Ustazah sedang bercerita, anak-anak pun memperhatikan. Sesekali mereka tertawa saat ustazah sedang memperagakan gerakan-gerakan kecil dari tema ceritanya. Senda gurau, menggandeng tangan teman di sebelahnya. Ada juga yang menangis kecil karena ingin segera pulang, tetapi ustazah dengan cepat menenangkan.
Itulah suasana di Raudhatul Athfal (RA), sebuah ruang kecil untuk anak-anak, atau balita. Di ruang inilah masa depan Indonesia perlahan dirajut, melalui sentuhan lembut seorang ustazah, kesabaran, dan kasih sayang yang ditanamkan ke dalam hati anak-anak. Sejak dini para ustazah sudah menanamkan arti berteman, arti pendidikan, dan arti kehidupan sosial. Inilah pembentukan karakter pada usia dini.
Pengabdian mereka apakah sudah mendapatkan apresiasi? Inilah pesan yang disampaikan Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, dalam kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PD Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Tangerang Raya, Sabtu (31/01/2026). Romo tidak sekadar berbicara sebagai pejabat negara, melainkan sebagai seseorang yang pernah hidup di dunia pendidikan dan merasakan langsung denyut pengabdian seorang guru.
“Kalau ada profesi yang paling menentukan arah masa depan manusia, setelah orang tua, maka guru RA-lah salah satunya. Sebab pada usia 0 hingga 6 tahun, lebih dari 80 persen perkembangan otak anak dibentuk, bukan hanya oleh apa yang diajarkan, tetapi oleh apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan,” kata Romo Syafi’i.
Dari para guru RA itulah, anak-anak belajar tentang makna perhatian, keteladanan, dan kasih sayang. Di Tangerang Selatan saja, tercatat ada lebih dari 100 RA dengan ratusan guru dan ribuan murid. Angka-angka itu bukan sekadar data administratif, melainkan potret nyata tentang betapa besar amanah yang dipikul para guru RA.
Dari tangan merekalah karakter ribuan anak dibentuk tentang akhlak, cara berpikir, dan cara memandang dunia. Namun pengabdian itu kerap sunyi. Banyak guru RA yang mengajar dengan honor terbatas, namun tetap setia hadir setiap pagi. Mereka tahu, apa yang mereka tanam hari ini mungkin tak langsung terlihat. Tapi mereka percaya, kebaikan selalu menemukan jalannya sendiri.
“Ilmu yang bermanfaat tidak pernah putus pahalanya. Hampir semua guru, terutama guru RA, memiliki jalan menuju surga, selama ilmu yang diajarkan membawa manfaat dan kebaikan”, imbuhnya.
Di tengah tantangan zaman, gawai yang kian mendominasi, anak-anak yang semakin jarang berinteraksi langsung, peran guru RA justru kian berat. Mereka dituntut menjadi jembatan antara dunia digital dan dunia nilai, antara teknologi dan kemanusiaan.
Karena itu, pemerintah menempatkan guru RA sebagai prioritas penguatan pendidikan anak usia dini. Melalui sertifikasi, Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan penguatan organisasi IGRA, negara berupaya hadir lebih nyata di ruang-ruang RA, tempat masa depan Indonesia sedang dibentuk dan dititipkan.
Rakerda PD IGRA Tangerang Raya menjadi ruang silaturahmi, ruang penguatan, sekaligus ruang harapan. Di sana, para guru RA diingatkan bahwa apa yang mereka lakukan hari ini adalah pekerjaan besar, meski berlangsung di dalam ruang kecil.
Karena sejatinya bangsa yang besar selalu dibangun dari awal yang sederhana. Dari tangan-tangan sabar guru RA, dari doa yang lirih namun tulus, dan tempat masa depan Indonesia perlahan dirajut. (*/tim)
