“Gaspol” Ekonomi Umat! Seruan Prof. Muhadjir untuk Mewujudkan Pilar Ketiga Muhammadiyah

www.majelistabligh.id -

Ada pesan penting nan menggugah dari Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy, dalam acara Silaturahim Syawal 1446 H di Pondok Pesantren Al Mujahiddin, Balikpapan, Ahad (27/4/2025). Dengan gaya bicara yang khas dan penuh semangat, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji itu “menagih” komitmen Muhammadiyah agar lebih serius dalam memberdayakan ekonomi umat, selaras dengan salah satu pilar utama gerakan kita.

“Pengajian kita jangan cuma asyik bahas fikih atau surga dan neraka saja!” ujarnya disambut antusias oleh para pimpinan dan warga Muhammadiyah yang hadir. “Sudah saatnya gaspol ekonomi umat,” imbuhnya.

Prof. Muhadjir menegaskan, Islam adalah agama yang kaffah—menyeluruh—mengatur semua aspek kehidupan, termasuk persoalan ekonomi. Maka, sudah saatnya pengajian di lingkungan Muhammadiyah diperluas jangkauannya. Tidak hanya memperdalam ilmu agama secara ritual, tapi juga membekali jamaah dengan skill dan mindset kewirausahaan. Ini adalah bentuk implementasi nyata dari pilar ketiga Gerakan Muhammadiyah: Pemberdayaan Masyarakat, sebagaimana ditegaskan dalam Muktamar Makassar tahun 2015.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan telah lama memiliki tiga pilar utama: Gerakan Dakwah, Gerakan Pendidikan, dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat.

Ketiganya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi, menjadi sangat krusial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di era persaingan dan ketimpangan ekonomi saat ini, lanjut Muhadjir,  umat Islam—khususnya warga Muhammadiyah—tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Warga Muhammmadiyah memiliki modal besar: jaringan luas, nilai-nilai Islam yang kokoh, dan budaya kerja yang berlandaskan kejujuran, amanah, serta gotong royong.

“Nilai-nilai ini, yang sering kita dengungkan dalam pengajian, sejatinya merupakan fondasi utama ekonomi yang berkah dan berkelanjutan,” jelasnya.

Prof. Muhadjir melihat potensi luar biasa dalam pengajian. Ia menyebutnya sebagai “inkubator” pengusaha Muslim yang tangguh dan berintegritas. Bayangkan, setelah mendengarkan tausiyah yang menyejukkan, jamaah juga mendapatkan wawasan praktis—tentang memulai usaha kecil, mengatur keuangan keluarga, hingga memanfaatkan peluang ekonomi lokal. Ini bukan sekadar wacana, tapi langkah konkret dalam mengangkat harkat umat.

Aksi Nyata dari Akar Rumput di Kalimantan Timur

Lantas, bagaimana mewujudkan pesan ini secara nyata di Kalimantan Timur? Jawabannya sederhana: integrasikan pemberdayaan ekonomi dalam setiap gerak langkah persyarikatan, dari pengajian hingga amal usaha. Di tingkat ranting dan cabang, kita bisa melakukan langkah-langkah konkret seperti:

  • Integrasi Materi Ekonomi dalam Pengajian, sisipkan bahasan ekonomi praktis secara rutin dan terstruktur. Undang narasumber kompeten—baik dari internal maupun eksternal—yang menguasai dunia usaha dan memahami nilai-nilai Islam.
  • Fasilitasi Pembentukan Kelompok Usaha Produktif, dorong terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil sesuai potensi lokal. Berikan pendampingan dan akses informasi sebagai bentuk nyata pemberdayaan kolektif.
  • Optimalkan Amal Usaha Muhammadiyah, jjadikan koperasi, unit usaha masjid, dan amal usaha lainnya sebagai lokomotif pemberdayaan ekonomi. Libatkan warga dalam pengelolaan dan pengembangannya.
  • Kembangkan Keterampilan Kewirausahaan.  Selenggarakan pelatihan-pelatihan singkat yang membekali warga dengan kemampuan praktis, seperti pemasaran digital, pengelolaan keuangan keluarga, atau produksi barang/jasa.
  • Bangun Jaringan Ekonomi Umat, Fasilitasi kerja sama antar warga Muhammadiyah, mulai dari produksi hingga distribusi dan pemasaran. Manfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan usaha.

Pesan Prof. Muhadjir bukan sekadar pengingat, tapi seruan gerakan: untuk kembali ke akar nilai Muhammadiyah yang progresif dan membumi. Ini adalah ajakan untuk menjadikan pengajian sebagai pusat pembelajaran multidimensi—menguatkan iman sekaligus membangun kemandirian ekonomi umat.

Kini saatnya warga Muhammadiyah bergerak bersama, bergandengan tangan, saling menguatkan. Dengan menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai ruh gerakan di setiap lini Muhammadiyah.  Tidak hanya memajukan persyarikatan, tapi juga berkontribusi nyata bagi kesejahteraan Kalimantan Timur dan umat Islam secara keseluruhan. (amir hady, Sekretaris PWM Kaltim)

Tinggalkan Balasan

Search