Materi komunikasi keinstrukturan menjadi magnet yang menyedot perhatian dalam Pelatihan Instruktur Mubaligh Muhammadiyah Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta pada Kamis (20/2/2025). Kelas ini tidak hanya penuh dengan tawa ger- gerran dan semangat, tetapi juga memberikan energi luar biasa yang membuat peserta aktif terlibat dalam setiap sesi pelatihan.
Kehadiran Ustaz Yusuf Abdul Hasan, yang dikenal sebagai narasumber favorit, semakin menghidupkan suasana. Dengan gaya penyampaian yang khas dan mudah dipahami, Ustaz Yusuf membuat materi yang berat menjadi lebih ringan dan aplikatif.
“Metode yang digunakan dalam pelatihan ini membuat materi lebih mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan dalam prakteknya,” ungkap Ustaz Yusuf saat membuka sesi.

Peserta pelatihan yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia mengaku terkesan dengan pendekatan interaktif yang diterapkan dalam kelas ini. Mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam simulasi dan diskusi yang membangun.
“Semangat belajarnya semakin menyala,” ujar salah satu peserta, dengan antusiasme yang tinggi.
Menurut Ustaz Yusuf, komunikasi keinstrukturan adalah fondasi utama yang harus dikuasai oleh setiap instruktur. Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya diberikan teori, tetapi juga berlatih langsung dalam situasi forum yang dinamis. Teknik komunikasi yang diajarkan disajikan melalui contoh-contoh yang menarik dan mudah diingat, yang diselingi dengan humor dan kisah-kisah inspiratif.
“Humor dan cerita-cerita yang menarik membuat sesi pelatihan ini tidak terasa lama dan justru sangat menyenankan,” tambahnya.
Peserta merasa bahwa pelatihan ini lebih dari sekadar pembelajaran teori. Wifiq Ahyar, peserta asal Lampung, mengungkapkan bahwa pelatihan ini telah mengubah cara pandangnya dalam menguasai forum.
“Tidak membosankan, banyak ilmu yang saya dapatkan, dan saya merasa lebih siap untuk berbicara di depan publik,” ujarnya dengan penuh semangat. Bagi Wifiq, metode penyampaian yang tidak monoton memungkinkan dirinya untuk cepat memahami materi, dan berlatih secara langsung dalam forum memberi pengalaman yang lebih mendalam.
Peserta lain, Nur Ichsan Amin dari Sulawesi Selatan, juga mengakui pentingnya materi yang disampaikan. Ia menyebutkan bahwa materi yang diajarkan sangat relevan dan penting bagi para mubaligh sebagai modal dalam berdakwah.
“Materinya serius, tapi disampaikan dengan gaya yang riang dan penuh semangat,” ungkapnya.
Abi Yehuda, peserta dari Kalimantan Selatan, menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam setiap sesi.
“Peserta itu sebenarnya juga narasumber. Kami bisa saling berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain,” katanya dengan yakin. Menurutnya, pendekatan yang diterapkan dalam pelatihan ini efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri peserta.
Suasana kelas yang terbuka untuk diskusi memungkinkan semua peserta untuk saling berbagi ide dan pengalaman. “Kelas ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat berbagi inspirasi,” kata Abi.
Setiap peserta merasa memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pemikiran mereka secara bebas, yang membuat suasana belajar menjadi semakin menyenangkan dan berkesan.
Ketua Majelis Tabligh Kalsel menambahkan bahwa materi yang disampaikan sangat kaya referensi dan mengandung berbagai pendekatan yang variatif. Salah satu hal yang paling menarik adalah penggunaan kisah-kisah inspiratif dalam penyampaian materi.
“Cerita Harimau mengejar Kancil dan kisah PHP Gajah dan Kambing adalah contoh yang paling seru dan memberikan pelajaran berharga tentang komunikasi yang efektif,” ungkapnya dengan antusias.
Selain itu, para peserta juga mempelajari berbagai model komunikasi yang dapat diterapkan dalam dakwah, seperti Set Introduction, Set Closer, Class Management, Reinforcement, Questioning, dan Exploring. Semua teknik ini disajikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dicerna, memperkaya pengalaman pelatihan.
Pelatihan ini membuktikan bahwa komunikasi keinstrukturan bukan sekadar teori, tetapi keterampilan nyata yang harus dikuasai oleh setiap mubaligh. Keterlibatan aktif para peserta menjadi kunci keberhasilan pelatihan ini. Suasana belajar yang penuh semangat dan antusiasme meningkatkan motivasi para peserta untuk lebih mengasah keterampilan komunikasi mereka dalam berdakwah.
Dengan semangat yang tinggi, para peserta diharapkan dapat membawa ilmu yang didapat dalam pelatihan ini untuk lebih meningkatkan efektivitas dakwah mereka.
“Komunikasi yang efektif adalah kunci dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat. Semakin baik seorang mubaligh dalam berbicara, semakin besar pengaruh yang dapat ia berikan,” ujar Ustadz Yusuf.
Oleh karena itu, pelatihan yang dijadwalkan hinggal Sabtu (22/2/2025) perlu terus dilanjutkan dan dilakukan untuk mencetak generasi mubaligh yang handal dalam berkomunikasi, sehingga dakwah Islam semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi umat.
Dengan energi positif yang didapat dari sesi ini, diharapkan dakwah Islam akan semakin efektif dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. (m. roissudin)
