(Catatan Hari Bumi Sedunia 22 April 2025)
Oleh: Ali Efendi, M.Pd.
Kepala SMPM 14 Ponpes. Karangasem Paciran & Pengurus IGI Jawa Timur
Sekedar mengingatkan setiap tanggal 22 April diperingati Hari Bumi (Earth Day) sedunia. Bukan tanpa alasan aktivis lingkungan memperingati hari tersebut. Hal ini, untuk mengingatkan kepada masyarakat dunia akan kesadaran dan apresiasi terhadap planet tempat tinggal manusia dan makhluk lainnya.
National Geographic melansir gagasan untuk menyelamatkan bumi dari krisis ekologi muncul dari seorang senator Amerika Serikat asal Wisconsin dan pengajar lingkungan hidup, Gaylord Anton Nelson pada tahun 1970. Tahun 2025 merupakan peringatan yang ke-55 dengan mengambil tema “Kekuatan Kita, Planet Kita”.
Bumi merupakan salah satu planet dalam tata surya yang paling ramah ditempati manusia untuk mengembangkan keturunannya. Berdasarkan World Population Facts, polpulasi saat ini lebih dari 8 miliar jumlah penduduk di muka bumi. Setiap 12 sampai dengan 15 tahun diperkirakan jumlah penduduk bertambah 1 miliar.
Di usia semakin sudah semakin tua, persoalan dan ancaman yang dihadapi bumi semakin berat dan beragam. Misalnya; ancaman sampah, krisis air besih, pencemaran, pemanasan global, dan sebagainya. Manusia harus bertanggungjawab sebagai pelaku utama dalam memanfaatkan dan eksploitasi bumi berlebihan sehingga mengakibatkan ekosistem berubah.
Dalam Al Qur’an Allah SWT memberikan tugas kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk melestarikan. Jadi manusia mestinya menjaga bumi dengan baik, bukan malah merusaknya. Padahal Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan di bumi.
Menjaga Bumi dengan Landasan Tauhid
Dialog Allah dengan malaikat tentang rencana menjadikan manusia sebagai pemimpin di dunia yang diabadikan dalam QS. Al Baqarah: 30. Malaikat sempat memprotes agenda tersebut, karena manusia berpotensi untuk membuat kerusakan di muka bumi. Tetapi Allah dengan tegas menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Prediksi dan kekhawatiran malaikat tentang manusia benar-benar terbukti adanya, dengan nafsu yang dimiliki manusia mengadakan permusuhan dan pertumpahan darah dengan sesama. Di samping itu, manusia membuat kerusakan di muka bumi sebagaimana firman Allah:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).
Manusia diingatkan Allah untuk kembali ke jalan yang benar sesuai dengan misinya sebagai pemimpin di muka bumi yang bertugas untuk menjaga dan melestarikan bumi. Maka nikmat dan karunia berupa bumi harus benar-benar disyukuri dengan menguatkan dua pondasi berikut:
Pertama, tidak menyekutukan Allah (syirik) padahal kita mengetahui bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa paling besar dan tidak diampuni Allah. Nikmat Allah berupa bumi sebagaima difirmankan:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 22).
Di awal ayat Allah memanjakan manusia dengan beragam buah-buahan sebagai rizki dan di akhir ayat Allah mengancam tidak boleh melakukan perbuatan syirik, padahal manusia mengetahui. Maka hanya landasan tauhid, manusia akan mampu menjaga amanat untuk melestarikan bumi sebagai bagian dari tugas khalifah.
Kedua, menyadari dengan sunguh-sungguh tempat kembali manusia adalah Allah SWT. Manusia diberi karunia tinggal di bumi dengan beragam kemudahan untuk melakukan penjelajahan di seluruh penjuru dunia dengan misi mencari rizki dari Allah sebagaimana firman-Nya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (Kembali)” (QS. Al-Mulk: 15).
Manusia harus ingat bahwa sejauh-jauh melakukan perjalanan di penjuru dunia untuk mencari kemasyhuran dan ketenaran, tetapi sifat hanyalah sementara. Hidup di dunia, ibarat tamu mampir dan minum seteguk air. Jadi di dunia tidak ada yang abadi, pada akhirnya manusia akan mati dan kembali kepada Allah.
Upaya menjaga dan melestarikan bumi bisa dilakukan dengan pondasi utama berupa tauhid dan kesadaran diri akan kembali kepada Allah. Tetapi perlu diingat bahwa menjaga dan melestarikan bumi bukan tanggungjawab pribadi, namun kesadaran kolektivitas.
Selamat Hari Bumi 22 April 2025, mari menjaga dan melestarikan bumi sebagai amanah khalifah dari Allah SWT.(*)
