Haedar Nashir: Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja!

Haedar Nashir.
www.majelistabligh.id -

Kondisi dunia modern dinilai semakin kehilangan pijakan moral dan kemanusiaan. Genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, serta konflik yang melibatkan sekutu-sekutunya, telah memperlihatkan rapuhnya tatanan peradaban modern Barat.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam siaran pers yang dikirimkan ke media. “Dunia sedang tidak baik-baik saja,” kata Haedar Nashir, Jumat (13/3/2026).

Menurut Haedar, dunia saat ini sedang menghadapi krisis kemanusiaan serius yang tidak mampu dicegah oleh sistem global yang selama ini mengklaim menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyoroti kebengisan genosida yang dilakukan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, bahkan konflik yang belakangan meluas hingga menyeret kawasan lain, termasuk Iran.

Bagi Haedar, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa tatanan dunia modern yang selama ini diklaim menjunjung kemanusiaan telah runtuh.

“Genosida yang dilakukan Zionis Israel kepada bangsa Palestina, termasuk yang akhir-akhir ini terjadi di Iran menjadi bukti bahwa tatanan dunia modern yang pro kemanusiaan luluh lantah,” tegasnya.

Ia menambahkan, semangat kemanusiaan yang berkembang dalam peradaban modern selama ini melahirkan apa yang disebut sebagai humanisme sekuler, sebuah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi nilai dan moralitas. Namun fondasi pemikiran tersebut kini menghadapi kegagalan serius akibat konflik berkepanjangan yang terus terjadi di berbagai belahan dunia.

“Segala paradigma modern terus dibangun seakan-akan tidak pernah dan tidak akan pernah dirobek oleh peristiwa yang sama. Tetapi apa yang terjadi, bahwa sejak satu dekade ini, sejak 1948, dan dalam kurun yang terakhir ini paradigma yang pro humanisme itu nyaris gagal,” tambahnya.

Tatanan Hukum Internasional Lumpuh

Dalam pandangan Haedar, tragedi kemanusiaan yang terjadi saat ini juga menunjukkan kegagalan sistem hukum internasional dalam melindungi kedaulatan negara dan keselamatan manusia. Tata hukum dan moral internasional tampak lumpuh karena tidak mampu menghentikan agresi militer maupun penghancuran kedaulatan negara yang terus berlangsung.

Fenomena ini bahkan dianggap sebagai bentuk baru kolonialisme dalam wajah modern. Haedar menegaskan, perang yang terjadi di berbagai kawasan dunia saat ini memiliki pola yang menyerupai praktik neo-kolonialisme, di mana kekuatan besar memaksakan dominasi terhadap negara lain.

Menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian tersebut, Haedar menyerukan pentingnya persatuan umat Islam di seluruh dunia. Ia menilai solidaritas umat menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan geopolitik yang semakin kompleks.

“Dunia muslim yang berbasis iman ini tentu harus bersaudara, dan ketika ada banyak hal yang membuat mereka bertengkar semestinya mereka islah atau berdamai. Agar mereka memperoleh rahmat Tuhan,” ungkapnya.

Meski pesan persatuan telah ditegaskan dalam Al Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Hujurat ayat 10, Haedar mengakui bahwa implementasinya tidak mudah dalam kehidupan nyata. Ia menilai dinamika politik, kepentingan ekonomi, hingga konflik internal sering kali membuat persatuan umat sulit diwujudkan.

“Banyak sekali lalu lintas kepentingan. Jangankan di level negara, di kelompok ummah saja betapa tak mudahnya merawat kemandirian, persatuan, dan orientasi bersama untuk membangun peradaban Islam,” tuturnya.

Haedar juga mengingatkan, sejarah Islam pernah menunjukkan bagaimana nilai-nilai kosmopolitan mampu membangun peradaban dunia yang maju dan inklusif. Antara abad ke-7 hingga ke-13, Islam tampil sebagai agama pencerahan yang tidak hanya mempersatukan umat, tetapi juga mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban global.

Spirit kosmopolitanisme Islam inilah yang menurut Haedar perlu dihidupkan kembali untuk menjawab krisis kemanusiaan dunia saat ini. Dengan nilai-nilai tersebut, Islam tidak hanya menjadi sumber spiritualitas, tetapi juga kekuatan moral yang mampu menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kemajuan bagi peradaban manusia. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search