Gatot Nurmantyo vs Hercules: Dua Dunia, Dua Pendekatan, Satu Indonesia

*) Oleh : Farid Firmansyah S.Psi, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Nama Gatot Nurmantyo dan Hercules Rosario Marshal bukan nama asing di telinga publik Indonesia. Yang satu jenderal, simbol ketegasan militer. Yang satu mantan preman, simbol kekuatan jalanan.

Tapi belakangan, nama mereka sering disebut bersamaan — bukan dalam kolaborasi, tapi dalam perseteruan terbuka soal arah bangsa.

Semua bermula dari pernyataan Gatot Nurmantyo yang mengkritik keras keberadaan premanisme berjubah ormas. Ia menyebut ada pihak yang mencoba membungkus kekerasan dengan nama organisasi massa.

Tanpa menyebut nama, publik langsung mengaitkan itu dengan Hercules dan GRIB, organisasi rakyat yang ia dirikan dan pimpin.

Dan benar saja, Hercules tidak tinggal diam. Dalam berbagai kesempatan, ia membalas dengan nada yang tidak kalah keras — menegaskan bahwa dirinya bukan preman, tapi pejuang rakyat.

Dari sisi psikologis, ini bukan sekadar konflik antarpribadi. Ini soal benturan gaya kepemimpinan dan narasi kekuasaan. Gatot mewakili sistem, disiplin, dan pendekatan resmi negara.

Hercules hadir dari jalanan, dari pengalaman pahit jadi yatim piatu di Timor Timur, dari luka perang yang membuatnya kehilangan satu mata dan satu tangan. Keduanya keras, tapi berasal dari dunia yang sangat berbeda.

Yang menarik, perseteruan ini bukan soal hukum. Bukan soal senjata. Tapi soal legitimasi moral: siapa yang lebih berhak bicara soal bangsa?

Apakah suara jenderal lebih sah dibanding suara rakyat kecil yang pernah berjibaku di jalan? Atau sebaliknya?

Islam mengajarkan bahwa keadilan tak boleh pandang status.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Perseteruan Gatot dan Hercules seharusnya tidak dipandang sebagai tontonan, tapi cermin: tentang bagaimana bangsa ini masih bergulat dengan siapa yang boleh bersuara, siapa yang dianggap “cukup pantas” bicara soal kebenaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Search