Bisa menunaikan ibadah haji di kota suci Makkah adalah nikmat luar biasa yang patut kita syukuri. Sebab, banyak faktor yang memengaruhi keberangkatan haji, dan tidak sedikit pula yang menjadi penghalang dalam memenuhi panggilan Allah tersebut.
Seperti kita ketahui bersama, untuk dapat berhaji dibutuhkan bukan hanya dukungan finansial yang cukup, tetapi juga kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Usia juga menjadi faktor penting, karena ibadah haji melibatkan banyak aktivitas fisik agar ritual yang dijalankan dapat dilakukan secara sempurna.
Meskipun kondisi finansial, kesehatan, dan usia telah memenuhi syarat, kepastian mendapatkan visa haji dari Kerajaan Arab Saudi tetap menjadi penentu utama.
Oleh karena itu, kesempatan berhaji merupakan proses yang memerlukan perhitungan matang terkait waktu, kesiapan finansial, kondisi kesehatan, kepastian administratif, serta kemauan yang kuat. Maka, berhaji secara legal harus menjadi perhatian bersama.
Berhaji bukanlah wisata religi, melainkan panggilan Ilahi yang suci. Niat untuk berhaji harus diluruskan, semata-mata untuk mengharap ridho Allah, bukan demi peningkatan status sosial di masyarakat. Gelar “Abah Haji” atau “Umi Hajjah” tidak boleh menjadi motivasi utama dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini.
Ibadah haji membutuhkan pengorbanan, perjuangan, dan kesabaran. Ritual-ritual yang dijalankan merupakan simbol kemuliaan spiritual, mencerminkan ketangguhan Nabi Ibrahim dalam menghadapi ujian, keikhlasan Ismail sebagai anak saleh dan tercerahkan, serta keteguhan Hajar sebagai perempuan yang konsisten menjaga tauhid.
Rasulullah Muhammad saw sebagai penyempurna risalah Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa istiqamah dalam meneladani mereka.
Menunaikan ibadah haji sejatinya adalah proses transformasi menjadi pribadi yang bertakwa, bukan pribadi yang haus pujian karena telah menunaikan haji.
Transformasi ini mengajarkan banyak pelajaran, menyadarkan diri, dan memberikan hikmah yang seharusnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Meski berat, proses ini harus dijalani dengan tulus. Sebab, hakikat kemabruran haji bukan terletak pada simbol atau gelar, tetapi pada pribadi yang bertauhid, menjauhi kemusyrikan, menjalankan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, dan menunjukkan akhlak mulia yang menjadi teladan.
Transformasi spiritual membawa dampak positif bagi kehidupan. Ia menjadikan keberagamaan seseorang mencerahkan dan menjadi contoh kebaikan. Ibadah bukan hanya ritual, melainkan juga perubahan sikap dan perilaku yang bermakna dalam kehidupan nyata.
Transformasi sosial pun terjadi ketika aktivitas kehidupan menjadi inklusif, berorientasi pada penguatan ukhuwah, penghilangan permusuhan, memupuk semangat saling memaafkan, dan peduli untuk berbagi kepada sesama.
Kemabruran haji merupakan buah dari transformasi kehidupan yang hakiki. Haji yang diterima Allah SWT adalah bentuk keberhasilan dalam meraih kemuliaan hidup, bukan kamuflase dalam balutan simbol semata.
Kemabruran haji harus senantiasa dijaga dan dipelihara agar tetap nyata dalam keseharian. Maka, jagalah hati untuk terus menyempurnakan keikhlasan dan mengharap ridho Ilahi. Jauhilah iri dan dengki yang dapat merusak kemuliaan diri. Hiasi hati dengan rasa syukur agar hidup dipenuhi kebahagiaan, bukan permusuhan yang membawa kehancuran.
Jagalah lisan, karena lisan yang tidak terjaga dapat menimbulkan kerusakan besar. Ujaran sombong, kebencian, dan kebohongan bisa merusak nilai kemabruran haji. Sebaliknya, lisan yang dijaga akan memancarkan kedamaian. Haji yang mabrur memiliki lisan yang dipenuhi dzikir dan kejujuran.
Jagalah aksi, agar perbuatan kita senantiasa bermakna dan bermanfaat. Kemabruran haji mendidik kita untuk senantiasa berbuat kebaikan, bukan mengulangi kesalahan.
Aksi kepedulian seperti dalam ibadah qurban menunjukkan ketakwaan yang nyata—dari harta yang halal, kita membeli hewan qurban untuk diberikan kepada sesama. Ini adalah wujud nyata bahwa kemabruran berdampak pada keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan hidup bersama.
Hindarilah aksi yang destruktif, arogan, dan tidak bertanggung jawab. Sebab, tindakan semacam itu hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan. Sebaliknya, haji yang mabrur adalah yang paling terdepan dalam melakukan aksi-aksi konstruktif yang membawa perubahan.
Kemabruran haji akan membentuk pribadi yang berperilaku penuh arti, dengan satu tujuan utama: meraih ridho Ilahi. (*)
