Gede Rumongso

*) Oleh : Suko Wahyudi,
PRM Timuran Kota Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Dalam dinamika kehidupan masyarakat Jawa, kita sering mendengar istilah gede rumongso, sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang secara harfiah berarti “terlalu merasa.”

Ungkapan ini bukan sekadar idiom lokal, melainkan cerminan dari sikap batin yang kerap menjangkiti manusia: merasa paling berjasa, paling tahu, paling penting, atau paling benar dibandingkan orang lain.

Sikap ini tumbuh subur di lingkungan masyarakat yang kurang terbiasa dengan budaya introspeksi. Ketika seseorang merasa telah berbuat banyak untuk orang lain, komunitas, atau bahkan agama, lalu menuntut pengakuan dan penghormatan, di situlah akar dari gede rumongso mulai tumbuh. Padahal, dalam Islam, semua amal hanya bernilai di sisi Allah jika dilandasi dengan keikhlasan.

Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat keras terhadap kesombongan, bahkan yang tersembunyi. Beliau bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa kesombongan sekecil apa pun—termasuk merasa lebih dari orang lain—merupakan penghalang utama menuju surga.

Menariknya, Islam justru memerintahkan umatnya untuk tidak merasa suci dan tidak merasa lebih baik dari yang lain. Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32). Ayat ini menyadarkan kita bahwa ukuran kemuliaan bukanlah berdasarkan pandangan manusia, melainkan penilaian Allah yang Maha Mengetahui isi hati.

Sikap gede rumongso sangat mungkin muncul dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Di antara mereka yang aktif berdakwah, membina umat, atau memimpin komunitas, godaan untuk merasa paling berjasa sangat besar.

Jika tidak berhati-hati, amal saleh bisa ternoda oleh keinginan untuk dipuji, yang justru menghapus nilai amal tersebut di sisi Allah.

Dalam sejarah Islam, para salafus saleh sangat berhati-hati terhadap pujian dan pengakuan. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, misalnya, meskipun beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw dan memiliki kontribusi besar dalam perjuangan Islam, ia selalu menempatkan dirinya dalam posisi yang rendah hati.

Ketika umat Islam menyampaikan pujian kepadanya, beliau tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Sebaliknya, ia lebih memilih menyembunyikan amalnya agar tidak terjerumus dalam riya’.

Sebaliknya, orang yang merasa besar dalam amalnya cenderung menuntut balasan dan penghormatan. Ia mudah kecewa ketika namanya tidak disebut, tersinggung saat tidak diberi tempat, dan sakit hati ketika nasihatnya tidak diindahkan. Padahal, Allah mencintai hamba yang memberi tanpa pamrih dan menebar manfaat tanpa mengungkit.

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapuskan sebagian kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 271)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikannya bersih (tak bertanah). Mereka tidak memperoleh apa pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Sikap seperti ini juga merusak harmoni sosial. Ia menciptakan jarak dengan sesama, menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan dapat memecah persatuan.

Padahal, Rasulullah saw telah mencontohkan pentingnya tawadhu’ (rendah hati) dalam setiap aspek kehidupan. Beliau tidak pernah meninggikan diri, meskipun beliau adalah pemimpin para nabi.

Gede rumongso juga berbahaya karena menutup pintu nasihat. Seseorang yang merasa dirinya paling benar akan sulit menerima koreksi. Ia merasa tidak perlu belajar dari orang lain, bahkan dari mereka yang lebih muda atau memiliki peran yang lebih kecil. Padahal, dalam Islam, ilmu dan kebenaran bisa datang dari siapa saja, dan nasihat merupakan bagian dari agama.

Dalam konteks dakwah, seorang pendidik atau pemimpin umat harus ekstra waspada terhadap penyakit hati ini. Ketika dakwah mulai menampakkan hasil, banyak orang mendekat, dan pujian datang dari berbagai arah—di situlah ujian keikhlasan benar-benar dimulai. Jangan sampai langkah dakwah berubah arah menjadi ajang pencitraan atau penonjolan diri.

Allah SWT  mengajarkan dalam Al-Qur’an bahwa segala amal harus murni karena-Nya. Dalam Surah Al-Insan ayat 9, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang berkata:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan rida Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” Beginilah seharusnya sikap seorang mukmin.

Jika seseorang mampu meredam gede rumongso, lalu menggantinya dengan rumongso cilik (merasa diri kecil di hadapan Allah dan sesama), maka ia akan lebih banyak belajar, lebih mudah menerima masukan, dan lebih dicintai manusia. Allah berjanji dalam Surah Al-Furqan ayat 63:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…”

Kehidupan dunia ini fana, dan segala pujian manusia hanya sementara. Maka, jangan sampai kita menghabiskan hidup untuk mengejar pengakuan, sementara rida Allah justru terabaikan. Amal yang ikhlas meskipun tidak terlihat manusia, jauh lebih baik daripada amal besar yang diliputi riya dan penuh tuntutan pengakuan.

Dalam suasana kehidupan umat yang kompleks ini, menjaga hati agar tidak gede rumongso adalah jihad batin yang besar. Hanya dengan keikhlasan, tawadhu’, dan muhasabah yang terus-menerus, kita dapat menjaga amal agar tetap bersih dan bernilai di sisi Allah SWT.

Akhirnya, mari kita jadikan nasihat ini sebagai cermin bagi diri kita masing-masing. Jangan hanya melihat ke luar, tetapi mari menyelami ke dalam hati kita sendiri.

Adakah di sana rasa ingin dipuji? Adakah rasa kecewa saat tidak dihargai? Jika iya, maka mungkin sudah saatnya kita belajar kembali tentang makna ikhlas dan ketulusan dalam beramal. (*)

Tinggalkan Balasan

Search