidak ghâfilûn. Salat hadir di hati, sadar tujuan, dan berbuah kebaikan.

Begitulah, Isra Mikraj mengingatkan kita bahwa salat bukan sekadar perjalanan Nabi ke langit, tetapi undangan agar kita mengangkat jiwa dari rutinitas bumi menuju kesadaran Ilahi. Lihatlah salat kita, apakah ia sekadar kewajiban, atau benar-benar menjadi jalan pulang menuju Tuhan. Wallahu a’lamu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search