Guru Korban Bencana dan Bahan Ajar Musnah, Tantangan Pendidikan di Aceh Tamiang

Kegiatan trauma healing oleh tim psikososial Umsida pada anak-anak Aceh Tamiang. (ist)
www.majelistabligh.id -

Upaya menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang menghadapi tantangan serius. Meski sekolah darurat telah dibentuk di sejumlah titik terdampak, kondisi guru yang juga menjadi korban bencana serta minimnya bahan ajar membuat proses pembelajaran belum berjalan optimal.

Temuan tersebut berasal dari catatan lapangan Tim Psikososial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang tergabung dalam Tim Tanggap Bencana Muhammadiyah Jawa Timur.  Tim ini sedang melakukan pendampingan di Desa Sunting dan Desa Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Tim bekerja di bawah koordinasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur dan Lazismu Jawa Timur.

Koordinator Tim Psikososial UMSIDA, Eko Hardi Ansyah, mengatakan bahwa pendidikan di wilayah terdampak bencana berada dalam situasi kritis. Jika tidak ditangani secara serius, anak-anak berisiko mengalami ketertinggalan jangka panjang.

“Bencana bukan hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mengancam masa depan anak-anak. Ketika proses belajar terhenti terlalu lama, kita menghadapi risiko munculnya lost generation,” ujar Eko saat ditemui di lokasi pendampingan, pekan ini.

Sekolah Darurat Menjadi Penopang Harapan

Sejak banjir bandang melanda kawasan tersebut, sejumlah sekolah formal mengalami gangguan operasional. Sebagai respons, dibentuklah sekolah darurat dengan memanfaatkan ruang-ruang sementara seperti tenda darurat dan  sekolah meskipun dalam kondisi rusak.

Sekolah darurat ini berfungsi ganda: menjaga keberlanjutan pembelajaran sekaligus menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak. Rutinitas belajar, aktivitas kelompok, bermain edukatif, hingga pendampingan emosional dilakukan untuk membantu anak kembali merasa aman.

Kegiatan trauma healing tim relawan Umsida.
Kegiatan trauma healing tim relawan Umsida.

Menurut Eko, kehadiran sekolah darurat sangat penting karena mampu mempertahankan motivasi belajar anak di tengah situasi krisis.

“Bagi anak-anak korban bencana, sekolah bukan hanya tempat belajar matematika dan bahasa, tetapi juga ruang aman. Di sana mereka bisa kembali tertawa, merasa normal, dan percaya bahwa hidup tetap berjalan,” ujarnya.

Namun, di balik keberadaan sekolah darurat tersebut, terdapat persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian publik: kondisi guru.

Guru Terdampak, Fokus Mengajar Terganggu

Hasil observasi tim psikososial menunjukkan bahwa sebagian besar guru di wilayah terdampak juga merupakan korban langsung banjir bandang. Banyak di antara mereka mengalami kerusakan rumah berat, kehilangan perabotan, hingga kehilangan kebutuhan dasar rumah tangga.

“Beberapa guru kehilangan tempat tinggal, kasur untuk bisa istirahat dengan nyenyak, alat memasak, pakaian, bahkan buku-buku pribadi mereka. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika konsentrasi mereka terpecah antara tanggung jawab profesional dan persoalan keluarga,” kata Eko.

Situasi tersebut berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Guru tetap hadir mengajar, namun secara psikologis belum sepenuhnya pulih. Padahal, dalam situasi darurat, peran guru justru semakin kompleks: tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi figur pendukung emosional bagi siswa.

Buku Musnah, Pembelajaran Kehilangan Arah

Masalah lain yang cukup serius adalah rusak atau hilangnya bahan ajar. Banyak buku paket guru dan siswa tidak terselamatkan karena terendam air atau hanyut terbawa banjir.

Akibatnya, pembelajaran di sekolah darurat kerap berlangsung tanpa struktur yang jelas. Guru mengandalkan ingatan dan improvisasi, sementara siswa tidak memiliki bahan belajar mandiri.

“Tanpa buku, guru kesulitan merancang pembelajaran sistematis. Anak-anak juga tidak bisa mengulang pelajaran di rumah. Dalam jangka panjang, ini berbahaya bagi perkembangan akademik mereka,” jelas Eko.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa meskipun sekolah darurat secara fisik tersedia, kualitas pendidikan yang diberikan masih jauh dari ideal.

Ancaman Lost Generation

Para pemerhati pendidikan menilai bahwa gangguan pendidikan pascabencana dapat berdampak panjang jika tidak ditangani serius. Anak-anak yang terlalu lama kehilangan akses pendidikan berisiko mengalami penurunan motivasi belajar, rendahnya rasa percaya diri, hingga meningkatnya angka putus sekolah.

Dalam konteks Aceh Tamiang, tim psikososial menilai bahwa risiko tersebut nyata jika dukungan terhadap pendidikan darurat tidak diperkuat.

“Kalau pendidikan hanya berjalan seadanya, maka anak-anak tetap tertinggal. Padahal mereka sudah kehilangan banyak hal akibat bencana. Kita tidak boleh membiarkan mereka kehilangan masa depan juga,” tegas Eko.

Rekomendasi Program Pemulihan Pendidikan

Berdasarkan hasil asesmen lapangan, tim psikososial UMSIDA merumuskan sejumlah rekomendasi yang dinilai krusial untuk memperkuat pendidikan di wilayah terdampak.

Pertama, prioritas perbaikan rumah guru terdampak. Stabilitas tempat tinggal dinilai menjadi fondasi penting bagi pemulihan psikologis guru.

Kedua, penyediaan perangkat elektronik dasar untuk kebutuhan rumah tangga guru, seperti alat memasak dan perlengkapan sederhana lainnya, agar guru dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara layak.

Ketiga, penyediaan kasur dan perlengkapan tidur bagi keluarga guru untuk mendukung pemulihan fisik dan mental.

Keempat, pengadaan kembali buku ajar guru, agar pembelajaran dapat kembali terstruktur sesuai kurikulum.

Kelima, pengadaan buku belajar bagi siswa, sehingga anak-anak memiliki pegangan belajar baik di sekolah darurat maupun di rumah.

Menurut Eko, dukungan terhadap guru bukan bentuk keistimewaan, melainkan strategi kunci untuk menyelamatkan pendidikan anak.

“Kalau kita ingin anak-anak bangkit, maka gurunya harus dipulihkan terlebih dahulu. Guru yang kuat secara mental dan hidupnya stabil akan jauh lebih mampu mendampingi murid,” katanya.

Investasi Jangka Panjang

Tim psikososial menegaskan bahwa intervensi di sektor pendidikan pascabencana seharusnya tidak dipandang sebagai bantuan sesaat, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan yang tetap berjalan, guru yang dipulihkan, dan sarana belajar yang tersedia diyakini dapat menjadi benteng utama agar anak-anak korban bencana tidak kehilangan harapan.

“Kita mungkin bisa membangun kembali gedung sekolah dalam hitungan bulan. Tapi membangun kembali semangat anak-anak itu jauh lebih rapuh dan membutuhkan perhatian serius,” ujar Eko.

Pendampingan pendidikan dan psikososial di Desa Sunting dan Desa Serba hingga kini masih terus berlangsung. Tim berharap, perhatian pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat luas terhadap isu pendidikan pascabencana dapat semakin menguat, seiring meningkatnya risiko bencana di berbagai daerah Indonesia.||Tim psikososial Umsida

 

Tinggalkan Balasan

Search