Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa meneguhkan kembali peradaban Islam yang maju tak cukup dengan romantisme sejarah kejayaan peradaban Islam masa lalu, tapi dibutuhkan kemandirian, kedaulatan, dan persatuan, serta transformasi berbasis nilai ketauhidan.
“Peradaban Islam memiliki nilai dan pondasi yang kokoh untuk direkonstruksi, akan tetapi tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Tak cukup hanya rekonstruksi, tapi juga transformasi,” kata Haedar Nashir dalam Ceramah Tarawih di Masjid Salman, Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahad (8/3/2026).
Karena itu, lanjutnya, nilai tauhid sebagai dasar umat Islam tidak boleh hanya bersifat normatif. Nilai tauhid yang meliputi iman dan takwa harus dijadikan sebagai nilai hidup (living value) dalam jiwa rasa, pikiran, dan orientasi tindakan.
Ketauhidan murni menurutnya harus menjadikan muslim kuat, baik secara iman, pengetahuan, termasuk penguasaan sains. Diharapkan dengan bekal itu dapat dijadikan sebagai modal untuk mengurus kehidupan dan membangun peradaban.
Membangun peradaban maju, menurut Haedar, membutuhkan transformasi ilmu. Hal ini selaras dengan semangat Islam, sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. “Bukan ilmu fikih semata, tetapi juga sains pada umumnya, termasuk sains kehidupan itu terus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari,” ungkapnya.
Tradisi ilmu perlu digaungkan sampai pada kelompok muslim terkecil – ilmu tidak boleh hanya beredar di elit agama, sehingga tidak ada lagi kelompok muslim yang bertindak tanpa ilmu, hanya reaksioner semata.
“Kaum muslimin tidak cukup berpikir demagog, berpikir serba dogmatis, begitu juga para tokohnya yang bisa membakar semangat jihad tetapi tidak bisa membangun peradaban. Bahkan jihad dalam makna yang luas,” imbuhnya.
Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan muslim untuk membangun peradaban adalah rekonstruksi mentalitas berbasis akhlak. Dalam hal ini, akhlak tak sebatas norma baik atau buruk, tapi akhlak publik.
Kebaikan akhlak atau akhlak mulia tidak boleh hanya berada di dalam masjid, tapi harus hadir pula di ruang-ruang publik. Meski demikian, tak lantas menjadikan seorang muslim itu merasa diri paling suci.
Tanpa Meninggalkan Budaya Luhur
Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menjelaskan, bahwa peradaban itu dibangun di atas kebudayaan luhur yang tinggi. Sebab unsur peradaban Islam tak sekadar hal-hal yang sifatnya ruhaniah, tetapi juga sampai urusan fisik.
Peradaban maju menurutnya membutuhkan tata sistem yang kompleks, mulai dari sistem religi, pengetahuan, kesenian, teknologi, ekonomi, dan seluruh pranata lainnya yang dibutuhkan untuk kehidupan.
Berbagai ketertinggalan Islam saat ini, katanya, harus dikejar dan kejayaan peradaban dapat direbut kembali ke tangan Islam Namun ini tidak bisa dilakukan serta merta, melainkan harus tahap demi tahap.
“Harus dimulai tahap demi tahap. Kita resah dengan keadaan di level nasional maupun global. Kita pandang dunia tidak baik-baik saja, tetapi membangun peradaban tidak boleh berhenti,” ungkapnya. (*/tim)
