Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, mengingat kembali pengalamannya saat bergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di masa mudanya dulu. Hal ini diungkapkan saat memberikan amanat dalam Pembukaan Muktamar ke XXIV Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat (6/2/2026).
“Saya saat ini adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tapi saya juga alumni IPM,” kata Haedar Nashir.
Sejarah panjang perjalanan Haedar Nashir dalam bermuhammadiyah khususnya saat di IPM masih teringat jelas di ingatannya. Haedar mengungkap bahwa mengawali masa-masanya di IPM, Haedar bergabung bersama IPM SMA Negeri 10 Bandung pada tahun 1975-1977. Kemudian, setelah bertolak ke Yogyakarta tahun 1980-an, Ia bergabung dengan Pimpinan Wilayah IPM DIY pada tahun 1980-1982 yang kemudian diteruskannya hingga ke PP IPM di tahun 1983-1986.
Haedar menyebut bahwa seluruh ortom (Organisasi Otonom) Muhammadiyah: ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah adalah rumah besar yang mana semuanya melebur jadi satu, menjadi kekuatan besar bernama Persyarikatan Muhammadiyah.
“Kita harus bangga berada dan menjadi penggerak Muhammadiyah. Dalam usia 113 tahun kita telah bergerak di seluruh sudut tanah air, sampai pelosok 3T,” sebut Haedar.
Ia menambahkan, Muhammadiyah terus bergerak dengan membangun sekolah di Melbourne, Australia, Universiti Muhammadiyah Malaysia, markas dakwah di Kairo, dan puluhan PCIM yang sebagian di antaranya telah memiliki badan hukum di negara setempat,” tambahnya.
Tak hanya itu, ribuan sekolah, dan ratusan rumah sakit, klinik dan perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah kini menjelma menjadi raksasa amal usaha yang mampu memakmurkan untuk semua.
“Ada komitmen, ada tanggung jawab, ada kebersamaan yang harus mengikat muktamar ini menjadi muktamar yang berdampak, muktamar yang berjaya, dan muktamar yang memberi maslahat bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa,” tegas Haedar.
Tak jarang dalam salam IPM, kita selalu mendengar kalimat “nuun wal qolami wa maa yasthuruun” yang artinya: Demi Pena dan Apa yang Mereka Tuliskan.
Menyoroti kalimat tersebut, Haedar menjelaskan bahwa kalimat itu merupakan semboyan yang kehadirannya cukup penting untuk menegaskan identitas IPM. “Kalimat Nuun Wal Qolami Wa Maa Yasthuruun”. Nuun yang artinya demi pena, dan apa yang mereka tuliskan memiliki spirit dasar yang luar biasa,” ungkap Haedar.
Haedar mengungkap bahwa Nuun adalah simbol kerahasiaan, membuka setiap ayat yang hanya Allah yang tahu. Dalam spirit bermuhammadiyah diperlukan penanaman jiwa Iman, amal, takwa, dan tauhid yang menjadi landasan utamanya.
“Kemajuan apapun yang kita peroleh, kejayaan apapun yang kita banggakan, akan hampa ketika iman, amal, takwa, dan tauhid lepas dari jiwa pergerakkan kita. Itu adalah nilai utama yang harus kalian jaga,” pesan Haedar.
Haedar juga memberikan pesan bahwa dalam bermuktamar dan menjalankan roda organisasi perlu menegaskan kualitas ilmu, cakapan, keahlian dan jiwa pembaharuan.
“Kalian jangan bertindak, berbuat, berkata, dan bergerak tanpa ilmu. Indonesia emas, Indonesia jaya, akan betul-betul menjadi emas dan menjadi jaya jika ada tradisi ilmu, tradisi berpikir, dan tradisi pembaharuan,” jelas Haedar.
Haedar juga menegaskan bahwa generasi muda di Muhammadiyah adalah Dahlan Muda Pembaharu yang mampu mengguncang dunia, kemudian ia mampu membawa pembaharuan itu untuk menggerakkan Indonesia dan persyarikatan Muhammadiyah.
“Pembaharu ibarat burung rajawali yang selalu terbang tinggi dan tak pernah mencari tempatnya sendiri, yang dia hinggap di setiap tempat untuk mengalirkan api perubahan dan kemajuan umat bangsa dan kemanusiaan semesta. Itulah harapan kami kepada IPM,” kata Haedar.(*/tim)
