Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya tengah menggelar program roadshow bertajuk “Dari Pesantren ke Kampus: Menyemai Santri sebagai Intelektual Muslim Masa Depan.”
Program ini merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat sinergi antara pendidikan pesantren dan pendidikan tinggi Islam, serta membuka ruang kolaborasi untuk mencetak generasi santri yang cakap secara intelektual dan spiritual.
Roadshow ini dilakukan dengan mengunjungi sejumlah pesantren ternama di Jawa Timur.
Di antaranya adalah Pondok Pesantren Persis Bangil, Muhammadiyah Boarding School (MBS) Mojokerto, Pondok Pesantren An-Nur Bojonegoro, dan Ma’had Al-Ittihad Al-Islami Camplong.

Kegiatan yang berlangsung selama Mei hingga Juni 2025 ini diisi dengan kunjungan langsung, dialog akademik, serta sosialisasi program-program unggulan FAI UM Surabaya.
Dekan FAI UM Surabaya Dr. Thoat Stiawan, SHI, MHI mengatakan, program ini menjadi langkah nyata kampus untuk menjalin kemitraan strategis dengan pesantren-pesantren potensial.
“Santri adalah aset strategis umat dan bangsa. Dengan bekal akademik dan spiritual yang kuat, mereka tidak hanya siap menjadi ustaz dan dai, tetapi juga pemimpin, akademisi, ekonom syariah, dan agen perubahan dalam berbagai bidang,” ungkapnya kepada Majeliatabligh.id, pada Senin (28/7/2025).
Menurut Thoat, roadshow ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas program studi, skema beasiswa, dan jalur penerimaan mahasiswa baru yang ditawarkan oleh FAI UM Surabaya.
Dia menambahkan, pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya bagi para santri yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Salah satu titik kunjungan berlangsung pada 29 Mei 2025 di Ma’had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Ustaz Andika, Kepala Asrama Ma’had, menyambut baik inisiatif tersebut.
“Kehadiran FAI UM Surabaya menjadi angin segar bagi kami. Kami percaya bahwa kerja sama seperti ini dapat memperluas wawasan santri sekaligus membuka jalan untuk masa depan mereka di dunia akademik,” ujarnya.
Kunjungan berikutnya dilakukan pada 30 Juni 2025 ke Pondok Pesantren An-Nur Bojonegoro.
Ustaz Abdul Qodir, Mudir Ma’had, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada seremonial semata, tetapi berlanjut pada kolaborasi konkret di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.
“Kami berharap ke depan bisa ada pelatihan, seminar, atau bahkan riset kolaboratif antara pesantren dan kampus,” katanya.
Hal senada disampaikan Ustazah Elok dari Pesantren Persis Bangil, yang dikunjungi pada 11 Juni 2025.
Menurutnya, dunia pesantren hari ini membutuhkan jembatan ke dunia perguruan tinggi agar santri bisa lebih adaptif terhadap tantangan zaman.
“Santri tidak boleh tertinggal dalam hal literasi akademik dan teknologi. Inisiatif seperti ini sangat penting untuk mendorong santri maju,” tuturnya.
Selain menjalin silaturahmi dan komunikasi akademik, kegiatan ini juga dirancang untuk membuka ruang kaderisasi ulama dan intelektual muda Islam.

FAI UM Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para santri dalam proses transformasi dari lingkungan pesantren ke lingkungan kampus, tanpa kehilangan jati diri keislaman mereka.
“Dari pesantren ke kampus, bukan berarti meninggalkan tradisi, tapi justru memperkaya tradisi dengan ilmu yang lebih luas dan perspektif global,” ujar Thoat.
FAI UM Surabaya, kata dia, berharap dapat memperkuat jaringan dan menciptakan ekosistem pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing, dan tetap membumi. (wh)
