Haedar Nashir: Prinsip Ekoteologi Islam, Membangun tanpa Merusak

Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya membangun peradaban berkemajuan melalui perspektif ekoteologi Islam dan kesadaran atas tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

Hal ini disampaikan Haedar secara daring dalam Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” yang digelar di Gedung Ahmad Zaenuri, Universitas Muhammdiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Haedar merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menegaskan bahwa Allah menciptakan segala yang ada di bumi untuk manusia. Ayat tersebut sebagaimana ditafsirkan dalam Tafsir At-Tanwir yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dipahami sebagai pandangan kosmologis Al-Qur’an yang mengandung pesan teologis tentang kehidupan.

“Allah telah menganugerahkan segala yang ada di muka bumi untuk dimanfaatkan. Ini menunjukkan pandangan yang konstruktif dan positif tentang dunia dan kehidupan yang harus dibangun untuk kemajuan dan untuk memakmurkan,” tegas Haedar.

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa umat Islam, terlebih warga Muhammadiyah, tidak hidup untuk menghindari dunia, melainkan menjalankan kehidupan dengan kesadaran atas peran kekhalifahan di muka bumi.

Haedar kemudian merujuk pada Surah Al-Qasas ayat 77 yang memerintahkan manusia untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian di dunia, berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik, serta tidak membuat kerusakan di muka bumi. Prinsip inilah yang menjadi dasar ekoteologi Islam: Membangun tanpa Merusak.

“Bumi dan segala isinya tidak untuk dibiarkan, tetapi untuk menghasilkan kemakmuran. Namun dalam memakmurkan harus dalam koridor konsep keislaman. Bangunlah, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak,” ujarnya.

Momentum Pengajian Ramadan ini, lanjut Haedar, menjadi ajakan bagi seluruh warga Muhammadiyah untuk melihat persoalan lingkungan, ekonomi, politik, dan kebangsaan secara mendalam dan saling terkait.

Ia menekankan bahwa relasi antara masyarakat dan lingkungan harus dibangun dalam suasana islah—memperbaiki, menyempurnakan, dan memulihkan keadaan. Karena itu, dibutuhkan cara pandang yang saling terhubung agar pembangunan bangsa berjalan secara benar dan berkeadaban.

“Antara masyarakat dan lingkungan harus saling mendukung. Kita harus membangun konsep berpikir yang integratif agar mampu membangun Indonesia secara benar,” pungkasnya.

Dengan perspektif ekoteologi yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an, Muhammadiyah diharapkan terus mengambil peran strategis, tidak hanya meluruskan wacana, tetapi juga menghadirkan aksi nyata dalam membangun peradaban yang adil, makmur, lestari, dan berkemajuan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search