Generasi Literat Itu Nyata: Suara Kader Muhammadiyah Tak Lagi Diam

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Nashrul Mu’minin
Content Writer Yogyakarta

Menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar mengenakan atribut organisasi atau hadir dalam forum-forum ideologis. Lebih dari itu, menjadi kader adalah tentang menyuarakan kebenaran, memperjuangkan nilai, dan menulis sejarah.

Namun dalam keseharian, kerap aku mendapati kenyataan pahit: ruang digital dibanjiri hoaks, opini kosong mendominasi, dan suara kader literat malah nyaris tak terdengar. Aku bertanya dalam hati, “Apakah benar generasi literat di tubuh Muhammadiyah hanya sekadar mitos?” Bila tiada yang bersuara, tiada yang menulis, maka segala yang telah diperjuangkan hanya akan lenyap dalam senyap.

Setiap hari Ahad, aku melawan senyap itu. Dalam sunyi pagi yang hangat, aku duduk menulis, merangkai kata demi kata sebagai bentuk jihad intelektual. Inilah “Ahad Produktif”, ruang kecil yang kuciptakan sendiri, agar semangat literasi kader tak padam begitu saja. Karena aku tahu, jika bukan kita yang menulis, maka orang lain akan menulis untuk kita—dan belum tentu tulisannya adil. Maka, menulis menjadi bentuk nyata dari kesetiaan terhadap nilai dan harapan Muhammadiyah.

Kenyataan yang kurasakan, banyak kader muda Muhammadiyah terjebak dalam pola pikir konsumtif terhadap informasi. Mereka rajin menyimak, membagikan, bahkan memperdebatkan, tapi jarang yang bersedia menciptakan narasi orisinal. Padahal, kekuatan dakwah dan ideologi Muhammadiyah tak hanya bergantung pada jumlah jamaah, tapi juga pada daya tahan narasi. Narasi yang tidak lahir dari tangan kita, sangat rentan digerus arus wacana luar yang tak sejalan dengan prinsip Al-Ma’un dan tajdid yang menjadi denyut nadi gerakan ini.

Aku tak menyalahkan para kader begitu saja. Sebab lingkungan pendidikan dan budaya organisasi terkadang belum sepenuhnya memberi ruang untuk tumbuhnya ekosistem literasi. Banyak forum masih terjebak pada retorika lisan dan ceremonial tanpa keberlanjutan gagasan dalam bentuk tulisan. Maka, jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan jika kelak generasi kader literat benar-benar hanya tinggal slogan kosong di baliho muktamar.

Solusinya bukan semata menyelenggarakan pelatihan menulis sekali dua kali, lalu berharap kader langsung fasih merangkai kalimat. Solusinya adalah konsistensi budaya, bukan sekadar kegiatan. Misalnya, setiap pengurus PRM, IPM, IMM, hingga ortom lainnya perlu membangun sistem yang mendorong kader menulis rutin—seperti “Ahad Produktif” yang kulakukan pribadi. Budaya literasi hanya bisa lahir dari perulangan, dari pembiasaan, bukan dari instruksi yang temporer.

Tujuanku bukan agar semua kader menjadi sastrawan. Cukup menulis ide, pendapat, refleksi keislaman, atau bahkan pengalaman sederhana dalam berorganisasi. Tugas kita sebagai kader Muhammadiyah adalah membumikan gagasan tauhid dalam semua dimensi kehidupan, dan tulisan adalah alat yang paling abadi untuk itu. Ketika kita menulis, kita tak hanya menyampaikan isi kepala, tetapi juga meneguhkan posisi kita dalam peta perjuangan.

Implementasi dari semua itu bisa dimulai dari lingkup terkecil. Aku memulai dari diriku sendiri. Setiap hari Ahad, kutetapkan satu jam khusus untuk menulis—apa pun. Kadang tentang isu sosial, kadang tafsir ringan atas ayat, kadang refleksi organisasi. Lalu kuterbitkan di media sosial, buletin masjid, atau blog pribadi. Aku juga mendorong teman-teman IPM di rantingku untuk ikut menulis. Kami saling mengulas tulisan satu sama lain—bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk menumbuhkan semangat.

Dari pengalaman itu, aku melihat cahaya harapan. Satu tulisan menular ke tulisan lain. Beberapa teman yang awalnya enggan, mulai mencoba. Bahkan ada yang kini aktif menulis rutin setiap minggu. Saat itulah aku paham, bahwa generasi literat bukanlah mitos—ia hanya menunggu dipantik. Dan pantikan itu bukan tugas orang besar di atas mimbar, tapi bisa dimulai dari siapa saja, termasuk aku, dan kamu.

Namun realitanya, tak semua wilayah Muhammadiyah memiliki kesetaraan akses terhadap fasilitas literasi. Di kota besar, kader bisa menikmati perpustakaan, pelatihan, dan mentor menulis. Tapi di pelosok, jangankan laptop, bahkan jaringan internet pun terbatas. Ini menjadi kesenjangan besar yang harus segera diatasi bila kita sungguh ingin melihat gerakan literasi Muhammadiyah tumbuh merata. Jangan biarkan literasi jadi privilese kota, sementara desa hanya jadi ladang rekrutmen suara.

Kesenjangan lainnya juga muncul dari perbedaan usia. Kader muda lebih dekat dengan dunia digital, tapi belum tentu dibimbing untuk mengelola data dan informasi secara kritis. Sementara kader tua mungkin kaya pengalaman, tapi tidak semua mampu mentransformasikannya menjadi tulisan yang membumi. Maka, perlu ada jembatan antar generasi—sebuah kolaborasi yang saling mengisi: yang muda menulis, yang tua memberi makna.

Menulis bukan soal gaya bahasa atau banyaknya diksi, tapi soal keberanian menyampaikan kebenaran. Maka, ketika hari ini aku menulis esai ini, aku tak sedang menulis karena lomba atau pujian, tapi karena tanggung jawab sebagai kader. Sebab sejarah tidak pernah mengenang mereka yang diam. Sejarah hanya mengenang mereka yang bersuara. Dan aku ingin menjadi bagian dari sejarah itu—bukan hanya sebagai pengikut, tapi sebagai penulisnya.

Jadi, jika ada yang bilang “Generasi Literat Muhammadiyah itu cuma mitos,” aku jawab, “Tidak. Aku ada.” Aku dan ribuan kader lain yang menulis setiap harinya, di Ahad dan di hari-hari lainnya, adalah bukti bahwa gerakan ini hidup—bukan hanya di lisan, tapi juga di tulisan. Karena jika bukan kita yang menulis sejarah Muhammadiyah hari ini, maka generasi mendatang takkan pernah tahu bahwa kita pernah berjuang. (*)

Tinggalkan Balasan

Search