Fatimah Tak Rela Tinggalkan Ibunya yang Disabilitas, PPIH Wujudkan Haji Humanis

www.majelistabligh.id -

Komitmen pemerintah melalui Kementerian Agama dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dalam mewujudkan layanan haji ramah lansia dan disabilitas kini dibuktikan lewat kebijakan reunifikasi jemaah. Salah satu contohnya adalah kisah Fatimah Zahro, jemaah asal Jember, yang akhirnya bisa berangkat ke Makkah bersama ibunya yang disabilitas, setelah sebelumnya terancam berpisah karena perbedaan syarikah.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (20/5/2025) pagi. Fatimah, yang tergabung dalam kloter SUB 31 (Surabaya), dijadwalkan berangkat dari Madinah ke Makkah bersama suami dan ibunya, Junaina—seorang lansia dengan gangguan penglihatan akibat diabetes. Namun, saat waktu pemberangkatan tiba, mereka justru mendapat bus yang berbeda karena tercatat di syarikah yang berbeda.

Fatimah yang mendapat bus nomor 6 bersama suaminya, menolak berpisah dari ibunya yang mendapat bus nomor 10.

“Saya tidak mau kalau berpisah dengan ibu. Khawatir ibu perlu sesuatu. Alhamdulillah, disetujui untuk berangkat bersama ke Makkah,” ujarnya haru saat ditemui di Hotel Abraj Tabah, Madinah.

Merespons situasi itu, Ketua Sektor 2 Madinah langsung melakukan intervensi. Setelah negosiasi dengan pihak syarikah, nama Fatimah dan ibunya dicabut dari manifest, dan keduanya diberangkatkan bersama secara khusus dengan dukungan petugas, sementara suaminya tetap berangkat lebih dulu.

Kisah ini hanyalah satu dari banyak kasus jemaah yang sempat terpisah akibat sistem distribusi delapan syarikah tahun ini. Di tahap awal, ratusan jemaah sempat tertahan di Hotel Transit Diyar Taibah, Madinah, karena tidak satu syarikah dengan rombongannya.

Namun berkat upaya sistematis Daerah Kerja (Daker) Madinah, seluruh jemaah yang sempat terpisah akhirnya berhasil diberangkatkan ke Makkah, termasuk rombongan terakhir yang terdiri dari 220 jemaah menggunakan 13 unit bus coaster pada Senin (19/5) malam.

Kepala Daker Madinah, M. Lutfi Makki menyatakan, “Ini adalah rombongan terakhir dan semoga tidak ada lagi jemaah terpisah dari rombongan saat pemberangkatan ke Makkah.”

Untuk menghindari kejadian serupa, PPIH Madinah bahkan menerapkan pendekatan di luar prosedur standar dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Jemaah lansia dan disabilitas yang memerlukan pendamping diizinkan untuk diberangkatkan terpisah dari rombongan asal, demi kebersamaan dan kenyamanan mereka.

Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, mengapresiasi langkah tersebut.

“Ini bukan hanya soal teknis administratif, tetapi wujud nyata empati. Petugas bahkan berani mencabut jemaah dari manifest demi menjaga kenyamanan dan kesehatan mental lansia dan penyandang disabilitas,” ujarnya saat bertemu langsung dengan Fatimah dan Junaina.

Deka menambahkan bahwa KND juga mendukung penuh pemetaan jemaah yang masih tinggal di hotel, agar bisa diantisipasi lebih awal. “Kami minta petugas mendata sejak sore, bukan besok saat keberangkatan,” katanya.

Upaya ini menjadi bukti bahwa layanan haji tahun ini semakin berpihak kepada jemaah yang rentan. Dari penanganan teknis, pendampingan psikologis, hingga tindakan-tindakan kecil yang bermakna—seperti memberi makan dan memijat jemaah yang kelelahan—semua menjadi bagian dari pelayanan yang berorientasi pada kemanusiaan.

Kini seluruh jemaah yang sempat terpisah telah berada di Makkah, dan PPIH berharap semangat reunifikasi ini terus berlanjut hingga fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Haji ramah lansia dan disabilitas tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah menjadi aksi nyata di lapangan. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search