Menjelang akhir tahun ajaran, guru dan karyawan SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Gadung Surabaya kompak duduk bareng dalam forum rembug untuk satu tujuan: upgrade kualitas aplikasi Gen Q Smart, Sabtu (10/5/2025).
Aplikasi yang sudah berjalan hampir delapan tahun ini bukan aplikasi biasa. Gen Q Smart adalah alat pantau ibadah siswa, guru, dan karyawan. Dalam aplikasi ini, ada 16 konten keislaman yang dilacak, mulai dari salat lima waktu, mengaji harian (ODOP), salat Dhuha, Tahajud, puasa, infaq, literasi Islami, bantu orang tua, hingga olahraga.
“Setiap konten punya poin tersendiri yang nantinya diakumulasi menjadi laporan ibadah siswa,” terang Kepala Sekolah SD Musix, Munahar SHI MPd.
Menariknya, akumulasi poin ini bukan hanya jadi data internal, tapi juga dicetak sebagai “rapor ibadah” dan dibagikan bersama rapor akademik. Baik saat pembagian rapor sisipan maupun semesteran.
Anisa Herawati SPd, Kaur Kurikulum, menambahkan bahwa awalnya skor Gen Q disatukan dalam rapor akademik. Tapi kini, laporan ibadah dibuat terpisah agar lebih fokus dan terstruktur.
Namun, dari hasil rembug bareng ini, terungkap beberapa catatan penting. Meski aplikasi berjalan lancar, hasil rapor Gen Q masih jauh dari kata ideal. Siswa yang mendapat predikat A masih minim.
“Ini karena anak-anak belum rutin update kegiatan ibadah mereka,” ujar Basirun SPd, Kaur Ismuba sekaligus penanggung jawab aplikasi.
Masih kata Basirun, beberapa siswa justru kebalikannya: poinnya overload karena terlalu sering klik konten yang belum diatur durasi waktunya. Dari diskusi itu, muncullah enam temuan penting:
-
Banyak siswa lupa melakukan update.
-
Ada celah: siswa bisa klik konten ibadah kapan saja tanpa batasan waktu.
-
Perlu pengaturan jam aktif (on/off) untuk konten tertentu.
-
Butuh fitur filter berdasarkan gender.
-
Penilaian rapor hanya menampilkan akumulasi, bukan skor tiap konten.
-
Aplikasi belum kompatibel dengan Android versi terbaru.
Menanggapi hal ini, Mas’ud—admin sekaligus developer Gen Q Smart—mengaku senang dan terbantu dengan masukan para guru.
“Semua saran ini akan kami evaluasi dan tindak lanjuti. Tapi kami akan tetap mengacu pada kebutuhan sekolah,” ungkap Mas’ud.
Ke depan, ia menyampaikan bahwa sistem akan lebih disiplin. Setiap konten ibadah akan punya batas waktu klik. Artinya, tak bisa asal pencet. Selain itu, skor rapor juga akan ditampilkan per konten, tidak hanya sebagai jumlah keseluruhan.
“Ini demi melatih kedisiplinan dan kejujuran anak-anak dalam beribadah,” tutup Mas’ud optimistis. (basirun)
