Hadis-Hadis Sekitar Ramadan

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Ramadan adalah bulan suci penuh berkah di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, mendorong umat Muslim meningkatkan ibadah dan sedekah. Momentum ini ditandai dengan semangat beramal saleh, menghindari maksiat, serta puasa wajib untuk meraih ampunan dan ketakwaan.

Bulan Ramadan adalah bulan dimana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan agar mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Selain menjalankan ibadah puasa, terdapat berbagai amalan yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.  Berikut beberapa hadis berkaitan dengan Ramadan:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى 2: 228 و مسلم 1: 524

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR. Bukhari juz 2, hal 228, dan Muslim juz 1, hal. 524]

Hadis ini menegaskan bahwa puasa Ramadan yang dilakukan atas dasar iman (meyakini kewajibannya) dan mengharap pahala (ikhlas/ihtisab) dari Allah, akan menghapus dosa-dosa masa lalu. Ini adalah jaminan ampunan yang bersumber dari riwayat Bukhari (No. 38) dan Muslim (No. 760) dari Abu Hurairah RA.

Berikut poin penting dari hadis tersebut:

  • Keimanan (Imanan): Puasa dilakukan karena percaya kepada Allah, yakin akan kewajibannya, dan membenarkan pahala yang dijanjikan, bukan karena ikut-ikutan atau terpaksa.
  • Mengharap Pahala (Ihtisaban): Puasa dilakukan dengan ikhlas, hanya mengharap rida dan pahala dari Allah Swt, bukan karena mengharap pujian atau alasan duniawi.
  • Keutamaan: Janji ampunan ini mencakup dosa-dosa kecil yang telah lalu.

Sumber Hadis: Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk memaksimalkan ibadah Ramadan dengan niat yang lurus.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى 2: 251

Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bangun (shalat malam) pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 37) dan Muslim (no. 759) dari Abu Hurairah r.a, menegaskan keutamaan shalat tarawih (qiyam Ramadan). Syarat utama untuk mendapatkan ampunan dosa adalah melaksanakan ibadah dengan iman (meyakini kewajiban) dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah).

Poin Penting Hadis:

  • Konteks: Salat malam (tarawih/qiyamul lail) selama bulan Ramadan.
  • Balasan: Diampuni dosa-dosa yang telah lalu.
  • Landasan: Iman (kebenaran) dan Ihtisab (keikhlasan mengharap rida Allah).

Hadis ini merupakan motivasi besar bagi umat Muslim untuk memaksimalkan ibadah malam di bulan suci Ramadan guna meraih ampunan dan keberkahan.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ اِلاَّ الصّيَامَ فَاِنَّهُ لِيْ وَ اَنَا اَجْزِى بِهِ، وَ الصّيَامُ جُنَّةٌ. وَ اِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَ لاَ يَصْخَبْ فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا، اِذَا اَفْطَرَ فَرِحَ وَ اِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. البخارى 2: 228

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman, ”Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau menyerangnya maka hendaklah ia mengatakan, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dari pada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya, yaitu apabila ia berbuka, bergembira karena bukanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, bergembira karena puasanya”. [HR. Bukhari 2 : 228]

Hadis Qudsi riwayat Bukhari 2:228 menegaskan keistimewaan puasa sebagai ibadah khusus untuk Allah yang balasan-Nya langsung dari-Nya. Puasa adalah perisai dari dosa dan neraka, menuntut perilaku tenang (tidak keji/berteriak), menjanjikan aroma mulut harum di sisi Allah, serta membawa dua kebahagiaan: saat berbuka dan saat bertemu Allah.

Poin-Poin Utama Hadis:

  • Ibadah Spesial: “Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya”.
  • Perisai (Junnah): Puasa melindungi dari perbuatan maksiat dan api neraka.
  • Etika Puasa: Dilarang berkata keji, berteriak-teriak, atau mencaci maki. Jika diprovokasi, cukup katakan, “Saya sedang berpuasa”.
  • Keutamaan: Bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada kasturi.
  • Dua Kegembiraan: Kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan saat bertemu Allah (karena puasanya).

Hadis ini menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan ibadah totalitas untuk menahan diri, baik lahir maupun batin.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلصّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَ لاَ يَجْهَلْ وَ اِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ اَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ. وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ وَ شَهْوَتَهُ مِنْ اَجْلِى. اَلصّيَامُ لِى وَ اَنَا اَجْزِى بِهِ وَ اْلحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا. البخارى 2 : 226

Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Puasa itu perisai, maka janganlah ia berkata-kata keji dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau di caci maki oleh seseorang maka katakanlah, ”Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa“. (dua kali). Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”. (Firman Allah), “Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, sedang kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kali lipat”. [HR. Bukhari 2 : 226]

Hadis  tersebut adalah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah r.a. Berikut adalah poin-poin penting kandungan hadis tersebut:

  • Puasa adalah Perisai (Junnah): Puasa berfungsi sebagai perisai yang melindungi seorang Muslim dari perbuatan maksiat di dunia dan dari api neraka di akhirat.
  • Menjaga Lisan dan Perbuatan: Orang yang berpuasa diperintahkan untuk tidak berkata keji (kotor/dusta) dan tidak bertindak bodoh (ribut/mengejek).
  • Adab Menghadapi Provokasi: Jika dicaci maki atau diajak berkelahi, diperintahkan untuk menjawab, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” (diucapkan dua kali) sebagai bentuk kontrol diri dan pengingat.
  • Bau Mulut Orang Berpuasa: Bau tidak sedap dari mulut orang yang berpuasa (akibat penurunan produksi saliva/air liur) dinilai lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Ini menunjukkan apresiasi dan cinta Allah atas ketundukan hamba-Nya.
  • Keistimewaan Pahala: Ibadah puasa adalah khusus untuk Allah karena meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena-Nya, sehingga Allah sendiri yang akan membalasnya tanpa batasan, berlipat ganda dari kebaikan biasanya.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ افْتَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَ اِنّى سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ. احمد. ضعيف لان فى سنده النضر بن شيبان

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Ramadan adalah bulan dimana Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan puasa padanya, dan aku mensunnahkan salat malam untuk kaum muslimin, maka barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka ia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ketika ibunya melahirkannya”. [HR. Ahmad dari ‘Abdurrahman juz 1, hal. 195, dla’if karena dalam sanadnya ada An-Nadlr bin Syaiban]

Hadis tersebut menekankan keutamaan besar bulan Ramadan, di mana puasa diwajibkan oleh Allah dan salat malam (tarawih/qiyamul lail) disunnahkan Rasulullah saw. Puasa dengan iman dan mengharap pahala (ikhtisab) akan menggugurkan dosa-dosa masa lalu, menjadikan seseorang suci seperti bayi yang baru lahir, diampuni dosanya.

  • Kewajiban Puasa: Ramadan adalah bulan yang Allah Azza wa Jalla mewajibkan puasa.
  • Sunah Salat Malam: Rasulullah saw mensunnahkan salat malam (Qiyam Ramadan/Tarawih).
  • Ampunan Dosa: Barangsiapa berpuasa dan salat malam karena iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
  • Derajat Hadis: Hadis tentang keutamaan puasa dan salat malam Ramadan ini disepakati keabsahannya (Muttafaqun Alayhi) atau diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Ramadan adalah bulan suci untuk meraih ampunan, di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search