Dakwah Islam tidak dibangun di atas retorika, tetapi di atas keteladanan yang teruji. Sebab kebaikan yang hanya hidup di lisan akan runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan. Karena itu Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan manusia beriman, tetapi mengujinya dalam kehidupan nyata.
Dalam hikmah Arab dikenal satu ungkapan yang ringkas namun menghunjam, sejalan dengan cara Al-Qur’an mendidik manusia:
أَرْبَعَةٌ تَكْشِفُ أَرْبَعَةً
الْخُصُومَةُ تَكْشِفُ الْقُلُوبَ
وَالسَّفَرُ يَكْشِفُ الرِّفَاقَ
وَالْمَنْصِبُ يَكْشِفُ مَعَادِنَ الرِّجَالِ
وَالْفَقْرُ يَكْشِفُ وَفَاءَ الْأَهْلِ
Empat perkara menyingkap empat hakikat: perselisihan menyingkap isi hati, perjalanan menyingkap kualitas pertemanan, jabatan menyingkap jati diri manusia, dan kemiskinan menyingkap kesetiaan keluarga.
Kalimat ini mengajarkan bahwa kepribadian tidak diuji di mimbar, tetapi di medan kehidupan.
Perselisihan: Ukuran Kejujuran Akhlak
Ketika suasana damai, semua orang bisa berbicara tentang adab. Namun saat terjadi perselisihan, di situlah tampak siapa yang benar-benar berakhlak dan siapa yang hanya pandai berkata-kata. Perselisihan memaksa seseorang memilih: apakah tetap adil walau dirugikan, atau menukar prinsip dengan emosi.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa iman bukan sekadar pernyataan:
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’, sementara mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Dari sini jelas bahwa konflik bukan sekadar masalah sosial, tetapi alat ukur kualitas iman dan akhlak.
Perjalanan: Ujian Ukhuwah yang Sebenarnya
Dalam perjalanan, kenyamanan dicabut dan kesabaran diuji. Tidak ada ruang bagi kepura-puraan yang lama. Siapa yang ringan membantu akan terlihat, siapa yang hanya hadir saat enak akan tersingkap.
Ukhuwah tidak dibuktikan lewat slogan, tetapi lewat kesediaan memikul beban bersama. Karena itu safar menjadi sarana tarbiyah yang efektif: membentuk pribadi yang sabar, peduli, dan bertanggung jawab. Pertemanan yang lolos ujian perjalanan biasanya bukan pertemanan basa-basi, melainkan ukhuwah yang berakar pada nilai.
Jabatan: Amanah, Bukan Kehormatan
Dalam Islam, jabatan bukan tanda kemuliaan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Kekuasaan tidak otomatis menunjukkan kualitas seseorang, justru di sanalah kualitas itu diuji.
Jabatan menyingkap apakah seseorang benar-benar menjadikan nilai Islam sebagai kompas keputusan, atau hanya sebagai simbol. Banyak yang fasih berbicara tentang keadilan, tetapi goyah ketika memiliki kuasa. Karena itu dakwah harus melahirkan kader yang siap memegang amanah, bukan sekadar siap tampil di depan.
Kemiskinan: Ujian Ketulusan dan Solidaritas
Saat harta ada, kebersamaan terasa mudah. Namun ketika harta berkurang, barulah terlihat siapa yang bertahan karena iman, dan siapa yang pergi karena kepentingan.
Kemiskinan bukan kehinaan, tetapi medan latihan kesabaran dan keikhlasan. Di situlah keluarga dan lingkungan diuji: apakah tetap saling menguatkan, atau justru saling meninggalkan. Islam memandang kesetiaan bukan dari kelapangan, tetapi dari keteguhan dalam kesempitan.
Ujian sebagai Metode Tabligh yang Hakiki
Empat perkara ini menegaskan satu prinsip penting dalam dakwah dan tabligh: Islam tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi menguji siapa yang benar-benar mau hidup dengan kebenaran itu.
Konflik menguji kejujuran
Perjalanan menguji ukhuwah
Jabatan menguji amanah
Kemiskinan menguji ketulusan
Karena itu tugas tabligh bukan hanya memperbanyak ceramah, tetapi membentuk manusia yang kokoh saat diuji—di rumah, di jalan, di struktur, dan di tengah keterbatasan.
Sebagaimana semangat pembinaan umat yang menjadi ruh kerja Majelis Tabligh Muhammadiyah, bahwa dakwah sejati melahirkan pribadi yang selaras antara iman, ucapan, dan perbuatan. Sebab pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari apa yang ia ucapkan di mimbar, tetapi dari apa yang ia pertahankan ketika hidup mengujinya. (*)
