Setiap manusia memiliki potensi alami untuk bertuhan. Potensi ini bukan hanya bawaan, tetapi merupakan bagian dari desain dasar atau fitrah manusia yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan, sebelum seseorang lahir sebagai manusia utuh—yang terdiri dari jasad, ruh, dan hawa nafsu—fitrah ini sudah melekat.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Saad Ibrahim, dalam acara Ideopolitor Muhammadiyah Regional Sumatra 1 yang digelar di Deli Serdang, Sumatra Utara, pada Selasa (21/1/2025).
“Manusia itu memiliki potensi untuk bertuhan. Jika kita membahas antropologi agama, setiap masyarakat primitif selalu memiliki kebutuhan untuk mencari sesuatu yang lebih besar, seperti zat super yang mereka sembah atau berikan persembahan,” ujar Kiai Saad, panggilan karibnya.
Menurut beliau, keinginan manusia untuk mencari sesuatu yang lebih besar ini adalah bentuk dari fitrah yang telah ditanamkan oleh Allah SWT.
Selain itu, manusia juga dirancang memiliki fitrah untuk senantiasa mencari kebaikan, keindahan, dan kemerduan. Dua desain dasar ini menjadi bukti sifat rahman dan rahim Allah kepada umat manusia.
Namun, fitrah ini tidak berdiri sendiri. Dalam rahmat-Nya, Allah juga melengkapi manusia dengan pedoman hidup berupa agama.
Agama diturunkan kepada para nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam adalah agama yang telah diajarkan sejak Nabi Adam hingga Rasulullah Muhammad saw sebagai penyempurna.
“Agama diberikan agar manusia dapat hidup selaras dengan fitrahnya. Ruh manusia secara alami siap menerima agama. Tetapi, jika seseorang menolak agama, itu disebabkan oleh hawa nafsu yang menguasainya,” kata Kiai Saad.
Kiai Saad menjelaskan bahwa dua desain fitrah utama manusia, yakni bertuhan serta mencari kebaikan, keindahan, dan kemerduan, adalah petunjuk internal dan eksternal dari Allah SWT.
Petunjuk ini dirancang untuk membantu manusia mengenali diri mereka sendiri dan mendekat kepada Sang Pencipta.
Beliau juga menekankan bahwa kebenaran agama sering kali ditolak oleh orang-orang yang terjebak dalam hawa nafsu.
Meski demikian, manusia yang mengikuti fitrahnya akan lebih mudah menerima ajaran agama, karena mekanisme tersebut telah menjadi bagian dari desain ilahi yang sempurna.
“Desain dasar ini adalah cara Allah mempersiapkan manusia untuk memahami dan menjalani kehidupan dalam keseimbangan spiritual dan moral,” tutupnya.
Artikel ini menggambarkan bagaimana fitrah manusia dirancang untuk bertuhan, mencari kebaikan, dan menerima agama sebagai pedoman hidup, serta bagaimana hawa nafsu dapat menjadi penghalang utama dalam menjalani fitrah tersebut. (*/tim)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
