Generasi Qur’ani: Pilar Peradaban Islam yang Dirindukan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Agus Priyadi, S.Pd.I
Anggota KMM PDM Banjarnegara dan Santri Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara

Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup. Al-Qur’an menjadi landasan dalam berpikir, berkata, dan bertindak. Setiap langkah dan geraknya berpijak pada nilai-nilai wahyu yang terjamin kebenarannya. Al-Qur’an adalah panduan yang mengarahkan tujuan hidup, sekaligus cahaya yang menerangi perjalanan hidup menuju kebenaran.

Namun, generasi Qur’ani tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari keluarga-keluarga yang menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak dini. Dari orang tua yang mencintai dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an. Dari lembaga pendidikan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum utama. Dari guru-guru yang membimbing siswa dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Al-Qur’an bukan hanya diyakini dan dibaca, tetapi juga dipelajari, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan indah tanpa makna. Ia adalah sumber energi spiritual yang menata kehidupan penuh kedamaian. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yang hingga hari ini menyimpan rahasia-rahasia agung yang dapat dibuktikan melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia bukan sekadar hiasan atau simbol, melainkan harus diinternalisasikan ke dalam jiwa agar melahirkan pribadi berakhlak mulia.

Perlu dipahami bahwa generasi Qur’ani bukanlah generasi yang hanya berorientasi pada akhirat, tetapi juga aktif membangun kehidupan dunia. Mereka menyelaraskan dunia dan akhirat dengan seimbang, menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam hidup. Mereka meyakini bahwa jika Al-Qur’an dibaca, dipelajari, dan diamalkan, maka ia menjadi kekuatan pembangkit umat dari keterpurukan di berbagai bidang, seperti yang tengah dialami umat Islam hari ini.

Kita menyaksikan bahwa umat Islam kini mengalami kemunduran dan penderitaan, karena belum menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber peradaban. Banyak yang masih silau dan terjebak dalam peradaban Barat yang sekuler, materialistik, dan jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Padahal terbukti, kemajuan Barat tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Di tengah kemewahan dan kemajuan material, masyarakatnya justru kering secara rohani, bahkan banyak yang terjerumus dalam depresi dan kehilangan makna hidup.

Baca juga: Membangun Good University Governance Berlandaskan Al-Qur’an

Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada materi, melainkan pada perjumpaan dengan Allah SWT. Dan untuk mencapainya, umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an. Karena di dalamnya terdapat resep hidup bahagia dunia dan akhirat. Al-Qur’an pula yang menjadi pendorong umat Islam membangun peradaban gemilang selama berabad-abad.

Sejarah telah mencatat bagaimana Rasulullah SAW membina generasi pertama Islam yang tangguh. Generasi yang jiwanya disinari wahyu, yang tidak gentar menghadapi tekanan kaum kafir Quraisy. Al-Qur’an telah mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliah menuju cahaya ilmu dan iman. Mereka berjuang menegakkan kebenaran dengan penuh keberanian dan pengorbanan, yakin akan janji kemuliaan dari Allah SWT.

Mereka bukan menghitung keuntungan duniawi, tetapi menyerahkan jiwa dan raga kepada Allah SWT dengan ikhlas. Bagi mereka, mati di jalan Allah adalah kemuliaan, karena mereka yakin akan memperoleh ganjaran terbaik di sisi-Nya.

Generasi Qur’ani yang dibentuk oleh Rasulullah SAW membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan suci, tapi inspirasi nyata bagi kemajuan. Kemajuan hanya dapat diraih jika umat Islam kembali berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Selama keduanya dijadikan pijakan utama, maka umat ini akan kembali meraih kejayaan, kehormatan, dan kebahagiaan.

Langkah-Langkah Membangun Generasi Qur’ani

Untuk membangun generasi Qur’ani, setidaknya ada dua hal utama yang perlu dilakukan:

1. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Artinya, Al-Qur’an menjadi rujukan utama dalam setiap aspek kehidupan. Setiap langkah, keputusan, dan tindakan dilandasi nilai-nilai Al-Qur’an. Jangan biarkan hidup kita dikendalikan oleh sistem dan aturan buatan manusia yang serba terbatas. Sebab hanya petunjuk dari Allah SWT yang benar-benar membawa kepada keselamatan.

Dalam semua bidang—baik bekerja, berdagang, belajar, bertani, dan sebagainya—kita harus menyesuaikan dengan petunjuk Al-Qur’an. Al-Qur’an harus tertanam kuat dalam hati, menjadi kompas hidup yang tak tergantikan.

2. Membiasakan Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Saat ini, banyak yang melupakan Al-Qur’an. Kitab suci ini hanya menjadi pajangan di rumah, kantor, bahkan masjid. Sementara waktu dan perhatian dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat duniawi: media sosial, hiburan digital, dan rutinitas yang melalaikan.

Padahal hanya dengan menyisihkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca dan merenungi makna Al-Qur’an, hati akan menjadi tenang dan jiwa semakin dekat kepada Allah. Waktu-waktu seperti setelah Subuh, Maghrib, atau Isya bisa menjadi momen emas untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an.

Dengan membiasakan membaca dan mempelajarinya, keyakinan kepada Allah akan semakin kokoh. Hati pun menjadi lapang, emosi terkendali, dan hidup terasa lebih damai.

Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan seremonial. Tanamkan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Ajak anak-anak, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk mencintai, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Karena hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an, akan lahir generasi Qur’ani—generasi yang disayangi oleh Allah, generasi yang membangun peradaban dengan cahaya wahyu. Semoga kita semua termasuk bagian dari generasi itu. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search